Dicari; Sekolah Idaman!

Tahun ajaran baru memang masih 7 bulan lagi. Tapi..tahukah kalian kalau banyak sekolah yang sudah mulai membuka pendaftaran? Apalagi kalo sekolah favorit, jangan-jangan malah sudah sampai waiting list.

Cari sekolah untuk anak itu gampang-gampang susah ya. Kayanya jaman dulu, orang tua kita nggak sebingung ini deh memilih sekolah, cap cip cup aja milih yang paling dekat dari rumah. Pilihan sekolah  juga belum sebanyak sekarang, kan.

Waktu anak saya belum sekolah saya selalu beranggapan..“Ngapain sih masukin anak ke sekolah mahal-mahal? Gue juga produk SD Negri dekat rumah kok dan nggak jelek-jelek amat nasibnya..:D”. Pokoknya sok idealis, kekeuh berpikir bahwa yang penting itu bagaimana kita mendidiknya di rumah, sekolah bagus dan mahal bukan jaminan untuk menghasilkan generasi yang lebih bagus.

Ternyata, setelah anak saya memasuki usia sekolah, ceritanya lain lagi. Di dekat rumah memang ada TK dan SD yang tinggal jalan kaki aja. Tapi kok tampaknya kurang genah ya? Jadi lah saya mulai mencari informasi tentang sekolah-sekolah lainnya. Dan waktu saya tau bahwa sistem dan filosofi setiap sekolah itu berbeda-beda, baru deh saya mulai puyeng dan mau nggak mau harus berpikir lebih kritis lagi tentang program yang ditawarkan.

Jadilah bertambah banyak kriteria tentang sekolah ideal menurut saya dan lokasi bukan lagi menjadi faktor utama walaupun tetap dijadikan pertimbangan. Saya juga tidak terlalu memusingkan fasilitasnya lagi tapi lebih concern dengan apa yang dijalankan pihak sekolah pada hal-hal yang menyangkut sisi psikologis anak. Antara lain seperti apakah sekolahnya menyenangkan? Bagaimana proses belajarnya? Banyak PR nggak? Adakah ruang yang cukup untuk anak bergerak? Apakah sekolah tersebut mempunyai anti-bullying policy dan program no child left behind? Bagaimana dengan open-door policy? Guru-gurunya approachable nggak?  Apakah sekolah tersebut mengajarkan nilai-nilai yang sama dengan saya di rumah? Bagaimana dengan suasana di sekolahnya? Pajangan piala yang berderet mungkin memang kebanggaan sekolah (jangan lupa check itu piala taun berapa, jangan-jangan dari jaman kita belum lahir :p), tapi saya lebih nyaman dengan tembok yang banyak dihiasi oleh karya-karya muridnya, apapun bentuknya. Dan masih ada lagi lah sederet pertanyaan. Memilih sekolah untuk anak membuat saya seperti diajak kembali berpikir tentang filosofi parenting saya dan karakter seperti apa yang saya inginkan dari anak-anak saya.

Bener sih memang, bahwa pendidikan itu dimulai dari rumah, bahwa keluarga mempunyai peranan penting dalam membentuk budi pekerti anak. Tapi..untuk ibu yang bekerja. Berapa jam sih waktu yang dihabiskan bersama anak setiap harinya? Bukan sekedar begitu sampai rumah sampai anak tidur ya, tapi waktu yang benar-benar digunakan untuk bercengkerama bersama anak? Tanpa gangguan TV, Internet, Blackberry dan lain sebagainya?

………

Sejam?

Dua jam?

Kira-kira nilai dan pembelajaran apa yang sudah kita berikan pada anak dalam waktu yang sangat singkat itu?.

Kalo mau jujur memang miris banget sikon yang ada sekarang ini, waktu kita untuk anak sudah terkikis habis oleh kerjaan, kemacetan, keriaan kita sebagai makhluk sosial dan serentetan acara lainnya. Kita mungkin dulu baik-baik saja di sekolahkan di sekolah yang ketika memilihnya tidak perlu mikir seribu kali. Tapi..dulu orang-tua kita mempunyai waktu yang jauh lebih banyak untuk kita. Mungkin kebanyakan dari kita mempunyai ibu yang setia di rumah. Jadi kita memang selalu berada di bawah pengawasannya. Kalau pun ibu kita bekerja, pasti sore juga sudah sampai di rumah karena pada waktu itu macetnya belum seheboh sekarang. Lagipula kalau pun dulu ibu kita bekerja, kita juga di rumah dituntut untuk lebih kreatif kan? Karena dulu belum ada acara macem-macem di TV. Kesempatan kita untuk terpuruk karena TV dan Internet itu belum ada.

