Bye-bye Mimik dan Botol!

“Mimik!”

Kata itu selalu diucapkan Parama Angin Selaksa aka Rama setiap kali mau tidur sebagai tanda mau ‘nyusu’ ke saya.

Sebenarnya sudah sejak umur 2 tahun saya kepengen menyapih Rama karena sepertinya dia sekedar main-main menikmati fase oralnya itu. Apalagi dia minta ‘mimik’ itu setelah minum susu UHT. Pastinya sudah kenyang, kan. Namun ternyata butuh proses yang agak lama karena saya sendiri juga menunda-nunda nggak tega, hehe… Akhirnya saya dan ayahnya membulatkan tekad juga untuk menyapih karena 2-3 kali pernah terbukti Rama bisa tertidur tanpa mimik. Mungkin lupa karena kecapekan. Jadi sejak umur 2,5 tahun tiap kali Rama minta mimik, saya dan ayahnya selalu bilang, “Mimik itu kan buat adik bayi. Rama kan sudah besar. Besok berhenti mimik, ya. Rama kan anak baik.” Begitu terus diucapkan setiap hari sambil saya tetap menyusui Rama. Kadang Rama menjawab ”ya” tapi lebih sering diam saja.

Suatu malam di bulan Agustus, saya dan ayahnya berniat iseng tidak memberikan mimik ke Rama waktu dia minta. Eh si Rama membik-membik mewek, nangis, lalu berbalik badan dan tidur sambil tengkurap. Niatnya sih nanti bakal saya kasih juga, eh taunya dia sudah tertidur beneran. Tiga malam kemudian saya baru tersadar kalau sejak itu Rama sudah tidak minta mimik lagi, cuma minum susu aja pakai botol dot. Aih, ternyata proses penyapihan Rama tidak sesulit yang saya kira sampai-sampai saya tidak sadar kalau proses penyapihan sudah berhasil.

”Susu!”

Nah, kalau kata ini berarti Rama minta susu dan identik dengan minum susu dari botol. Sekarang giliran membebaskan dia dari si botol ini. Ternyata ini lebih susah karena botol memang relatif praktis, bisa diminum sambil tiduran, sambil jalan-jalan, atau dibawa bepergian. Tiap kali Rama selalu minta minum susu pakai botol. Namun demi menceraikan Rama dari botol, tiap kali dia minta susu, kami (saya, ayahnya, dan mbak ART) selalu disiplin menawari, ”Pakai gelas, ya. Botol kan buat bayi. Rama kan anak baik, sudah bukan bayi lagi.” Bisa dipastikan Rama akan menjawab, ”Pake botol!” Kalau nggak dikasih botol? Sudah tentu dia akan rewel terus-terusan sampai dikasih susu lewat botol.

Permintaan Rama dan penawaran dari kami itu terus dilakukan berulang-ulang tiap hari. Belakangan karena kebetulan dotnya sudah rusak, saya menunjukkan dotnya itu ke Rama sambil bilang, ”Nih, dotnya sudah rusak. Mau dibuang. Nanti minum susunya pakai gelas, ya.” Lama-kelamaan, himbauan kami untuk memakai gelas makin dipertegas. Meski dia minta botol, saya kasih dia gelas. Awalnya dia nangis, menolak. Namun saya cuekin. Berhubung tidak ada opsi lain, akhirnya lama-lama dia mengambil gelas susu dan meminumnya.

Berikutnya kalau dia minta susu langsung saya kasih gelas. Eh, beberapa hari kemudian dia bilang, ”Minumnya pakai jiyas, ya? Botolnya sudah lusat, ya? Botolnya dibuan, ya?” Oalah… anakku Rama sudah gede dan sudah mengerti apa yang kami sampaikan. Dan juga kembali kami merasa beruntung karena Rama tidak pakai acara ngambek lama gara-gara diputuskan dari botol dotnya itu.

Sekarang Rama sudah 2 tahun 10 bulan dan sudah 3 mingguan Rama resmi selalu minum susu pakai gelas. Sejak minum susu pakai gelas ini Rama jadi tambah mandiri. Dia masih selalu bilang, ”Susu! Rama mau susu!” Lantas dia ambil gelas plastiknya di meja, buka kulkas sendiri, ambil susu UHT, membuka tutupnya, dan menuangkan isinya ke dalam gelas. Seringkali dia tidak mau dibantu menuangkan susu. Akibatnya susu selalu tumpah berceceran tiap kali dia menuangkan susu ke gelas. Ya tidak apa-apa, namanya juga proses, toh?

*Dikirimkan oleh Yoke Yuliana


29 Comments - Write a Comment

Post Comment