Mengajarkan Anak Mencintai Perbedaan

“Bun, orang Hindu itu agamanya apa, ya?”

“Bun, orang Kristen adanya di Amerika, ya?”

Ya. Kedua anak saya masing-masing pernah melontarkan pertanyaan polos itu.  Mendengarnya, tentu saya tak bisa menahan senyum. Tapi jujur, saya sekaligus mendapatkan wake up call. Rupanya ada satu yang selama ini nyaris terlupakan dalam menjalani peran sebagai mama: mengenalkan konsep perbedaan sejak dini, sekaligus mengajak mereka mencintainya.

Kedua anak saya, Reynard (7) dan Darrel (5) memang bersekolah di sekolah Islam. Kami memilih sekolah ini karena menimbang pentingnya landasan nilai agama di masa kecil, yang (mudah-mudahan) terbawa sampai dewasa. Tentu selain itu, ada beberapa faktor lain seperti porsi pengenalan bahasa asing, keseimbangan antara kegiatan belajar dan aktivitas fisik, lingkungan sekolah yang sehat, dan standar pelajarannya.

Tetap saja, bersekolah di lingkungan yang homogen seperti ini memunculkan tantangan tersendiri. Dua pertanyaan tadi, contohnya. Karena anak-anak saya begitu terbiasa dengan keseragaman, mereka jadi asing dengan konsep keragaman. Dalam hal ini, khususnya keragaman beragama.

Benar sih, sebagai bagian dari pelajaran, guru sepintas menyinggung soal perbedaan agama. Si sulung Reynard yang duduk di bangku SD pasti pernah mendengar adanya agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu di Indonesia. Tapi repotnya, dia tidak sering bertemu penganutnya, karena semua – ya, SEMUA – dari teman, guru, pelatih futsal sampai pembersih sekolah, beragama Islam.

Am I complaining? Of course not. Ini konsekuensi sebuah pilihan. Tapi sungguh saya merasa punya ‘hutang’ untuk membimbing anak menjadi individu yang cinta pada perbedaan. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Tak ada mama yang mau anak-anaknya tumbuh menjadi pembenci golongan lain. Jangan sampai, deh. Lelah rasanya menyaksikan sepak terjang satu ‘front’ yang hobi menyerang penganut keyakinan berbeda. Pokoknya, kasih sayang kepada sesama tanpa membedakan SARA, adalah nilai terpenting yang perlu ditanamkan pada si kecil kita.

Hmm…lalu, dari mana saya harus mulai?

Saya coba menyegarkan ingatan anak-anak akan seorang driver ramah dan baik hati, yang membawa kami berkeliling Pulau Dewata beberapa bulan lalu. Pak Laba namanya. Awalnya, dia hanya bertugas mengantar kami dari daerah Ubud ke Kuta. Tapi di perjalanan ke sana, ia justru sibuk mengajak kami mampir sana sini tanpa minta bayaran ekstra. Padahal hari sudah sore. Itu yang namanya ikhlas, batin saya. Sepanjang perjalanan, ia terus berceloteh riang, dan kedua laki-laki kecil saya langsung jatuh hati.

Pun ketika hal tak terduga terjadi di tengah liburan kami. Baru beberapa hari menikmati Bali, si sulung jatuh sakit. Kami pun bermalam berhari-hari di RS. Pak Laba-lah yang sibuk mencarikan dokter, bolak-balik mengirim pesan singkat menanyakan keadaan kami, dan datang jauh-jauh ke Denpasar dari rumahnya di Ubud untuk menjenguk. Persahabatan yang ia tawarkan sungguh tulus.

“Pak Laba baik sekali, kan?” Si bungsu, Darrel, mengangguk.

“Dia orang Bali. Agamanya Hindu,” lanjut saya. Darrel masih mengangguk, meski tampak agak bingung.

Oh, ya. Satu lagi pe-er saya: Menjelaskan apa bedanya suku dan agama.

“Di Indonesia ada banyak suku dan agama. Pak Laba sukunya Bali. Kita sukunya Jawa. Agama Pak Laba Hindu. Agama kita Islam.Tapi kita semua hidup rukun di Indonesia.”

“Jadi orang Hindu rumahnya di Bali?” tanya Darrel lagi.

