Belajar Tentang Antibiotik

Sekitar tahun 70 hingga 90-an, antibiotik (AB) masih dianggap sebagai obat dewa. Saya ingat zaman saya kecil, tiap ke dokter pasti salah satu obat di dalam resepnya adalah antibiotik. Seperti tidak mungkin sembuh kalau obatnya bukan AB. Mungkin kalau dokter tidak memberikan AB, pasien yang keukeuh minta diresepin. Sampai awal  2006 saat saya bepergian sama Darris ke Jakarta dan Semarang (waktu itu kami masih tinggal di Surabaya), Darris sakit batuk, pilek, dan demam di Jakarta obatnya masih antibiotik. Spektrum luas pun. Sayangnya pemahaman saya masih sepotong-sepotong waktu itu. Tahu bahwa AB spektrum luas tidak seharusnya diberikan, apalagi ‘hanya’ untuk batuk pilek. Tapi tidak sepenuhnya tahu kenapa dan bagaimana tatalaksana demam + batpil tanpa obat, apalagi AB.

Merunut dari asalnya, AB adalah sejenis jamur yang dapat menghambat berkembangbiaknya bakteri. AB yang pertama ini dinamakan penisilin. Seiring waktu dan perkembangan teknologi, AB sekarang ada bermacam-macam jenisnya. Berdasarkan daya ‘basmi’nya AB dibagi menjadi spektrum luas dan sempit (broad and narrow spectrum). AB spektrum luas bisa membunuh lebih banyak macam bakteri, tapi sayangnya juga sekaligus membasmi flora baik dalam usus yang membantu pertahanan tubuh. Sementara AB spektrum sempit lebih terfokus macam bakteri yang bisa dibasmi, tapi efeknya terhadap tentara tubuh juga lebih minimal.

Terbasminya flora tubuh juga membuat jamur seperti candida albicans yang sehari-harinya merupakan penghuni tetap usus kita jadi tidak terkontrol perkembangannya dan menimbulkan masalah baru di pencernaan. Gejala yang tampak biasanya adalah diare dan dalam jangka panjang perlahan-lahan daya tahan tubuh menurun. Saya pernah baca bahwa 1 hari peresepan AB = 5 hari penurunan daya tahan. Itu rupanya yang menjadi sebab kalau sering diresepkan AB maka dalam kurun waktu sebulan, sakit akan berulang. Apalagi pada anak-anak yang tanpa paparan AB pun memang ada “jadwal latihan membentuk antibodi” sekitar 8-12x tiap tahun sebelum usia 5 tahun (saya ngga suka istilah ‘sakit’ kalo anak sedang dicolek virus :D) .

Anggapan bahwa AB sebagai obat dari segala penyakit ternyata salah. AB hanya mempan pada bakteri, sebagai mana anti-fungal hanya bekerja pada jamur, dan antiparasit pada parasit. Tidak tahu dari mana awal mulanya AB mulai dipakai sebagai obat-segala-penyakit termasuk virus. Padahal jelas, AB tidak mempan untuk virus. Virus hanya dapat dikalahkan oleh daya tahan tubuh.

Memang, kadang penyakit seperti flu bisa ditumpangi bakteri berkembang jadi komplikasi yang perlu dilawan AB. Misalnya pada kasus radang tenggorokan yang disebabkan bakteri streptococcus (strep throat), dan pneumonia (radang paru). Tapi kemungkinan ini makin hari makin mengecil karena faktor lingkungan, gizi, kebersihan, dan sanitasi yang membaik. Sementara penggunaan AB yang tidak pada tempatnya malah makin hari makin meningkat. Kecepatan mutasi bakteri yang dipicu penggunaan AB secara sembarangan tidak sebanding dengan kecepatan penelitian dan produksi jenis AB baru. Sehingga makin banyak bakteri yang bermutasi menjadi lebih kuat dan beberapa sudah masuk dalam level resistan terhadap semua AB yang ada sekarang ini. Contohnya methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), vancomycin-resistant enterococci (VRE), dan Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan extended-spectrum betalactamase (ESBL). Jika hal ini terus berlanjut, maka AB tidak lagi memberi efek antibakteri yang optimal, sehingga tidak lama lagi banyak penyakit infeksi yang tidak dapat disembuhkan.