Sekarang jaman sudah berubah, teknologi sudah semakin maju, tantangan yang ada pun sekarang jauh lebih berat. Terutama dalam 10 tahun belakangan ya yang kondisinya sangat fluktuatif baik dari segi ekonomi, finansial, politik dan juga sosial. Dan itu nggak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga di negara lain. Bisa dipastikan dalam 10 tahun ke depan, ketika anak-anak kita sudah mulai menjajaki real world, banyak tipe pekerjaan baru yang menuntut skill berbeda, cara kita berkomunikasi juga sudah lebih canggih dari sekarang dan problemnya juga sudah lebih kompleks lagi.

Intinya, saya nggak yakin anak-anak saya bisa survive di jamannya nanti kalo diberi pendidikan seperti jaman saya kecil dulu :(.

Jadi menurut saya, kalo dilihat dari kondisi sekarang dan kondisi yang kira-kira akan dihadapi oleh anak-anak kita nanti, dibutuhkan orang-orang yang dapat beradaptasi dengan baik untuk survive, yang observant dan awas dengan sekelilingnya serta open-minded. Kreatifitas juga sangat menentukan survival rate seseorang. Kreatif di sini bukan berarti dalam kesenian ya, tapi dalam melihat problem. Orang kreatif akan menganggap problem itu sebagai tantangan dan kesempatan, bukan batasan. Diperlukan juga orang responsif, capcus kalo bahasa sehari-harinya. IQ tinggi tidak akan berarti banyak jika tidak diimbangi dengan EQ yang baik. It’s not what you know anymore, it’s who knows you.

Untuk gampangnya sih, kita bisa cermati orang-orang sukses di sekililing kita karena biasanya mereka mempunyai karakter yang kurang lebih sama. Kalau saya perhatikan dari ruang lingkup pekerjaan dan industri saya, selain skill yang terkait dengan industrinya, dibutuhkan orang-orang yang punya kecerdasan dalam berbahasa untuk sukses. Baik untuk menguraikan pikiran dalam percakapan sehari-hari, menulis ataupun presentasi dan diskusi. Tentunya kemampuan menggunakan logika matematik juga sangat dibutuhkan dalam memecahkan berbagai masalah, begitu juga dengan kemampuan memahami,  mengekspresikan serta mengapresiasi diri. Ya, mereka yang sukses biasanya sangat percaya diri. Mereka juga tidak takut dengan hal-hal baru, a true explorer and lifelong learner who are part of the solution.

Anyway, jadi dalam mencari sekolah untuk anak. Ada baiknya kita berpikir dulu tentang tujuan kita menyekolahkan anak. Untuk pengembangan intelektual? Untuk membentuk anak supaya lebih kompeten dan well-rounded? or is it because that’s how it’s been done for as long we can remember? Setelah menemukan tujuannya, baru kita pikirkan apa saja long term skill yang kita harapkan dimiliki oleh anak kita. Setelah itu kita bisa mencari sekolah yang sistemnya mendukung harapan kita tersebut.

Dulu menurut saya nilai akademik yang tinggi sangat penting. Saya memandang sekolah dari berapa banyak lulusannya yang diterima oleh SD/SMP/SMA favorit?  Tapi untuk sekarang, pandangan itu sudah berubah. Saya nggak mau memilih sekolah berdasarkan reputasi siswanya yang menjadi juara kompetisi ini dan itu. Karena toh itu hanya me-representasikan 1-2 orang dari ratusan murid yang ada. Apa kabar dengan sisanya?.