“Iya, di Bali memang sebagian besar penduduknya Hindu. Tapi ada juga orang Bali yang Kristen, Islam, dan lain-lain. Sama dengan orang Jawa. Nggak semua Islam. Ada yang Kristen, Hindu, Budha…”

“Ooo..” Dan setelah itu, Darrel ternyata lebih tertarik berbicara soal apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh penganut agama berbeda. Well, I’m glad we’ve started something.

“Temenku di tempat les juga ada yang Kristen, lho. Namanya Matthew…” si sulung, Reynard, berkomentar.

Well, do you enjoy playing with him?” tanya saya.

Yes! Boleh nggak kapan-kapan Matthew main ke rumah, Bun?” Reynard menatap saya, harap-harap cemas.

“Boleh banget, dong. Bunda seneng kalau kalian bisa main sama semua teman.”

“Emang Bunda juga punya temen orang Kristen?” tanya Reynard lagi.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, langsung saya keluarkan ‘daftar’ panjang nama teman di kantor yang memang sungguh beragam agamanya. Tante A yang baik hati agamanya Kristen, Tante B yang pernah membelikan mereka boneka agamanya Budha…they’re some of the nicest  people I’ve ever met – and l made sure my boys know that. Saya mengingatkan, di masa depan nanti, terlebih saat dewasa, mereka akan bertemu dan bekerja dengan banyak sekali orang dari agama, suku, bahkan bangsa yang berbeda. Dan yang perlu mereka lihat hanya satu: kebaikannya.

Tidak hanya melalui obrolan, saya juga berusaha menanamkan cinta  perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. Saat pohon Natal bertaburan di mal-mal penghujung 2010 kemarin, saya dengan gembira melayani permintaan Reynard untuk berfoto di depan sebuah pohon Natal raksasa, atau Darrel bersama Santa Claus. Cukup heran juga ya, kalau waktu itu ada saja pihak yang repot-repot meributkan keberadaan pohon Natal di mal. Toh, semua itu adalah simbol kebahagiaan – dan kebahagiaan itu universal!

Kedua anak saya juga sempat bertanya, apakah mereka boleh merayakan Natal (karena sangat tergoda dengan kado-kado yang seru). Menanggapinya, saya mengatakan, semua agama punya kesamaan dalam merayakan Hari Besar. Semua menyembah Tuhan, berkumpul bersama orang-orang tersayang, dan membahagiakan sesama. Tapi, yang berbeda adalah cara menyembah-Nya. Tiap agama punya cara masing-masing. Jadi, “Boleh saja ikut bergembira. Bahkan kita wajib menyelamati teman yang sedang merayakan Hari Besar. Asalkan saat menyembah Tuhan, kita melakukan sesuai ajaran agama masing-masing.” Saya harap, penjelasan ini cukup efektif.

Semakin hari, anak-anak semakin tertarik dengan konsep perbedaan. Melihat berita gejolak di Mesir, misalnya, entah kenapa Reynard justru minta saya menjelaskan, apa bedanya penduduk Mesir dan penduduk India. Reynard juga ingin tahu, kenapa orang Aborigin secara fisik mirip dengan orang Papua. Parenting is literally a constant learning.  Kemarin, saat menonton rerun Masterchef, Darrel bertanya, mengapa Sheetal, salah satu peserta, menangis saat harus memasak kepiting. Saya jelaskan, Sheetal beragama Hindu. Sebagian penganutnya tidak makan hewan sama sekali karena mereka pantang mengambil nyawa mahluk hidup lain – which is a form of kindness. Ah, saya jadi teringat lagi sekelompok orang yang mengatasnamakan agama saya, tapi dengan bengis mengambil nyawa sesama manusia :’(.

Anyway, saya sungguh berharap, kedua laki-laki kecil saya tumbuh besar menjadi manusia yang berpikiran terbuka dan sayang terhadap sesama. Satu yang terpenting: We need to walk the talk. Kalau tanpa disadari, selama ini kita termasuk sering melabel orang lain karena suku atau agamanya atau membuat joke yang merendahkan golongan berbeda, saatnya berubah. Kalau di dunia ini semua sama, pasti sangat membosankan. Justru, beda itu indah, kan?

