MamaYeah; The Image of a Perfect Mom?

Pasti Mommies udah pada tau kan tentang @MamaYeah? Twitter account yang pas hari-hari pertama kehadirannya begitu menghebohkan. Banyak sekali respon dari mommies di timeline. Ada yang enjoy membaca tweet demi tweet sambil ketawa guling-gulingan, ada yang langsung report as spam karena merasa tweetnya offensive, kurang kerjaan dan nggak guna. Ada juga yang kadang suka kadang nyinyir..tergantung lagi merasa kena sindiran apa enggak :D

Buat yang belum tau, silahkan check accountnya @mamayeah deh. Ceritanya nih..si @mamayeah ini adalah sosok ibu-ibu sempurna: stay at home mom yang juga punya penghasilan sendiri, IMD, ASIX, MPASinya selalu homemade, pinter masak, anaknya nggak pernah kena MSG, handal dalam mengurus rumah dan suami, pokoknya supermom deh. Dan karena namanya juga supermom, jadi @mamayeah ini ngerti banget dengan semua hal dan trend yang lagi happening di dunia parenting. Dan dia membeberkan semuanya di sana, the good ones and the bad ones.

Stepford wives, the-beyond-belief perfect wives

Saya sendiri, walaupun ada yang membuat saya merasa tersentil, termasuk golongan yang ketawa-ketawa membaca tweetnya.  Abis, emang gaya nyentilnya kocak gimana dong? :D. Dan ini bukan karena saya setuju dengan tweetnya yang seolah-olah memojokkan ibu-ibu yang dianggap belum seutuhnya jadi ibu lho (karena melahirkan melalui c-section atau tidak IMD atau tidak memberikan ASIX). Justru karena saya melihatnya yang dicela itu kayaknya adalah stigma yang mencap bahwa untuk jadi ibu yang baik harus melalui semua tahap itu (parenting goes well beyond the pregnancy and the toddler stage), dan juga kegalauan ibu-ibu yang merasa tidak sempurna itu dalam menjustifikasikan bahwa dirinya sudah mencoba memberikan yang terbaik.

Udah sering banget kan ada ribut-ribut kecil di blog atau di Twitter tentang working mom vs stay at home home, tentang melahirkan vaginal birth vs c-section, tentang ASI Vs Susu Formula, tentang penggunaan label stay at home mom Vs full time mom. Memang yang seharusnya bagaimana? Well, some things are non arguable…dan sisanya..yang paling bener ya yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi kita sendiri. Jadi hanya kita yang tau kapabilitas kita dan apa yang terbaik untuk keluarga kita. Apalagi pastinya semua keputusan itu udah dipertimbangkan masak-masak, udah dipikir benar-benar pros dan consnya. Jadi memang sutralah yaa..nggak usah dibahas karena sampe kapanpun juga nggak akan ketemu ujungnya :)
Aneh memang kalo @mamayeah selain bisa bikin ketawa juga ternyata bisa membuat saya sadar bahwa ternyata salah satu parenting skill yang harus kita miliki adalah contenment ya. Content/puas/ikhlas dengan diri kita, puas dengan pencapaian kita (karena kita sudah memberikan yang terbaik apapun hasilnya), content dengan keputusan-keputusan yang kita ambil untuk anak karena to the best of our judgment, memang itu yang terbaik untuk keluarga kita. Nah kalo udah content, kita nggak akan pusing dengan stigma dan omongan orang, kita nggak perlu repot mencari pembenaran atau mencoba menjelaskan ke orang why we did what we did. Jadinya kita bisa fokus untuk mengurus hal-hal yang lebih penting lagi. Kalo kita sendiri aja sebagai orang tua nggak content dengan hidup kita and our place in this world bagaimana kita bisa mengaplikasikan positive parenting ke anak, mengajarkan mereka untuk percaya diri dan mempunyai penghargaan diri yang kuat?