Kebayang kan kalau sedari kecil sudah kenyang AB, makin dewasa dosis makin meningkat, dan jenis juga makin kompleks karena bakteri di lingkungan orang tersebut sudah bermutasi sehingga AB yang simpel sudah tidak mempan. Pada titik tertentu, sudah tidak ada lagi obat yang bisa diminum.
Tidak hanya bakteri di tubuh orang tersebut yang bermutasi, tapi lingkungan sekitarnya juga terpengaruh. Jadi misalnya di TK anak kita ada anak yang tiap sakit sedikit minum AB, maka anak kita pun ikut susah payah bertahan dari bakteri yang sudah termutasi. Untungnya kalau anak terlatih untuk bertahan melawan penyakit dengan semakin sedikit intervensi obat (baik AB maupun sekedar penurun demam), makin lama daya tahannya juga makin bagus. Ini berlaku untuk orang dewasa juga. Di sini ada sedikit cerita tentang “melatih daya tahan tubuh” lihat paragraf 4.

Baru-baru ini keprihatinan akan meluasnya penggunaan AB yang tidak tepat mulai banyak disuarakan. Dari WHO sampai ke Kementerian Kesehatan RI. Penggunaan AB mulai diatur tatalaksananya. Melalui sosialisasi dari Dirjen BINA KEFARMASIAN & ALAT KESEHATAN, Menteri Kesehatan menetapkan:

Penggunaan AB Secara Bijak (Prudent Use of Antibiotic)
  • Tepat Indikasi
  • Tepat Penderita
  • Tepat Obat
  • Tepat Dosis – Lama Pemberian Obat
  • Waspada Efek Samping
  • Pemberian Informasi yang Jelas
  • Evaluasi
Memang tidak tepat jika kita sama sekali menolak menggunakan AB, karena jenis-jenis penyakit tertentu memang obatnya harus AB. Misalnya infeksi saluran kemih, infeksi telinga, pneumonia, TBC, dll. Tapi pastikan terlebih dahulu diagnosanya, pastikan penyakitnya baru meresepkan AB. Jangan sampai pasien belum jelas sakitnya apa penyebabnya apa sudah harus minum AB. Pasien juga harus tanggap dan kritis. Bila tahu-tahu diresepkan AB sementara diagnosa masih belum jelas, mintalah rujukan untuk melakukan tes laboratorium supaya jelas sakitnya dan penyebabnya apa. Karena dari situ baru bisa ditentukan jenis AB yang mana yang diperlukan.

Pada kasus tertentu AB berlaku sebagai profilaksis, yaitu “tindakan yang diambil untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit”. Ini umumnya digunakan pada persiapan pra-operasi dengan risiko infeksi yang tinggi termasuk operasi gigi.
Rekomendasi dosis untuk profilaksis pembedahan bervariasi. Awalnya, antibiotik profilaksis diberikan kepada pasien sudah akan masuk ruang bedah, dan dilanjutkan selama 48 jam setelah pembedahan. Riset terkini memberikan indikasi bahwa dosis tunggal AB yang diberikan segera sebelum pembedahan dimulai sama efektifnya dalam mencegah infeksi, namun disisi lain, masa konsumsi yang dipersingkat ini mengurangi resiko resistensi.
Selain dari kasus di atas, AB seharusnya hanya diberikan jika telah diketahui penyebab penyakit, atau setidaknya ada gejala-gejala klinis yang jelas sebagai indikasi kuat terjadinya infeksi.


The first rule of antibiotics is try not to use them, and the second rule is try not to use too many of them.
—Paul L. Marino, The ICU Book



sumber:


gambar diambil dari sini dan sini

 


91 Comments - Write a Comment

Post Comment