*Dikirim oleh Andyani, ibu dari Reynald (7 tahun) dan Darrel (5 tahun)

*Gambar diambil dari sini


47 Comments - Write a Comment

  1. nenglita

    Bagus banget tulisannya, terharu :’)

    Gw muslim tapi keluarga gw ada yg non muslim jg, jd gw sih terbiasa dgn keberagaman. Makanya suka heran sm org2 yg ‘musuhan’ hanya karena berbeda agama, suku bangsa, dst itu. so sad :(
    Padahal dari kecil di pelajaran PMP pun (ketauan banget nih generasinya tahun berapa) sudah dikasih tau bahwa Indonesia terdri dr berbagai suku, agama, dst. Tapi kenapa makin kesini adaaaa…. aja ribut2 antar pemeluk agama/ suku :(

  2. aku belom jadi ibu..bahkan belom menikah..tetapi,membaca tulisan ini membuat saya teraru :’)

    dari kecil,saya biasa dengan keragaman.walau bersekolah di sekolah kristen,tetapi teman2 saya beraneka agama dan suku bangsa.dan saya tidak peduli dengan latar belakang tersebut,yang penting orangnya baik dan kita saling memberi selamat ketika hari besar.ketika beranjak sma,saya mulai bingung dengan teman2 yang suka merasa ‘eksklusif’ dengan ras dan agamanya masing2..melihat berita2 pertikaian antar agama-ras-dll..dan melihat anak-anak kecil yang suka menghina agama/ras lain..rasanya sedih..

    membaca ini,menjadi PR buat saya ketika nanti sudah menikah dan mempunyai anak..merupakan PR besar untuk mengajarkan anak tetang keanekaragaman dan persatuan.

    thanks for great articel

  3. ameeel

    great article!
    setuju banget untuk ngajarin perbedaan sejak kecil ke anak…
    jadi inget, dulu gw TK-SD di sekolah islam, dan entah doktrin apa yang ditanamkan di sekolah gw itu, pas kecil dulu gw mengira hanya orang-orang islam yang bakal masuk surga.. sementara orang beragama lain (ngga peduli sebaik apapun mereka) pasti ujung-ujungnya masuk neraka *sigh*
    bagus pas udah gedean dan logika mulai jalan, pikiran kayak gitu langsung raib…
    jadi sepertinya emang tugas ortu ya buat ngejelasin hal-hal semacam ini… nambah lagi deh tugasnya :)

    1. Amel, aku ada kolega yg sampe udah umur 30+ masih mikir gitu.
      “Kalau non-muslim karena surganya udah ada di dunia, maka kalau mati nggak masuk surga”
      Trus ketika kita ada visit ke bagian pedesaan Filipina yang amat miskin (yang semua penduduknya non-muslim); baru dia bilang “kalau orang-orang ini, kapan masuk surganya ya?”
      Baru dari situ mulai terbuka pikirannya…
      mungkin sih karena di daerah asalnya, pendatang yang non muslim banyak yg sukses dagang dll

      (masih terharuuu baca artikel ini…)

  4. Kita walau tinggal di negara Arab, tapi pengaruh Western terasa amat kuat khususnya pada saat Natal, Ultah, Halloween & Valentine. Tak heran karena populasi pendatang lebih banyak daripada bangsa Arab sendiri. Dan karena juga sekolah internasional di sini berkiblat pada Western, maka semua kebudayaannya itupun dibawa.

    Ketika Latifah mulai senang menyanyikan jingle Natal, Happy Birthday (bawaan dari sekolah) maka pun kami pelan-pelan memberi tahu, kalo Natal not for Muslim, Happy Birthday not for Muslim. Akhirnya dia pun sadar, bahkan ketika melihat hiasan Natal di Mall dia pun bilang sendiri kalo “it’s not for muslim”. Tetapi namanya juga anak 3 tahun.. kadang masih suka kelepasan nyanyi lagu Happy Birthday. Ya kami mengingatkan dengan pelan-pelan lagi.

    Walau kami bisa dibilang “saklek” dalam melaksanakan Islam kami tidak menutup diri dari umat lain. Teman terbaik saya di kantor adalah orang Filipin yang merayakan Natal. We share about everything, even her deepest sorrow when she found out her (unmarried) daughter is pregnant, sampai sekarang hanya menjadi rahasia kami berdua. Tidak ada orang kantor lain yang tau.

