Poin-Poin Penting dari #FatherNkids Talkshow

Tanggal 19 Februari lalu, Mommies Daily bersama Buah Hati, Rumah Main Cikal dan FX Giggle mengadakan #PeekAbook talkshow yang bertemakan Father N Kids. Selain pembicara Najelaa Shihab dan saya sebagai moderator, ada juga perwakilan dari para ayah yaitu @TriasR dan @sisogi. Responnya luar biasa lho moms, ternyata banyak sekali para bapak yang ikutan ke talkshow ini. Padahal biasanya kalo ada seminar paling hanya 1-2 orang saja bapak-bapaknya :D. Setelah itu, kita tweet poin-poin penting dari Najelaa Shihab tentang pengasuhan atau hubungan bapak dengan anak. Berikut kita copy paste tweet kita tentang Father & Kids ya.

 

– Ada 4 peran ayah: Player, Teacher, Protector, Partner. Which one do you think fit your husband the most?

– Tadi para ayah diharuskan memakai tag sesuai dengan peran yang menurut mereka paling cocok. Ternyata..kebanyakan para ayah merasa dirinya adalah Player, karena mereka merasa sering bermain bersama anak

– Hanya sedikit yangg merasa mereka Teacher, Protector ataupun Partner. Jadi…seharusnya ayah yang baik berperan sebagai apa?

– Seorang ayah seharusnya berperan sebagai semuanya: Player, Teacher, Protector untuk anak-anaknya dan juga Partner untuk istrinya :)

– Peran yang haruss diutamakan=player!. Ayah harus sering bermain dengan anak karena akan membuka pintu untuk berperan sebagai Teacher dan Protector

– Jadi ibu-ibu jangan protes ‘Ahh anak2 sih kalo sama bapaknya cuma maiiin aja’. Karena main bareng itu kunci utamanya

– Dengan bermain, kita bisa mengajarkan banyak hal ke anak dan juga belajar banyak tentang anak kita dan menguatkan ikatan

– Sebaiknya kita harus sepenuh hati kalo bermain dengan anak. If you’re not feeling it, your kids aren’t either

– Kapan harus main dengan anak? Sesering mungkin. Susah untuk membangun quality time kalo kwantitasnya hampir nggak ada

– Anak itu sangat pengertian. Tp jangan karena mereka nggak pernah marah seperti bos di kantor kalo kita ingkar janji lantas dilupakan

– Seorang ayah yang baik juga harus bisa berperan sebagai guru. Sadar nggak kalo anak-anak sangat kurang figur laki-laki?

– Guru-guru di sekolah kebanyakan perempuan. Di rumah pengasuhnya pun perempuan. Mereka lebih dekat dengan ibunya dan nenek pun juga lebih terlibat daripada kakek

– Untuk berperan sebagai guru, seorang ayah harus bersikap seperti dia di kantor. Gunakan skills yang diterapkan di kantor pada anak di rumah

– Di kantor kita nggak kan bilang ‘Udah ahh nanya mlulu’ ke atasan/bawahan kalo mereka nggak ngerti. Kita akan jelasin sampe tuntas

– Begitu juga ke anak, kalo mereka bertanya..jelaskan sampai benar-benar mengerti, jangan matikan rasa penasarannya

– Jadi kalo sudah sukses di kantor, sudah seharusnya sukses juga di rumah karena skillsnya sudah ada

– Ayah biasanya dapat mengajarkan ABCDs = Ally, Boundaries, Challenges & Dreams, lebih baik dari ibu

– Peran ayah yang ketiga adalah protector. Ayah mempunyai keinginan yang besar sekali untuk melindungi anaknya sejak lahir

– Tapi ayah harus mengajarkan anak untuk melindungi dirinya sendiri, karena ada saatnya mereka tidak di bawah pengawasan kita

– Dalam berkomunikasi dengan anak, harus jelas antara Questions, Requests, Choices atau Consequences

– Kalimat ‘Mandi ya Nak?‘ membingungkan. Apakah itu Questions, Requests, Choices atau Consequences?