Saya juga jadi melihat bagaimana sekolah memberi nilai kepada anak. Sekarang pikiran saya baru terbuka bahwa saya nggak mau terjebak dengan mendorong anak belajar supaya nilainya bagus.  Remember the cycle? Good grades, so you can get to good school and later get a high paying job. Kalo hanya nilai bagus nggak susah-susah amat kok, tinggal nyontek, beres :p. Dan itu terbukti dengan fenomena yang ada sekarang. Menurut riset yang dilakukan Psychology Today,  dulu anak-anak malas aja yang suka nyontek, sekarang anak-anak yang memang memang dasarnya pinter juga rajin nyontek. Alasannya? Takut tersaingi dan supaya nilai mereka tetap bagus supaya diterima di sekolah bagus. Landasan belajarnya kan udah salah ya kalo begitu. Maunya sih,  anak-anak saya belajar karena mereka senang dan tertarik untuk belajar.

Saya juga baru ngeh kalo pelajaran yang saya pelajari (err hafalkan) di sekolah dulu kayanya nggak ada yang tersisa di otak. Entah karena memori saya memang terbatas atau memang cara pengajarannya yang salah :p. Yang jelas, ketika belajar dulu, saya tidak bisa melihat apa yang bisa diambil dari pelajaran tersebut untuk konteks kehidupan sehari-hari. Makanya penting sekali untuk sit-in di kelas supaya dapat melihat prosesnya, cek textbooksnya dan tanyakan bagaimana sistem tes nya. Apakah kebanyakan berbentuk pilihan ganda? Terus terang sekarang saya jadi skeptis terhadap pilihan ganda. Dulu sih ketika jadi murid senang-senang aja ya karena lebih gampang dan kita selalu punya probabilitas untuk benar. Tapi sebenernya pilihan ganda itu agak menyesatkan dan tidak  membantu para siswa untuk menjadi lebih articulated, atau menolong guru untuk mengerti cara berpikir dan ide-ide para murid.

Ada nih beberapa contoh kecil. Misalnya ketika tes pelajaran agama ada soal “Ada berapa ayat di surat Al-Fatihah?” Tentunya saya hafal surat Al-Fatihah tapi at the top of my head, saya tidak tau ada berapa ayat surat Al-Fatihah itu. Nggak penting lah ya tau berapa ayat, yang penting hafal dan tau arti dari surat tersebut.

Pernah juga ada soal ulangan yang tersebar di Internet, yang menurut saya aneh banget. Jadi ada gambar seseorang ibu-ibu yang sudah agak tua, saya lupa pertanyaannya apa. Tapi pilihan jawabannya adalah (a) Bapak (b) Ibu (c) Mbok  (yang jelas pertanyaannya bukan ‘Siapa yang melahirkan kamu?‘ atau ‘Siapa istrinya bapak kamu?‘ :D. Nah jadi ekspektasi gurunya itu, murid-murid menjawab; Ibu. Padahal, murid-murid tidak merasa gambar itu mendeskripsikan ibunya, malah terlihat seperti mboknya. Tapi tentu saja yang menjawab Mbok disalahkan.

Pernah juga ada soal…

1. Saya ………. membaca
(a) Senang  (B) Tidak Senang

Nah,  yang menjawab B pastinya disalahkan. See, dari kecil sudah ditanamkan bahwa it’s ok to lie demi mendapat nilai bagus karena akan menyenangkan orang tua dan guru. Anak-anak sudah dikondisikan untuk melakukan atau menjawab sesuatu sesuai dengan apa yang dicari oleh gurunya. Jadi kesan yang diambil anak-anak adalah bahwa kesuksesan mereka bergantung pada keputusan orang lain,  bukan pencapaian mereka pribadi seutuhnya.