    Tetangga terbaik saya juga orang Filipin yang Kristen, dan anak saya suka sekali bermain dengan mereka di rumahnya. Ortunya juga gemar sekali membantu kami. Pembantu terbaik saya malah orang Nepal, dan nanny terbaik di sekolah juga dari Filipin (bukan Arab!). Juga teman-teman saya di Indonesia. Teman kerja suami juga dari India & Filipin yang beragama Hindu/Kristen.

    Kami bersikap baik, seperti diajarkan Rasul SWT kepada umat lain, tapi dalam hal melaksanakan agama kami fokus pada ajaran masing-masing (termasuk tidak mengucapkan selamat Natal, Ultah, dll).

  5. Mbak Andyani,

    tulisan ini bagus sekali. Mata jadi berkaca-kaca saat membacanya. Campuran hormon lg hamil sama lg kesel dengan negeri ini :D

    Gue sangat concern masalah ini dan deg-degan banget gimana mendidik anak yang udah mau 2 biar bisa mencintai perbedaan, apalagi dengan keadaan negara yang seperti ini.

    Sayangnya enggak semua orang tua seperti mbak. Beberapa anak yang gue kenal (baik keluarga maupun anaknya teman) yang masuk sekolah Islam pernah melontarkan kalimat “kalau bukan Islam kan entar masuk neraka”.

    Entah karena ajaran di sekolahnya atau karena orang tuanya (yang menanggapi pernyataan itu dengan biasa aja bahkan tertawa) enggak menganggap kalau mengajarkan anak untuk mencintai perbedaan itu penting.

    Sedih sekali dengar kalimat itu dari anak-anak yang mukanya masih imut :( Oke. Ralat. Sedih sekali dengar kalimat itu dari siapapun, baik yang mukanya imut atau enggak, anak kecil atau bukan, Islam atau bukan.

    Akhirnya, gue jadi orang yang memilih untuk tidak memasukkan anak ke sekolah yang homogen. Saya memilih konsekuensi sebaliknya, yaitu menanamkan ajaran agama di luar sekolah.

    Sempat mau masukin sekolah Islam sih, tapi setelah doa siang malam minta yang terbaik dari Allah, eh tiba-tiba aja sistem pendaftaran di sekolah Islam itu kacrut yang bikin gue harus masukin ke sekolah lain :D Untungnya sekolah ini punya prinsip melaksanakan agama dengan praktik langsung walaupun bukan sekolah khusus agama.

    Eh tapi, mau apapun sekolahnya, yang terpenting itu ya peran aktif orang tua :p

    Yah, semoga kita sebagai orang tua dan anak-anak kita semua, yang membaca tulisan ini, ditunjukkan jalan yang terbaik dan dibukakan pintu hatinya untuk terus cinta damai serta cinta perbedaan.

    Amien.

  6. Gw muslim, tp gw memilih memasukkan anak gw ke sekolah umum yg menerima anak dr berbagai suku dan agama. Untuk agamanya, anak gw ambil pelajaran tambahan yg memang disediakan di sekolahnya. Anak gw jadi terbiasa mengenal anak2 yg beragama lain dan dari suku lain. Di lingkungan rumahpun anak gw jg gw bebasin main sama siapa aja tanpa ribet sm agama atau sukunya, sambil tetep ngingetin bahwa ada hal2 yg memang berbeda dr tiap agama dan bagaimana menghadapi perbedaan itu. Memang sih, kita harus siap sm aneka pertanyaan anak, tapi itu jg buat ngingetin diri gw bahwa gw jg harus belajar byk untuk membantu anak gw memahami keragaman.