– Ayah juga harus bisa jadi SPY. Dalam arti mengenali dunia anak. Tau siapa teman-teman dekatnya di sekolah/rumah. Tau makanan favoritnya, dll

– Banyak ayah yang nggak pernah ke sekolah anaknya. Nggak tau letak kelasnya di mana, nggak tau nama guru-guru anaknya & teman-temannya

– Kenapa ayah banyak nggak tau hal-hal kecil sehari-hari? Karena mereka ngerasa semuanya udah ada yg mengurus. Bisa juga karena nggak dilibatkan

– Semakin besar, dunia anak semakin luas; Internet, Les, Sekolah, dll. Kalo kita nggak mengenali dunianya kita akan semakin terdiskonek dengan anak

– Seorang ayah harus expecting the best of their children and also loving the worst of them. Jangan hanya enjoy main dengan anak ketika mereka anteng tapi giliran nangis dikasih lagi ke ibunya

– Ibu biasanya lebih gampang khawatir, tapi ayah biasanya yakin anaknya bisa melakukan sesuatu walaupun belum punya bukti bahwa mereka bisa

– Terakhir tentang ayah (& ibu) sebagai protector. Seringkali kita membelikan sepatu dengan velcro, karena khawatir anak tersandung tali sepatu

– Padahal itu tidak menghilangkan masalah. Ada saatnya anak harus bisa menalikan sepatunya sendiri dan belajar utk hati-hati

– Setelah Player, Teacher, Protector. Ayah juga harus berperan sebagai Partner. Dengan adanya pengasuh, apalagi kalo masih tinggal sama orang tua, peran ayah makin tergeser

– Padahal ayah bukan mensupport ibu dalam mengasuh anak tapi equal partner yang mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama

– Banyak ayah yang mengeluh anaknya lebih dekat ke ibunya. Walaupun berusaha menerima saja dengan kenyataan itu, tapi dalam hatinya sedih

– Kalau kurang dekat dengan anak, pasti karena kontribusinya ke pengasuhan anak & tidak berusaha maksimal untuk spend time dengan anak

– Ayah perlu untuk bonding time anak berdua saja dengan anak. Pergi berdua/di rumah berdua. Tanpa pengasuh dan tanpa istri

– Ayah harus mengungkapkan perasaannya sayangnya ke anak, bukan hanya lewat perbuatan tapi juga kata-kata karena anak belum bisa membaca lewat sikap

– Ayah & Ibu haruss memberlakukan peraturan yang sama dari hal-hal besar sampai kecil. Jangan ada yang jadi Bad Cop & Good Cop

– Orang tua harus punya kesamaan suara. Ayah bilang tidak, ibu juga tidak. Jadi anak tidak bisa minta ‘perlindungan’ salah

– Ayah sering punya ekspektasi tertentu terhadap ibu tentang pengasuhan anak. Ini yang harus dihilangkan karena ayah+ibu = Partner

– Being a good father is all about the child & family. It’s not about you anymore. Semua keputusan harus berdasarkan yang terbaik untuk keluarga

– Nah…dalam perjalannya untuk menjadi ayah yang baik..para ayah butuh bantuan dari istri-istrinya lho. Jangan sampai kita malah menjauhkan ya

– Para ibu sering terlalu khawatir kalo anak dijaga ayahnya karena menganggap ayahnya kurang mengawasi dengan baik. Padahal anak biasanya baik-baik  saja dijaga ayahnya. Malah kalo ibunya bilang ‘awas jangan lompat-lompat nanti jatuh’, biasanya terjadi kecelakaan kecil

– Terkadang suka ada perasaan ‘You’ll never be as good as I am‘ pada ibu-ibu ke suaminya dalam hal pengasuhan anak dan suka protes akan hal-hal kecil ‘duh itu cara gendongnya salah!’ ‘kok pakein diapernya miring sih? ‘ bikin ayah jadi nggak percaya diri

– Peran orang tua ada A – Z. Tidak bisa dibagi ayah A – M. Ibu N – Z. Dua-duanya harus bisa melakukan semuanya

The ultimate goal is to be a Hands on, Hearts on and Minds on father :)

Gimana moms? Banyak sekali kan poin-poin pentingnya?  Walaupun yang kita sampaikan di sini lumayan lengkap, tapi tentunya tidak sedetil apa yang kita dapat ketika berada di sana langsung.  Llain kali jangan sampai ketinggalan ya moms :).


24 Comments - Write a Comment

Post Comment