Belajar Musik di Yamaha Music School

by: - Wednesday, March 23rd, 2011 at 8:00 am

In: Books / Movies / TVshow / Music / Web Kids 18 responses

0 share

Waktu anak pertama saya, Keko, umurnya menginjak tahun ketiga, saya mulai mencari tempat les musik yang bisa menerima Keko. Setelah survey, hanya Yamaha yang mempunyai kelas untuk usia 3 tahun. Kebetulan saya tinggal di daerah Jatibening dan yang paling dekat adalah Nuansa Musik Kalimalang. Nama kelasnya Wonderland dan programnya dirancang untuk  40x pertemuan dalam setahun. Untuk setiap sesinya, si anak harus ditemani orang dewasa (mama/papa/pengasuh/nenek atau siapapun tapi tidak disarankan untuk gonta-ganti pendamping). Biayanya:

  • Rp 310,000/bulan, seminggu 1x dan sekali pertemuan 50 menit.
  • Rp 400,000 untuk buku modul

Nah, di kelas Wonderland ini, anak-anak dikenalkan dengan nada-nada sambil bernyanyi yang ditambah denga gerakan yang menyenangkan dari gurunya. Materi awal yang diajarkan kurang lebih membedakan bunyi drum besar dan drum kecil, menepuk tangan sesuai dengan nada, membuat suara/bunyi gajah jalan, semut, dll. Yang pasti anak-anak terlihat senang dan antusias sekali karena setiap pertemuan selalu ada lagu baru yang dikenalkan, jadi tidak monoton. Anak-anak juga selalu diber stiker sebagai reward supaya semakin semangat. Di akhir tahun, anak-anak mulai memainkan electone walaupun hanya sedikit. Ini supaya tidak kaget ketika melanjutkan ke kelas Junior Music Course (JMC) 1.

Selesai Wonderland selama 1 tahun, anakku mulai masuk kelas JMC 1. JMC sendiri ada sampai JMC 4. Setiap tingkat programnya 6 bulan. Jadi kalau ditotal, butuh waktu 2 tahun untuk bisa menyelesaikan JMC4.. Nah, untuk JMC 1, ini biayanya:

  • Rp 350,000 untuk 20x pertemuan. Seminggu 1x dan setiap pertemuan 60 menit.
  • Rp 400,000 untuk buku modul.
  • Setiap naik tingkat, biaya naik sekitar Rp 5000 – Rp 10,000 dan bukunya juga pasti beli lagi. Tapi guru dan hari les tetap sama.

Di kelas JMC 1, anak mulai intensif bermain electone. Mulai di sini orangtua dituntut untuk rajin mendampingi menonton VCD, mendengarkan CD dan melatih anaknya setiap hari bermain electone di rumah (hanya 5 menit/hari). Jadi electone/keyboard juga harus ada di rumah. (Piano klasik tidak disarankan, karena berat). Dan di setiap akhir program, akan ada ujian kenaikan tingkat.

Nanti ketika JMC 2, 3 sampai 4 juga akan ada tujuan akhirnya dalam mendengarkan musik, bernyanyi, membaca not dan pastinya bermain electone. Menurutku, kurikulum dari JMC ini memang bagus ya. Saya pun tidak menyangka kalau Keko bisa menikmati setiap pertemuan dan setiap ujian bisa lulus dengan baik.

Jadi karena saya dan suami melihat ada hasilnya pada Keko,  kami memutuskan untuk memasukkan juga anak kedua kami, Aglaya, mulai dari kelas Wonderland. Sekarang Aglaya ada di kelas JMC 1. Dan mereka memperbolehkan kami untuk bisa menggunakan buku bekas abangnya.

Oh iya, guru les musik anak-anak sering mengeluhkan soal pendamping yang tidak kooperatif. Jadi artinya, siapapun pendampingnya, harus memperhatikan guru di kelas dan diajarkan ke anak ketika latihan di rumah. Jika anak didampingi oleh pengasuh, guru les sangat mengharapkan orang tua untuk tetap memperhatikan kemajuan si anak. Mungkin yang paling ideal adalah didampingi orang tua ketika les dan juga rajin latihan yang baik dan benar di rumah, supaya hasilnya maksimal. Kalau saya sih memang senang menemani anak, karena les ini semakin mendekatka saya dengan anak-anak. Lagipula hitung-hitung bayar untuk 1 orang, tapi yang belajar 2 orang :)

*Dikirim oleh Putri Annisa (@putrianisa_), ibu dari Keko (4,5 tahun) dan Aglaya (3 tahun)


Share this story:

Recommended for you:

18 thoughts on “Belajar Musik di Yamaha Music School

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: Fardani Annisa
  3. Sebagai guru piano, saya sangat mendukung adanya program Wonderland dan JMC (serta kelanjutannya) dari Yamaha Music School ini. Murid-murid saya yang dulunya sempat mengecap kelas-kelas ini biasanya punya “telinga” yang baik sekali untuk mendengarkan nada, sampai saya sebagai gurunya kagum sekali!

  4. Anak saya, Jason (4th) sekarang di JMC 1, sudah ikut sejak Wonderland. Walau dia masih malu-malu dalam bernyanyi, tp dia sangat enjoy memainkan tuts electone. Saya juga surprise, Jason begitu enjoy ikut music class di Yamaha. Mungkin krn metode pengajarannya menarik dan mereka belajar sambil bermain. Sekedar saran, alangkah baiknya bila yang menemani adalah orang tua (bukan nanny) dan tidak berganti-ganti. Ada interaksi antara anak-orangtua, saya sangat menikmati interaksi tersebut pd setiap session ^_^

  5. pas di wonderland, mungkin di semester ke-2 (20 pertemuan terakhir), anak2 mulai pegang, tapi hanya sekedar “jreng jreng” atau menekan salah satu tuts electone yg disesuaikan dengan lagu yg ada (tapi saya lihat tetap ada tujuannya).

    Beda sekali memang anak yg start les dari Wonderland, dan mulai di JMC. jari anak yg di Wonderland lebih tidak kaku, krn sudah terbiasa. tapi jika rajin latihan, lama2 juga kualitasnya sama. :)

  6. Kalo anak saya ikut yg di Gading pakai electone dari awal masuk kok.
    Hanya saja pas awal hanya nekan tuts pake buku jari (ceritanya mrk pura2 nekan klakson mobil). Awal2 nekannya masih “asal” namanya juga baru kan. Begitu sudah bbrp bulan, mulai pakai 1 jari dan 2 jari & anak2 mulai belajar nekan tuts sesuai ketukan musik (mis: si tikus berjalan, alien, jam weker, dll).

  7. Pingback: Mommies Daily
  8. Pingback: niken rahmasafitri
  9. Pingback: Nenni Marsetiawan
  10. Pingback: Mamamoo Temanmoo
  11. Pingback: Gita Nasution
  12. Pingback: Agung Rahutomo
  13. Pingback: Mommies Daily
  14. Pingback: Rika Lestari Nino
  15. Pingback: Meralda Suhud

Leave a Reply