  7. Great posting mam. Saya juga berencana memasukkan Dita ke Islamic PG nih. Cerita mam sangat mencerahkan bagaimana mengenalkan anak kpd perbedaan di tengah lingkungan yang homogen. Perbedaan itu asyik kalau kita saling menghormati dan menghargai ya. Salam Reynald dan Darrel, pertanyaan2 nya kritis banget :-)

  8. BAGUUUSS!! thumbs up!! Saya beruntung ortu dulu memasukkan saya ke sekolah umum di mana waktu SD kita berpindah2 kelas sewaktu pelajaran agama, krn memang 5-5 nya ada!! Yang muslim kebagian di aula krn paling banyak. yang hindu kebagian di ruang pkk krn paling sedikir ^_^ Idul fitri kita semua membuat prakarya ketupat, natal sama2 menghias pohon natal, waisak dan nyepi pun selalu dirayakan.

    masa2 itu menurut saya paling berharga. ketika SMA saya pindah ke sekolah kristen (agama saya katolik) tp saya sungguh terkejut siswa/i yang bersekolah di sekolah kristen itu dari PG sampe SMA , jiwa toleransi nya kecil sekali. Ga beda jauh dari cerita @amel, mereka berasumsi kalo ga kristen ga akan masuk surga (termasuk sy yang katolik) akhirnya guru2 dan teman2 malah memaksa (kayak sales MLM) saya untuk pindah ke agama kristen :(

    sayang sekali sekarang justru berkembangnya PG/TK/Sekolah yang cenderung ke satu agama ; islam, kristen, katolik, buddha. tanpa adanya pelajaran agama atau kelas khusus yang beragama lain. mudah2an di kelas skrg pun diajarkan toleransi. sedih jika kejadian seperti saya dan @amel. walaupun di rumah diajarkan toleransi tp jika di sekolah malah tidak? malah bikin anak bingung (dan ortu resah) oya, kemarin jg sewaktu natal 2010, beredar ajakan bagi muslim untuk tidak memberi selamat bagi yang merayakan karena ada di salah satu ayat (maaf saya lupa) yang menghimbau untuk tidak mengucapkan “Selamat hari natal”. apakah itu benar?

  9. Nice posting.. Touchy banget!
    Aku suka cara penyampaiannya ke anak dan kalimat2 yang dipilih *contek ahh kalo hal di atas terjadi pada anakku.. hihii…*

    Semoga Reynard & Darrel kelak berpikiran terbuka dan berhati lembut kayak Mamanya :))

  10. Nice article… Setuju kalo anak harus sejak dini diajari tentang keragaman.
    Kalo anak-2ku sudah terbiasa banget dengan keragaman karena kebetulan aku dan suami beda agama. Anakku yg gede, walaupun dia Katolik, tapi setiap maghrib selalu nyiapin sajadah & sarung papanya untuk sholat…
    Kalo tunas muda Indonesia sejak kecil diajari tentang keindahan keragaman & percaya bahwa semua agama itu baik, maka Indonesia akan selalu aman & tenteram. Amin.

  11. Dear Mommies,
    Makasih untuk responsnya. Seneng deh, jadi bisa diskusi seru soal ini. Setuju, apapun sekolahnya / lingkungannya, yang paling penting peran aktif orangtua. Saya sendiri sedih kalau ada teman anak yang bilang, “Ih, itu kan punya orang…” (merujuk agama tertentu). It’s perfectly OK to draw a clear line between our belief and others’. Tapi kenapa harus pakai kata “Ih”? Siapa yang menanamkan kebencian pada anak-anak sekecil mereka, dan untuk apa?
    Tadi pagi saya baca twit Komaruddin Hidayat: “Semangat beragama itu saling memberi, menolong, menunjukkan jalan kebenaran. Bukan saling menghujat dan menghardik.” Ah, kalau saja semua orang berpikiran seperti ini, pasti negeri kita lebih damai. Kalau saja pihak2 berhati kerdil yang melakukan kekejaman atas nama agama, mau sedikit saja membuka hati…
    Anyway, I’m glad that there are soooo many open-minded mommies out there who will surely raise loving, open-minded kids. Thanks for sharing your thoughts, Moms.

  12. Sangat tersentuh dengan tulisan ini :) contoh yang baik sekali untuk mengajarkan konsep perbedaan. Memang harus dimulai dari kecil. Sayang sekali bila dari kecil ditanamkan konsep yang salah, terbawa sampai dewasa, menjadi seperti roda, tidak akan berakhir rasa tidak suka pada yang berbeda.

