Support Group: Menjaga Ibu Tetap ‘Waras’

“In a support group, members provide each other with various types of help, usually nonprofessional and nonmaterial, for a particular shared, usually burdensome, characteristic. The help may take the form of providing and evaluating relevant information, relating personal experiences, listening to and accepting others’ experiences, providing sympathetic understanding and establishing social networks.” (Wikipedia)

Menjadi ibu membuat saya gila. Serius. Saat hamil dulu, saya nggak pernah mengira kalau bayi merupakan penuntut terhebat di dunia. Saya pikir, saya akan melahirkan makhluk mungil menggemaskan seperti yang sering ada di iklan-iklan TV dan majalah. Eh, nyatanya yang muncul adalah ‘monster susu’ yang hobi nangis menjerit-jerit tiap 1,5-2 jam sekali!

Meski bahagia dengan kehadiran anak, di satu sisi saya terkaget-kaget karena nggak menyangka bahwa merawat bayi ternyata segitu ribetnya. Bangun tengah malam, ganti popok setiap entah berapa menit sekali, menjemur, menggendong, memandikan, … rasanya waktu dan tenaga terkuras hanya untuk memastikan si bayi aman dan nyaman.

Di saat-saat nelangsa seperti ini, tentu saja ‘obat’ yang paling dibutuhkan adalah curhat. Untung lah, saya punya geng yang terdiri dari sekitar 18 ibu-ibu. Saya mengenal mereka sejak Desember 2008 lewat salah satu forum internet, saat usia kehamilan baru menginjak sekitar 6 minggu. Kami jadi akrab karena punya satu kesamaan: semua anak pertama kami lahir di bulan Juli-Agustus 2009!

Nah, karena usia kehamilan dan kelahiran berdekatan, otomatis jadi lebih nyambung pas curhat—masalah yang dihadapi cenderung sama, sih. Mulai dari masa-masa pertama kali merasakan tendangan bayi di rahim, imunisasi, anak sakit, milestone, ngajak anak traveling, menu MPASI, KB, sampai ultah pertama anak-anak kami pun dirayakan bersama, hehehe.

Bisa dibilang, mereka-lah support group saya, dan seperti judul tulisan ini, mereka juga yang menjaga saya agar tetap ‘waras’.

Ada banyak kasus di mana saya hampir gila setelah menjadi ibu. Misalnya, nih, di minggu-minggu awal melahirkan Rakata (sekarang 18 bulan), saya sempat stres—dan ya, tentu saja mengalami baby blues! Iseng-iseng, saya kirim SMS ke beberapa ibu-ibu, curhat singkat betapa ‘hancurnya’ hidup saya setelah kehadiran bayi. Eh, nggak disangka, mereka ternyata merasakan hal serupa! Jangankan saya yang sebulan setelah menikah langsung hamil. Seorang sahabat yang sudah menunggu kehadiran anak selama dua tahun pun merasakan hal serupa.

Disitulah timbul kesadaran, bahwa yang saya alami memang wajar. Saya yang tadinya merasa seolah kurang bersyukur pada Tuhan (cepat dapat anak kok malah mengeluh), jadi merasa lebih ‘normal’.

Saat ngobrol bersama mereka, saya juga diingatkan bahwa hal-hal yang selama ini saya anggap ‘penderitaan’ ternyata belum ada apa-apanya. Gimana nggak, saat keluhan saya hanya seputar capek bangun tengah malam untuk menyusui, sebagian di antara mereka justru berjuang menghadapi nipple crack, sulitnya menyusui dengan puting rata, atau bahkan ASI mampet dan stop produksi.

Di sisi lain, mereka ‘menahan’ saya untuk nggak menjadi sosok ibu yang terlalu mendewa-dewakan anak (baca: selalu menganggap anaknya lebih hebat dari anak orang lain). Memang benar, Rakata sudah bisa jalan sebelum ultah pertamanya (dan ini merupakan hal yang selalu dibanggakan kakek dan buyutnya). Tapi, saya nggak bisa sombong karena ada anak dari salah satu anggota geng saya yang sudah bisa berjalan saat umurnya 10 bulan!

Mengetahui perkembangan anak-anak lain juga membuat saya nggak terlalu cemas saat Rakata belum bisa ini-itu, meski menurut buku perkembangan anak seharusnya sudah bisa—pasalnya, anak lain pun belum bisa. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan?

Datang dari berbagai latar belakang ras, suku, agama, maupun pekerjaan berbeda, juga bikin saya lebih mengerti (dan menghargai) pola asuh unik yang diterapkan masing-masing orangtua, sehingga nggak membuat saya asal nge-judge jika melihat seorang ibu memilih melakukan tindakan A dibanding B.

Dan yang paling saya suka, nih, anggota geng yang sukses ASIX nggak berubah jadi ASI Nazi karena mengerti sedihnya para ibu yang terpaksa memberi sufor. Ibu yang SAHM (Stay at Home Mom) nggak merasa lebih ‘super’ dari yang WM (Working Mom) karena tahu betapa beratnya WM harus menitipkan anak ke babysitter seharian.

Intinya, sih, punya support group benar-benar menjaga ‘kewarasan’ saya sebagai ibu. Terlebih, mengingat ada banyak hal yang lebih enak di-sharing ke mereka dibanding ke ortu, mertua, atau teman yang belum punya anak.

Ternyata jika memiliki teman-teman senasib, kita akan lebih santai karena tahu nggak sendirian di dunia ibu-ibu nan kejam (yang kadang bisa sangat judgemental) ini, hehehe.

Jadi mommies, sudah punya support group juga belum?

*Diceritakan oleh Amelia Yustiana (http://ameeel.multiply.com), ibu dari Rakata Darrell, 17 bulan.


63 Comments - Write a Comment

  1. Pingback: =*

Post Comment