Oh I can go on and on and on about this. Beberapa minggu terakhir benar-benar membuat saya merenung dan mempertimbangkan dari A sampai Z nya tentang baik dan buruk suatu sekolah. Akhirnya pencarian saya berakhir dengan kesimpulan bahwa sekolah ideal menurut saya adalah yang membuat anak saya merasa betah dan nyaman di sekolah (D’oh!..:D). Untuk itu dibutuhkan sekolah yang process oriented dan proses belajarnya menyenangkan karena pendidikan adalah sebuah proses, bukan pemberian informasi. Dalam prosesnya diharapkan dapat membantu anak saya lebih berpikir, lebih kritis, lebih dapat berimajinasi, memahami, menemukan korelasi, membentuk argumen serta menciptakan solusi.  Kalau rangkaian pembelajarannya sudah seperti itu, harusnya itu kurang lebih sudah mempersiapkan anak saya for the uknown dan membekalinya dengan skill yang dapat diaplikasikan ke segala kondisi. My kids are special kids, just like your kids and any other kids, yang mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri and I want them to be aknowledged and appreciated for their strength and encouraged to work on their weaknesses and reach as far as their potential lead them to. Maunya, sekolah juga dapat membantu memahami dan membangun hubungan antara anak saya dengan dunia dan alam sambil tidak lupa menyayangi sesamanya. Selain itu, sekolah juga harus bisa mengajarkan science dari pandangan seorang scientist tanpa melupakan nilai-nilai agama yang dianut. Dan yang terakhir, yang cukup surprising untuk saya sendiri, ternyata saya mau sekolah anak saya nanti melibatkan saya sebagai orang tua dalam prosesnya, sehingga saya juga dapat belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

It must be remembered that the purpose of education is not to fill the minds of students with facts, it is to teach them to think- Robert Hutchins.


Wow. Panjang ya ramblingnya. Bagaimana dengan Mommies di sini? Sekolah seperti apa yang diidam-idamkan dan apakah sudah menemukannya? Share yuk…:)


61 Comments - Write a Comment

  1. gw setuju banget han, kaya investasi aja, petama-tama yg harus kita tanyakan “tujuan lo apa nykolahin anak?”
    untuk sosialisasikah? biar disiplinkah? biar gaulkah? atau ikut2an?

    gw pribadi awalnya kekeuh langit mau sekolah dgn alasan untuk sosialisasi. tapi ternyata keinginan gw belum disetujui suami gw. dia punya cara lain yg menurut gw sangat masuk akal. yaitu dgn mempertemukan langit sesering mungkin dnegan org lain. toh lama2 dia jadi nggak ‘norak’ kalo ketemu org baru. akhirnya sampe skg, langit belum gw sekolahin.
    terus kdua, biar anak pinter? setelah ngobrol panjang lebar sama Mike mamaknya Dante, gw sadar kepinteran anak bukan dari sekolah yg paling mahal atau yg paling disiplin. tapi as u mentioned, dari rumah, dari keluarga. berapa jam waktu yang kita punya? gw rasa bukan masalah berapa kuantitasnya tapi lebih ke kualitas. gw tau banget Mike dan suami adl pekerja yg punya sdkt waktu utk Dante, eh tapi mereka mmepergunakan waktu yg sedikit itu dgn kualitas tinggi. ngiri deh gue, makanya alasan gue mencerdaskan langit langsung gw coret :D
    ikut2an? nah ini paling mungkin deh jadinya, ngeliat kanan kiri anak2 org udh pada mulai sekolah jadi pengen ikutan juga.
    tapi untungnya hal ini ga terlalu berpengaruh buat gw, jadi masih bisa ketahan :)

    *gw OOT ya?*
    intinya setuju sm elo deh han, memilikih sekolah bukan karena orangtuanya yg suka tapi somehow anak akan menunjukkan kalau dia betah di sebuah lingkungan baru. jadiiii… sekolah yang pake trial itu penting! deket rumah gw ada sekolah yg secara fisik bangunannya oke, tapi ga boleh trial. langsung gw coret dari daftar sekolah tujuan Langit :p

    panjang yeeee….

    1. Hanzky

      Serius ada sekolah yang nggak ngebolehin trial? Apa yang disembunyiin ya? Yang nggak boleh trial anaknya aja apa orang tuanya juga? Menurut gue kalo anaknya yang nggak boleh trial, masih bisa agak dimengerti karena nggak akan terlalu berpengaruh banyak juga kali ya. Kalo anaknya lagi bad mood kan juga kita nggak bisa menilai apakah anak itu happy di sekolah itu. Lagipula kebanyakan anak juga masih malu-malu pas pertama kali itu, jadi nggak mau gabung dengan yang lainnya.

      Tapi kalo orang tuanya yang nggak boleh trial sih patut dicurigain ya. Trus memutuskan mau ngirim anak ke sekolah itu berdasarkan apa dong?