    Kita beruntung mengetahui bagaimana bersikap di tengah keragaman. Dan bisa mengajarkannya pada anak-anak kita. Tapi saya punya tanda tanya… bagaimana mengajarkannya pada mereka yang tidak tahu bagaimana bersikap dengan tepat ini ? Konsep yang sudah tertanam dari dulu sulit untuk diubah… bagaimana ya ?

  13. thank you for sharing the article..
    keragaman agama memang sebaiknya harus diketahui mulai dari kecil.
    anakku 18 bulan, tiap minggu saya bawa gereja. Pas di mobil, kalo tiba2 dia nanya “kakak ?” (*maksudnya kk nya yang jaga kok gak ikut gereja?), saya cuma bilang, kakak gak gereja. Papa mama dan abel aja yang pergi gereja. Karena kebetulan yang jaga anak saya berbeda agama. Untungnya tetangga juga beraneka ragam, semua agama ada, jadi dia juga bebas berteman dengan siapa saja.
    Walaupun nanti rencananya aku akan masukkan anakku TK yang berbasis agama, tapi kalo mulai dari kecil (lingkungan sosial skrg) dia dibiasain berteman dengan berbeda agama, suku, dan ras, mudah2an sifat mama papahnya bisa nurun ke anakku :)
    Menghormati setiap perbedaan yang ada..

  14. suka sekali dengan artikel ini,saya bacanya damai bangett…
    Alhamdulillah saya dibesarkan di lingkungan yg penuh dengan perbedaan..jd saya mengenal orang dari berbagai suku dan agama… gak heran kdg saya sedikit2 bs berbahasa manado,ambon, kalau padang jawa sunda memang keturunan,di tempat tinggal saya dulu (skrg ortu masih disitu)mesjid dan gereja bersebelahan, dr jaman dulu tidak pernah ada ribut2 soal pebedaan beragama…bahkan pengurus masjid dan pengurus gereja bekerjasama dlm membangun jalan yg arahnya ke gereja dan ke mesjid.
    Saya heran jaman sekarang tempat ibadah agama yang satu dengan agama yg lain jauh2an kok malah ribut ya…ini yg berdekatan adem ayem aja..bahkan saling gotong royong. Semoga keributan2 soal agama tidak ada lagi…

  15. pas Natal, anakku sempat ngambek minta dibeliin pohon Natal, Pas Imlek paling semangat nonton Barong Sai, dan sekalian minta ikut Wushu, Pas galungan terbiasa di tempat kakeknya atau di opangnya. Pas Hari besarnya terbiasa nonton pawai atau kegiatan lainnya. Sangat sayang jika mengenalkan satu kebudayaan saja, warna warni itu indah kan?

  16. Two thumbs up for the article…, inti ajaran dari semua agama adalah kasih sayang terhadap sesama manusia, so…ayo ibu2 jgn letih mengajarkan konsep keberagaman dan mencintai perbedaan yg ada agar negeri ini semakin damai….piss…

  17. Truly Inspiring!!Ditengah situasi negara yg lagi sensitif sama isu SARA, artikel ini bisa memberikan harapan kalau ke depannya generasi anak-anak kita akan lebih memahami arti dari konsep keberagaman, tentunya dengan peran aktif dari kita, orangtuanya.

    Artikel ini mengingatkan saya dengan kondisi pada saat saya kecil, saya merasa cukup berat karena kadang teman2 saya keceplosan menjelekkan agama yg saya anut termasuk manggil2 saya dengan nama marga yg sudah “diplesetkan”. However, ketika saya cerita ke ortu, mereka tidak pernah menyarankan agar saya menjauhi teman2 saya, pdhal keluarga saya juga mengalami imbas diskriminasi yg lumayan.Yah namanya juga tinggal di daerah.

    Sekarang, sahabat saya bebrapa diantaranya beragama Islam dan bersuku Jawa-Sunda yg ngomongnya pelan (bayangkan gmana gabungnya sm saya yg batak), kami telah bersahabat belasan tahun, saling mengenal keluarga satu sama lain and we can share and discuss everything. Berbeda itu menyenangkan dan bisa menjadi kekuatan kalau didasari dengan penghormatan dan niat tulus.

    Posting-an ini jadi satu reminder buat saya untuk mendidik anak saya mencintai keberagaman, membantu tanpa membedakan SARA, dan melihat orang dari kebaikannya…Thank you Andyani

Post Comment