Ehh kok jadi serius? Ciyeee…content niyeee…hehehe…content sama bebal memang beda-beda tipis sih..:p
Trus, trus, ada juga nih hal lain yang saya pelajari dari tweet-tweetnya @mamayeah, yaitu bahwa ternyata kita sebagai ibu-ibu pun nggak luput dari drama peer-pressure (and we thought we are out of high-school?). Tapi kenyataannya masih ada yang merasa terpaksa untuk mengikuti trend. Padahal, udah iri (nggak pake dengki) dengan tetangga yang punya mobil baru, kakak ipar yang jalan-jalan ke Australia, pengen punya tas baru, ehh sekarang juga ditambah dengan tekanan untuk membeli stroller merk A, diaper bag merk B, feeding set merk C dan mainan-mainan mahal dari toko mainan paling hip.
Ada memang yang masuk kategori financially wealthy sehingga kalau membeli perlengkapan anak yang paling mahal pun masih termasuk receh untuk kantongnya. Tapi..enngg kalo mau jujur, mungkin…..mungkin lhoo…(jadi deg-degan sendiri) banyak juga diantara kita yang sebenernya belum mampu. Ya uang untuk beli sih pasti ada-ada aja, tapi apa prioritasnya udah bener? Kan jangan sampe uang yang harusnya bisa masuk untuk investasi dana pendidikan, dana darurat dan dana pensiun, atau bayar kartu kredit malah ditukarkan dengan barang yang sebenernya nggak perlu-perlu amat. Tau sih kesannya kepo banget ngurusin uang orang..’terserah gue dehh uang uang gue..kok dia yang ribet’..tapi kalo kita selalu bilang we want the best for our children, then maybe we have to ask ourselves..what is best for them? For their future?. Is it the latest toys? One thing I’ve learned about parenting is that it’s never about the parents, it’s always about the child. Jadi lucu aja kan kalo orang tuanya kena peer pressure. Kalo memang nggak mampu ya mendingan nggak usah ikut-ikutan kan..(jeritan hati para editor Mommies Daily, nih..:D )

Memang sih nggak heran kalo first time mom, untuk yang anaknya masih balita, lebih fokus dengan hal-hal jangka pendek dan sifatnya fungsional karena memang kebutuhan untuk sisi fungsionalnya lebih banyak. Bukannya saya berpikir bahwa ibu-ibu yang heboh dengan segala urusan kelengkapan anak jadi nggak mikirin sisi psikologisnya ya, tapi pasti ada saatnya kita terbawa dengan kesibukan itu sampai waktu main kita dengan anak jadi berkurang atau kita jadi nggak punya energi lagi untuk main sama anak. Saya pernah tertohok dengan kata-katanya Najelaa Shihab, “Banyak ibu-ibu yang terlalu memikirkan asupan makan anaknya tapi melupakan hal yang juga (atau bahkan) lebih penting, yaitu asupan untuk otak anak dan pertumbuhan psikologisnya”. Sejak saat itu saya jadi lebih takut kalo anak saya nonton sinetron daripada makan chiki-chikian :D

Selain peer pressure tentang barang-barang yang lagi trend, @mamayeah juga menyinggung tentang kekompetitifan ibu-ibu yang kadang suka membandingkan milestone anaknya dengan anak lainnya. Jadi secara nggak sadar kita menganggap anak-anak kita sebagai pencapaian kita. (Hmm…sejujurnya untuk hal ini saya masih labil sih :D, bangga dengan anak pastinya diharuskan, tapi kalau mengaktualisasikan diri lewat anak gimana ya? Kan esensi dari parenting itu untuk anak-anak kita, bukan untuk kita. Oh well, let’s talk about this some other time!). But anyway, kids are special in their own ways, perkembangannya berbeda antara satu sama lain, dan juga skill dan kemampuannya. Cara kita mendidiknya dan gennya juga beda.

Masih ada lagi sih hal-hal lain yang bikin saya mikir dari tweet-tweetnya @mamayeah. Seperti trend aktivasi otak tengah, video/lagu baby Einstein dan lain lain yang mengacu pada instant parenting. It’s not a secret that there’s no instant way to raise a successful and well rounded kid. Semua ada prosesnya dan kita sebagai orang tua juga harus rajin membekali diri dengan ilmu-ilmu parenting, rasa cinta yang berlebihan saja tidak cukup. Tapi kayanya tulisan udah cukup serius yaa untuk sesuatu yang diambil dari twitter account @mamayeah

Akhir kata, mudah-mudahan nggak ada yang tersinggung ya Mommies dengan postingan ini. Kalo ada manfaatnya silahkan diambil, kalo nggak ada silahkan di report as spam..(eh nggak bisa ya..:p). Maklumin aja ya kalo ada kesalahan karena kesempurnaan itu mutlak milik @mamayeah ;)