ASI, Praktis di Segala Medan

Sebagai seorang ibu yang jarang berada di rumah, saya merasa terbantu dan dimudahkan sekali dengan keputusan saya memberi ASI pada Rakata (17 bulan).

Pertama, tentu saja karena saat berpergian (terutama yang butuh waktu lama seperti keluar kota), saya nggak perlu ribet membawa berbagai ‘peralatan perang’. Termos, botol, dot, kontainer susu, warmer, sterilizer, sikat botol, sabun cuci, you name it lah.

Kedua, setiap Rakata haus dan ‘menagih’ susu, saya nggak perlu buru-buru menyiapkan air hangat. Tinggal cari nursery room atau tempat yang agak sepi, buka penutup bra, hap…problem solved!  :D

Ketiga, tentu saja diurusan bersih-bersih. Bagi pemalas kelas kakap seperti saya, ketidakharusan mencuci dan mensterilkan botol, dot dan teman-temannya merupakan berkah yang amat saya syukuri, hihihi.

Intinya sih, memberi ASI merupakan solusi jitu buat tipe manusia emoh repot macam saya ini. Selama ‘pabrik’ masih produksi, ASI akan langsung tersaji setiap dibutuhkan.

Perlu bukti bahwa memberi ASI itu praktis sekali karena bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja? Nih, saya punya koleksi foto saat menyusui Rakata di berbagai medan.

Mulai dari diberbagai sarana transportasi…

Di alam bebas…

Atau di manapun selama ada tempat buat duduk! Misalnya:

A. Halte bus TransJakarta

B. Kafe/Resto

C. Pertunjukan teater

D. Warung Indomie kaki lima

E. Pelataran depan loket sambil berteduh saat hujan!

Memang sih, nggak selamanya memberi ASI secara langsung itu mudah. Di tempat yang cukup ramai dan suasananya kurang kondusif, butuh tekad kuat (dan urat malu yang sudah putus) untuk berani menyusui.

Apalagi, jika mengalami nasib seperti saya di mana Rakata sudah menolak ditutup nursing apron sejak usianya empat bulan. Jadilah sejak itu saya mencoba cuek menyusui kapanpun dan di manapun. Suami saya bilang, saya resmi jadi pelaku pornoASIX (plesetan dari pornoaksi, hihihi).

Tapi dari pengalaman saya nih, rata-rata orang nggak terlalu berminat nontonin ibu menyusui kok. Jika nggak sengaja melihat, mereka biasanya langsung buang muka. Risih kali ya  :D

Bagi yang sering terpaksa menyusui di tempat umum (dan nggak menemukan tempat persembunyian layak, plus anak sudah nggak mau ditutup nursing apron), saya punya beberapa tip agar ‘si pabrik susu’ aman dari sorotan publik:

  • Terapkan prinsip ASAP

Begitu ada tanda-tanda anak ingin menyusu, langsung susui saat itu juga. As soon as possible. Soalnya kalau telanjur nangis histeris, bisa mengundang perhatian orang di sekitar. Ujung-ujungnya, kita malah salting karena berasa dilihatin. Apalagi kalau anaknya sampai ngamuk dan menarik-narik baju kita dengan gragas :D

  • Pakai atasan longgar

Nggak perlu baju menyusui, kok. Selama bisa memposisikan anak dengan tepat, baju yang longgar akan tetap menutupi tubuh kita—sedikitpun bagian privat (termasuk payudara dan perut) nggak akan terumbar. Believe it or not, pada foto-foto di atas, nggak ada satupun yang saya memakai baju menyusui loh (memang nggak punya, hihihi). Tapi kalau bra menyusui, hukumnya wajib!

  • Pilih posisi pojok

Atau setidaknya posisi yang membelakangi keramaian. Intinya, minimalkan peluang jumlah mata yang melihat. Makin dikit, makin bagus

Diceritakan oleh Amelia Yustiana (http://ameeel.multiply.com), ibu dari Rakata Darrell, 17 bulan.


57 Comments - Write a Comment

  1. Toss! Gw juga sama malesnya sama lo. Hehehe (selama ini Wisnu yg tugas steril etc, klpun perlu)
    Sejak Rakata usia berapa minggu mulai lo bawa keluar, Mel?
    Gw pengen bgt ajak Sienna keluar (selain ke dokter, tentunya!), tp dia masih kecil bgt, belom juga 2 minggu. Target gw simpel bgt, bisa kemana2 bawa Sienna (dan lo bener, being blessed with “termos” susu portabel organik alias PD, sayang kl mau kemana2 pk acara perah-memerah dulu :p) . Jd busui 24/7 nggak berarti musti ngendon di rumah terus dong? :)

Post Comment