      Mamak Mike mesti sering-sering nulis dan bagi ilmu di Mommies Daily nih kayanya yaaa….:)

  2. Panjang ya Han…*tepuk tangan dulu*.. ternyata susah ya nyari sekolah..gw sendiri tadinya bcita2 utk masukkin anak gw ke sekolah alam. Krn so far gw liat misinya bagus.. Kendalanya ya..blm ada sekolah alam dkt rmh gw. Trus gw mikir apa homeschooling aja..dan msh cari2 informasi ttg hal ini sih..

    Will see nanti deh kalo anak gw udh masuk usia sekolah, skrg mah baru mau setahun umurnya :) cuman emang gwnya aja yg udh rempong..hi..hi..

    1. Hanzky

      Banget…secara ini curhat pribadi..hehe. Sekarang home-schooling mulai banyak yah di sini, tapi gue belum cari-cari informasi sih, karena udah tau nggak akan sanggup juga. Kalo di luar kan home-schooling itu diajarin orang tuanya ya, kayanya kalo di sini didatengin guru ke rumah yah?..Hmm..menarik nih untuk dibahas..

  3. Hmmm emang sbg ortu dituntut mesti kreatif dlm hal apapun.Cari sekolah
    buat anakku yg utama GAK GILA PR! Trs ank ga terbebani dg ‘paksaan2′ menghapal,
    jg tdk melulu mementingkan ‘angka’ dibanding ‘nilai2′ sosial/kemanusiaan yg mnurut sy jauuuh lbh penting
    dibndg skdr angka.Dan sekolah sebaiknya memberi ‘apresiasi’ thdp kebaikan2 serta prestasi yg anak lakukan setiap hari.
    Gmnpun jg,ank hrs senang berada d sekolahnya tnpa keterpaksaan ataupun ‘rasa mulas’ setiap hari.hahahaha

    1. Hanzky

      Ugh, kebayang rasa mules yang gue alamin waktu SMP setiap ada pelajaran Sejarah. Secara ya itu guru akan kliling ruangan sambil bawa penggaris dan akan ngeplak telapak tangan muridnya yang nggak bisa jawab pertanyaan…huhuhu….

      Iya nilai2 sosial/kemanusiaan itu penting banget ya…kaya bencana Merapi, Mentawai, Wasior ini harusnya sekolah menggerakan murid-muridnya melakukan sesuatu/memberi bantuan. Kecewa sekolah anakku yang satu kok adem ayem aja nggak ada kabar soal penggalangan donasi :(.

      1. Sekolah Tiara malah udah dikirim Han sumbangannya sabtu kemaren. Lumayan cepet tanggap sekolahannya. Wkt lebaran kemaren murid2 jg disarankan utk menyumbang, tp sukarela, tidak ada paksaan.

      1. bener banget deh han, gue sempet mau masukkin Awan ke sekolah yang uang pangkalnya lumayan bikin dompet mejret, tapi after trial gue ga sreg ama sekolahan ini. Untung deh pake trial dulu, apa jadinya kalo ga ada?

  4. Ah bener Han.. Ini PR banget nih. Taun depan rencananya udah musti mulai survey sekolah buat Maika. Rasanya puyeng dengan beragamnya sekolah jaman sekarang. Kadang pengen juga ga ada pilihan, tapi ya masukin aja sekolah yg ada kayak jaman gue kecil dulu :)
    Tapi berdasarkan pengalaman jamn gue sekolah dulu yang strict banget, ulangan melulu, mentingin nilai akademik, rasanya gue ga mau sih masukin Maika ke sekolah model begitu. Sekarang ga ada yang nyangkut koq ama gue :)
    Yaaa… Selanjutnya bikin list sekolah deh yg mau disurvey dan trial :)

    1. Hanzky

      Oh ternyata bukan gue aja yang udah lupa sama pelajaran sekolah dulu ya…:D. Iya Pai, kalo anak nggak seneng sekolah, kitanya yang repot. Lagipula kan memang kita akan lama ya menitipkan anak di sekolah, anak-anak lebih sering ketemu gurunya daripada ibunya. Makanya jangan sampe pas udah masuk baru ngerasa nggak sreg.

