Belajar Tentang Antibiotik

by: - Thursday, April 7th, 2011 at 8:00 am

In: Featured Health 90 responses

0 share

Sekitar tahun 70 hingga 90-an, antibiotik (AB) masih dianggap sebagai obat dewa. Saya ingat zaman saya kecil, tiap ke dokter pasti salah satu obat di dalam resepnya adalah antibiotik. Seperti tidak mungkin sembuh kalau obatnya bukan AB. Mungkin kalau dokter tidak memberikan AB, pasien yang keukeuh minta diresepin. Sampai awal  2006 saat saya bepergian sama Darris ke Jakarta dan Semarang (waktu itu kami masih tinggal di Surabaya), Darris sakit batuk, pilek, dan demam di Jakarta obatnya masih antibiotik. Spektrum luas pun. Sayangnya pemahaman saya masih sepotong-sepotong waktu itu. Tahu bahwa AB spektrum luas tidak seharusnya diberikan, apalagi ‘hanya’ untuk batuk pilek. Tapi tidak sepenuhnya tahu kenapa dan bagaimana tatalaksana demam + batpil tanpa obat, apalagi AB.

Merunut dari asalnya, AB adalah sejenis jamur yang dapat menghambat berkembangbiaknya bakteri. AB yang pertama ini dinamakan penisilin. Seiring waktu dan perkembangan teknologi, AB sekarang ada bermacam-macam jenisnya. Berdasarkan daya ‘basmi’nya AB dibagi menjadi spektrum luas dan sempit (broad and narrow spectrum). AB spektrum luas bisa membunuh lebih banyak macam bakteri, tapi sayangnya juga sekaligus membasmi flora baik dalam usus yang membantu pertahanan tubuh. Sementara AB spektrum sempit lebih terfokus macam bakteri yang bisa dibasmi, tapi efeknya terhadap tentara tubuh juga lebih minimal.

Terbasminya flora tubuh juga membuat jamur seperti candida albicans yang sehari-harinya merupakan penghuni tetap usus kita jadi tidak terkontrol perkembangannya dan menimbulkan masalah baru di pencernaan. Gejala yang tampak biasanya adalah diare dan dalam jangka panjang perlahan-lahan daya tahan tubuh menurun. Saya pernah baca bahwa 1 hari peresepan AB = 5 hari penurunan daya tahan. Itu rupanya yang menjadi sebab kalau sering diresepkan AB maka dalam kurun waktu sebulan, sakit akan berulang. Apalagi pada anak-anak yang tanpa paparan AB pun memang ada “jadwal latihan membentuk antibodi” sekitar 8-12x tiap tahun sebelum usia 5 tahun (saya ngga suka istilah ‘sakit’ kalo anak sedang dicolek virus :D) .

Anggapan bahwa AB sebagai obat dari segala penyakit ternyata salah. AB hanya mempan pada bakteri, sebagai mana anti-fungal hanya bekerja pada jamur, dan antiparasit pada parasit. Tidak tahu dari mana awal mulanya AB mulai dipakai sebagai obat-segala-penyakit termasuk virus. Padahal jelas, AB tidak mempan untuk virus. Virus hanya dapat dikalahkan oleh daya tahan tubuh.

Memang, kadang penyakit seperti flu bisa ditumpangi bakteri berkembang jadi komplikasi yang perlu dilawan AB. Misalnya pada kasus radang tenggorokan yang disebabkan bakteri streptococcus (strep throat), dan pneumonia (radang paru). Tapi kemungkinan ini makin hari makin mengecil karena faktor lingkungan, gizi, kebersihan, dan sanitasi yang membaik. Sementara penggunaan AB yang tidak pada tempatnya malah makin hari makin meningkat. Kecepatan mutasi bakteri yang dipicu penggunaan AB secara sembarangan tidak sebanding dengan kecepatan penelitian dan produksi jenis AB baru. Sehingga makin banyak bakteri yang bermutasi menjadi lebih kuat dan beberapa sudah masuk dalam level resistan terhadap semua AB yang ada sekarang ini. Contohnya methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), vancomycin-resistant enterococci (VRE), dan Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan extended-spectrum betalactamase (ESBL). Jika hal ini terus berlanjut, maka AB tidak lagi memberi efek antibakteri yang optimal, sehingga tidak lama lagi banyak penyakit infeksi yang tidak dapat disembuhkan.

Kebayang kan kalau sedari kecil sudah kenyang AB, makin dewasa dosis makin meningkat, dan jenis juga makin kompleks karena bakteri di lingkungan orang tersebut sudah bermutasi sehingga AB yang simpel sudah tidak mempan. Pada titik tertentu, sudah tidak ada lagi obat yang bisa diminum.
Tidak hanya bakteri di tubuh orang tersebut yang bermutasi, tapi lingkungan sekitarnya juga terpengaruh. Jadi misalnya di TK anak kita ada anak yang tiap sakit sedikit minum AB, maka anak kita pun ikut susah payah bertahan dari bakteri yang sudah termutasi. Untungnya kalau anak terlatih untuk bertahan melawan penyakit dengan semakin sedikit intervensi obat (baik AB maupun sekedar penurun demam), makin lama daya tahannya juga makin bagus. Ini berlaku untuk orang dewasa juga. Di sini ada sedikit cerita tentang “melatih daya tahan tubuh” lihat paragraf 4.

Baru-baru ini keprihatinan akan meluasnya penggunaan AB yang tidak tepat mulai banyak disuarakan. Dari WHO sampai ke Kementerian Kesehatan RI. Penggunaan AB mulai diatur tatalaksananya. Melalui sosialisasi dari Dirjen BINA KEFARMASIAN & ALAT KESEHATAN, Menteri Kesehatan menetapkan:

Penggunaan AB Secara Bijak (Prudent Use of Antibiotic)
  • Tepat Indikasi
  • Tepat Penderita
  • Tepat Obat
  • Tepat Dosis – Lama Pemberian Obat
  • Waspada Efek Samping
  • Pemberian Informasi yang Jelas
  • Evaluasi
Memang tidak tepat jika kita sama sekali menolak menggunakan AB, karena jenis-jenis penyakit tertentu memang obatnya harus AB. Misalnya infeksi saluran kemih, infeksi telinga, pneumonia, TBC, dll. Tapi pastikan terlebih dahulu diagnosanya, pastikan penyakitnya baru meresepkan AB. Jangan sampai pasien belum jelas sakitnya apa penyebabnya apa sudah harus minum AB. Pasien juga harus tanggap dan kritis. Bila tahu-tahu diresepkan AB sementara diagnosa masih belum jelas, mintalah rujukan untuk melakukan tes laboratorium supaya jelas sakitnya dan penyebabnya apa. Karena dari situ baru bisa ditentukan jenis AB yang mana yang diperlukan.

Pada kasus tertentu AB berlaku sebagai profilaksis, yaitu “tindakan yang diambil untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit”. Ini umumnya digunakan pada persiapan pra-operasi dengan risiko infeksi yang tinggi termasuk operasi gigi.
Rekomendasi dosis untuk profilaksis pembedahan bervariasi. Awalnya, antibiotik profilaksis diberikan kepada pasien sudah akan masuk ruang bedah, dan dilanjutkan selama 48 jam setelah pembedahan. Riset terkini memberikan indikasi bahwa dosis tunggal AB yang diberikan segera sebelum pembedahan dimulai sama efektifnya dalam mencegah infeksi, namun disisi lain, masa konsumsi yang dipersingkat ini mengurangi resiko resistensi.
Selain dari kasus di atas, AB seharusnya hanya diberikan jika telah diketahui penyebab penyakit, atau setidaknya ada gejala-gejala klinis yang jelas sebagai indikasi kuat terjadinya infeksi.


The first rule of antibiotics is try not to use them, and the second rule is try not to use too many of them.
—Paul L. Marino, The ICU Book



sumber:


gambar diambil dari sini dan sini

 

Share this story:

Recommended for you:

90 thoughts on “Belajar Tentang Antibiotik

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: dr. SpOG
  3. Pingback: Arry Susana Dewi
  4. Pingback: lita iqtianti
  5. Pingback: Ingkan Simanjuntak
  6. Pingback: poppy gunariadi
  7. Pingback: isma
  8. Pingback: qorrie nurulqisthi
  9. Pingback: Mommies Daily
  10. Pingback: FK UNPAD 2007
  11. Pingback: Hanifa Ambadar
  12. Pingback: mom
  13. Pingback: mawarsari budhyono
  14. Pingback: dini wiradinata
  15. Pingback: adlin napitupulu
  16. Pingback: Franzeska Lesmana
  17. Pingback: Wina Wibisono
  18. Pingback: sophia jenny laura
  19. Pingback: sophia jenny laura
  20. Pingback: Fardiah Maricar
  21. Pingback: kristina utari
  22. Pingback: Nenni Marsetiawan
  23. Pingback: Evy Safitri
  24. Pingback: Rezki Primaswastya
  25. Pingback: Yunita R
  26. Pingback: chiko tivani
  27. Pingback: Mommies Daily
  28. Pingback: Alyah_ZIE
  29. Pingback: kurniati m ningrum
  30. bagus banget mak! seperti biasa, tulisan lo tentang kesehatan sangat informatif tapi snagat mudah dicerna. Thanks alot yaw :) Semoga dibaca sama lebih banyak orangtua, demi kesehatan anaknya..