  5. Great article han! Sepakat banget kalo nyari sekolah itu emang membutuhkan pemikiran yang dalam dan nggak bisa buru2 diputuskan. Itu juga salah satu alesan kenapa Aluf belum gue sekolahin. Selain alasan yang kurang lebih mirip sama Lita, gue jg maunya kl emang dia masuk sekolah, kalo bisa sih sekolah yg emang gue bener2 sreg (dengan pertimbangan yang kayak elo bilang di atas itu) dan sekalian aja sampe dia SD kalo bisa.

    Masalahnya, emang gak gampang nyari yg sesuai kriteria, sesuai budget dan ideal secara lokasi. Harapan gue sekolah2 yg makin banyak bermunculan ini dengan harga yang bikin mules, nggak cuma keliatan hebat dari segi fasilitas aja tapi bener-bener menerapkan sistem edukasi yang membuat anak-anak kita jadi individu yang berwawasan luas, percaya diri, peduli dgn lingkungan dan sesama, kritis dan kreatif, sehingga kita sebagai orang tua juga jadi semakin punya banyak pilihan.

  6. *dari pagi kuping gatel ternyata lagi disebut2 di sini :D*

    Saya hadeeerrrr!

    Thanks for sharing, Han.
    Sejujurnya, dari Dante umur 2 taun gue pingiiinn banget nyekolahin dia. Alasannya? Ya klise lah, belajar sosialisasi. Dan sama kayak Mamak Lita, usulan ditolak suami gue. Dengan alasan yang sama pula kayak suaminya Lita, sosialisasi kenapa harus di sekolah. Toh Dante main kok dengan anak2 tetangga, baik yang umurnya di bawah atau di atas Dante.
    Alasan lainnya, ehm, gue pingin banget ngasih aktivitas yang bikin Dante capek. Jadi tidurnya bisa lebih cepet dan otomatis bangunnya lebih pagi. Hehehe..

    Tapi akhirnya kita sepakat buat nyekolahin Dante taun depan, ketika umurnya 4 taun (yak, jadi inget PR buat mulai shortlist & trial sekolahan :D).

  7. Anknya blun lahir tp jd iktan mikir jg baca ini…
    Dulu gw mikirnya mo masukin ke sd jaman gw dulu Aja,krn dr sd-kul plajaran yang masi nyangkut ampe skrg cuma plajaran sd hehe jd mnrt gw sd gw itu cukup bhasil dr sisi academic aplg lyat tmen2 sd gw yg relatif lbh bhasil dr sisi pekerjaan dbanding tmen smp-kul,tp stlh baca ini gw inget2 lg trnyata dr sisi psikologi krg ok..dulu waktu tk gw kritis bgt,suka nanya&brani tampil,tp pas sd itu lama2 gw jd murid yg iya2 Aja,sampe nyokap gw smpt dtg ke skolah&ngmg ma guru gw tp ya gmn gwnya terlanjur malu,takut diledekin yg bertahan ampe skrg akirnya berhasil scars academic jd g terlalu penting lg..
    S7 bgt ama

  8. Anknya blun lahir tp jd iktan mikir jg baca ini…
    Dulu gw mikirnya mo masukin ke sd jaman gw dulu Aja,krn dr sd-kul plajaran yang masi nyangkut ampe skrg cuma plajaran sd hehe jd mnrt gw sd gw itu cukup bhasil dr sisi academic aplg lyat tmen2 sd gw yg relatif lbh bhasil dr sisi pekerjaan dbanding tmen smp-kul,tp stlh baca ini gw inget2 lg trnyata dr sisi psikologi krg ok..dulu waktu tk gw kritis bgt,suka nanya&brani tampil,tp pas sd itu lama2 gw jd murid yg iya2 Aja,sampe nyokap gw smpt dtg ke skolah&ngmg ma guru gw tp ya gmn gwnya terlanjur malu,takut diledekin yg bertahan ampe skrg akirnya berhasil scars academic jd g terlalu penting lg..
    S7 bgt ama tlsan ini pengennya ank gw g cm Pinter iq tp jg eq amiiin