    1. aawww, tenkiu yaa..
      eh Ta ini bukan buat anak doang sih. kita2 jg klo tadinya ngga ngeh tiap2 ke dokter selalu kudu nenggak AB, mesti mulai ngurangi dan mengkritisi si dokter biar sama2 rasional ngobatinnya.

    1. makasih jeng :)

      iya, memang pertama mesti liat kondisi klinisnya gimana. misalnya kalo cuma batpil + demam tanpa ada gejala klinis tambahan, cukup langsung home treatment aja. ke dokterpun sifatnya cuma konsul.

      disini tes darah maksudnya lebih ke kepastian penyakit & penyebabnya. terutama yang gejala2nya nyaru. supaya jelas treatmentnya harus gimana.

      dan mungkin lebih disarankan ke laboratorium yang terpercaya untuk tes labnya kali ya :)

  31. Pingback: cheertin
  32. Soal Antibiotik ini, awalnya sempet bingung juga ngga mungkin kan dokter yg notabene udah nuntut ilmunya selama bertahun-tahun dibangku kuliah (apalagi dokter-dokter spesialis) ngga tau tentang teori AB kayak yg ditulis mba Kirana ini, tp msh byk aja tuh yg ngeresepin AB, papa mertua aja yg dokter spesialis sering nyuruh ngasih AB ke anak2 kalo mereka udah batpil yg kelewat lama (pdhl biasa si virus ping-pong antara kakak adek) akhirnya iseng nanya ke adek yg dokter gigi dan adek ipar yg lg kuliah kedokteran umum, secara teori mereka meng-iya kan bahwa AB ngga bekerja terhadap virus tp ada catatat tambahan nih tentang kegunaan AB yg mereka pelajari di bangku kuliah, yaitu “mempercepat interval penyembuhan” dueeeenggg…..apa bener teorinya begitu atau kebetulan aja mereka dapet dosen yg sekaligus dokter yg IRUM, padahal mereka kuliah di universitas yg berbeda lohhh, jd ya ngga heran deh kalo dokter2 doyan ngeresepin AB walaupun sebenernya ngga butuh AB :(

  33. Saya malah pernah dimarahi oleh dokter, ketika saya bilang “kalau belum parah, jangan pake antibiotik ya dok” Dokternya jawab “Saya sudah praktek 34 tahun. Kamu kan orang berpendidikan, kenapa kamu takut sama obat?! justru orang tidak berpendidikan yang takut sama obat.”

    Jadi bingung nih….mana sekarang anak lagi ping pong an batuk pilek :(

    1. klo saya akan langsung ganti dokter mom :D apalagi kalimatnya ngejudge gitu.
      soalnya dokter seperti itu ngga bisa diajak komunikasi untuk sama2 menentukan treatment yg tepat.
      milih dokter, nomer 1 komunikasi. klo tipe yg priksa membisu trs langsung tulis resep n pasien dipersilakan keluar, udah pasti saya ga datengin lagi.

      kita jg harus tau, ada gejala apa, kira2 kenapa, efeknya apa dst. disambung ke pilihan treatment apa aja.
      betul, treatment itu pilihan lho. pasien ga harus makan obat persis seperti apa yg disuruh dokter. itu bisa didiskusikan jg.

      kalo saya, begitu paham konsep RUM (rational use of medicine), saya yg ajak ngomong dokternya (dokter saya memang tipe mau diskusi). dari situ, dokter yg sebenernya ngga terlalu RUM, klo ama saya jd RUM :D
      jd sebetulnya ga perlu cari dokter RUM, cukup dokter yg mau dan bagus komunikasinya :)

  34. Pingback: Hasty widyastari
  35. Mba Kir…udah baca link nya, kalo disini mah belom pernah tuh pulang konsul ngga bawa oleh-oleh resep dari dokternya, padahal ke dokter juga maksudnya formalitas doang, biar oma opa dan eyang nya anak2 ngga ribut lagi….*curcol*

  36. terus terang gw dokter umum.
    Mnrtku aq setuju dgn tulisan diatas. Wong anak gw aja gak tak kasih antibiotik sembarangan.
    Tapi kalo dah berurusan dgn pasien malah gw bingung. Kadang2 ada kasus dmn pasien tdk aq ksh antibiotik. Jd pas tidak gw ksh antibiotik, malah kadang pasienku ada yg protes. Pdhal gak seluruh penyakit perlu ab.
    Kalo dah berurusan dgn kemauan ‘pelanggan’ biasanya aq nyerah aja. Kalo ada resiko kan dia yg nanggung, ya nggak….

    1. kalo sekalian diedukasi bisa ga jeng? jd diterangin AB itu sebenernya apa, buat apa, efeknya apa, dst. dari situ klo emg tetep kekeh baru terserah. lha kalo ngga tau dan kita yg tau ngga jelasin kan kasian..
      lagipula jeng kan dokter, lebih didengerin biasanya ketimbang kayak saya yg diliat org cuman emak2 anak 3. suka ngenes kalo nerangin ttg RUM ato ASI ke org sekitar :( *lah jd curcol :p*

  37. Dear mba Kir,
    Aku setuju sekali konsep mengenai RUM. Kebetulan aku pernah tinggal agak lama diluar, dan memang ada perbedaan budaya dimana setiap aku sakit apapun disana, tidak pernah diresepkan obat oleh dokternya (kadang termasuk obat2 symptomatis/flu). Yang ada, mereka educate pasiennya, seperti contoh flu yang obatnya hanyalah tidur, minum yang banyak, makan2an berkuah, dan banyak pelukan dari keluarga.
    Ternyata dokter-dokter di Oz ini dikontrol oleh depkesnya untuk setiap penjualan AB. Mereka akan di usut apabila sudah menjual AB dengan angka yang dianggap “besar”.
    Info yang aku dapatkan negara berkembang seperti Bangladesh pun sudah di kontrol untuk penjualan AB dan obat2 symptomatis lainnya.

    Sayangnya, di Indonesia masih banyak sekali para dokter yang beranggapan bahwa mereka “lebih tau” daripada pasiennya, sehingga banyak sekali dokter yang tidak bisa diajak diskusi.
    Dokter-dokter ini masih terpressure oleh teman dokter lainnya yang masih menjual AB, sehingga mereka takut “kehilangan” pasien. Mereka takut “dimarahi” pasiennya karena tidak meresepkan apa-apa, walaupun banyak dari mereka yang sudah cukup aware tentang AB.
    Mungkin disini ada permainan market dari produk AB juga, apabila sang dokter berhasil menjual sekian jumlah AB, mereka akan mendapatkan “komisi” dari produk2 obat tsb (info ini aku dapat dari temanku yang omnya dokter).
    Harapanku adalah kita bisa membangun Indonesia dan pasien yang pintar. Kita sama-sama mengedukasi pasien dan dokter (dan tetap menghargai dokter karena memang ilmu mereka lebih tinggi dari kita pasien awam). Amin YRA.

    1. iya mbak…kayaknya yg bisa dilakukan sekarang memang mengedukasi pasien sih. walo nampaknya gak gampang jg. saya pernah soalnya mau ajak teman diskusi ttg RUM, tapi ditolak krn lebih percaya pd dokter senior langganannya :(

  38. Pingback: Titis Adinda
  39. Pingback: ashee
  40. jangankan antibiotik, klo anak sy panas pun, gw slalu bertahan tdk meminumkannya obat penurun panas. Bukannya ga berusaha jg utk nyehatin anak, tp tiap hari anakku hrs minum campuran Teh hijau + madu + jeruk peras. Apalagi pas ketika dia sakit panas, ramuan itu kubuat dua kali dlm sehari, alhamdulillah panasnya turun esok harinya dia sehat kembal, utk tau saking hebatnya madu klo dicampur teh (apalg teh hijau moms) buka deh http://hutantropis.com/campuran-madu-dan-teh-bisa-membunuh-bakteri. Dan moms, semenjak aku minumin ‘ramuan’ ini ke anak n suami, mereka emang jd jarang sakit, pdhl suamiku dulu langganan sakit tenggorokan n flu min. 2 bln skali sakit, tp skrg klo flu jarang bgt bs 6 blnan baru flu, tp itu jg paling sehari aj. Kimi jg dulu langganan batuk n sesak napas, skrg udah jarang sakit, bulan lalu aj dia smpet ketularan cacar aer dr sodarany, tp ajaibnya ga pake acara panas, tiba2 tu cacar aer muncul aj di tubuhnya, dianya mah sehat2 aj. Sekian sharingnya ^^

  41. Pingback: Mommies Daily
  42. Pingback: Meralda Suhud
  43. Pingback: Ranti
  44. Pingback: erliza oktivira
  45. Pingback: aina
  46. Pingback: Gita Puspitasari
  47. Pingback: Titis Adinda
  48. Pingback: AdiNala
  49. Pingback: ummu Fahd
  50. Pingback: ummu Fahd
  51. Pingback: nananana
  52. Pingback: Mommies Daily
  53. Pingback: Intan NingTyas
  54. Pingback: alia fatma
  55. Pingback: heleni faeriati
  56. Pingback: alia fatma
  57. Pingback: Anissa Hanoum
  58. Pingback: Tenia
  59. Pingback: kurniati rahman
  60. Pingback: teti novitasari
  61. Pingback: V Dyah Astuti
  62. Pingback: Ayu Dwi Lesmana
  63. Pingback: Tri Anugrah
  64. Pingback: Ade Putik
  65. Pingback: Milla Devianti
  66. Pingback: Dewi Mooy Wangke
  67. Pingback: Prastiwi Raharjo

Leave a Reply