  9. sampai sekarang gw masih browsing2x sekolah, kebetulan si Kakak baru 2,5 tahun, jadi tahapan TK belum buru2x. mungkin ekspetasi gw ingin dapat sekolah seperti gw waktu kecil di LN (waktu ikut ortu tugas belajar) dimana biarpun sekolah gw “hanya” kategori public school, tp guru2x kita saat itu mengajarnya dgn cara two way discussion dan alat peraga itu mmg dibawa ke kelas utk memahami ilmu. kadang2x di musim spring/summer, kita diajak ke museum atau taman utk belajar hal2x esensial utk hidup seperti memahami pemakaian kompas, memahami hal kecil tapi berarti…

    gw ingin dapat sekolah yg mau memahami kekurangan anak2x gw kelak, bukan menolak jika anak2x mmg punya perbedaan dlm belajar, tapi menghargai anak2x sebagai satu individu dgn kelebihan dan kekurangan. enaknya pendidik dan ortu dan juga anak duduk satu meja utk menyelesaikan masalah2x yang timbul…

    satu lagi, gw mau sekolah yang sepaham sama kita sebagai orang tua, kalau nilai itu penting tapi lebih penting etika dan budi pekerti, jadi jangan push anak nilainya bagus tapi hasil nyotek… no no no lah yauw…

    tapi juga penting, ada ya gak sekolah yg bagus begitu dgn biaya yg tidak terlalu mencekik? gw rela kok gak belanja tp kalo sampai menggangu pengeluaran RT juga bikin bingung nie :P

    ada gak ya sekolah seperti itu? banyak permintaan ya gw hehehehe

  10. @nopai: dududu, sekolah siapa tu dulu ya yang ulangan terus tiap hari, hehehe

    baca artikelnya Hani kali ini, bener2 merefleksikan apa yang gue pikirin selama ini, bahkan setelah gue udah mengambil keputusan soal sekolah anak2 gue tetep aja pertanyaan-nya masih berlanjut, apakah keputusan gue bener, apakah sekolah yang akhirnya gue pilih memang bener2 sesuai dengan segala aspek yang gue pikirin..
    well, i think it will be an ongoing thoughts, so far gue cukup puas sama pilihan gue, walopun tetep ya punya sejuta pertanyaan..
    *kok gue jadi ikutan curhat juga ya

  11. Anak gw Raka (2th 9 bln) baru 2 bulan masuk toddler class di salah satu islamic bilingual preschool di jaksel sini..

    Gw sih sampe skarang ngga menganggap anak gw ini bersekolah yang beneran sekolah ya, tp sekedar sarana sosialisasi en belajarnya dia aja (sekedar memprovide apa yang ga bisa anak gw dapetin drumah, dgn harapan ada balancing).

    Dulunya gw sempet yang ga mau buru2 nyekolahin anak gw, pemikirannya kurang lebih sama kaya mommies2 diatas. Tapi setelah berembuk panjang sama suami, en melalui pertimbangan2 yang kita rasa mendukung, resmilah si Raka jadi murid pre school utk pertama kalinya.

    Dan alhamdulillah bgt juga, sekolahannya Raka ini adalah sekolah pertama yang di trial en langsung sreg baik anaknya maupun gw en suami juga.

    Setiap orangtua pasti punya standar tersendiri dlm memilih sekolah untuk anaknya. Kalo gw pribadi, selain pertimbangan2 yang kurang lebih sama kaya yg Hanzky udh sebutin di tulisannya diatas, untuk tahapan preschool sampai TK ini gw fokusin untuk nyari sekolahan yang basicnya agama, bukan cm nuansanya aja lho ya tp yang memang memasukkan agama dalam kurikulum en semua aspek pembelajarannya. Jadi kasarannya afal doa bukan sekedar afal doang tapi jg ke makna yg lebih penting.

    Alasannya simple aja sih, gw pengen sejak dini anak gw udah dapet pengenalan dasar thd agamanya, sedangkan gw sndiri ngerasa belum siap untuk membekali anak gw dgn pengetahuan itu (maklum basic agama gw masih minim bgt, FYI gw seorang mualaf :) masih terus en terus belajar)*sori klo misal OOT*
    Tar kalo anak gw lebih afal doa2 dibanding gw kan malu jg bok, jd maksudnya siihh biar gw jg terpacu untuk terus belajar hehe :D

    Tp klo gw en suami sbenernya sih tipe yg santai aja, ga saklek harus gini gitu dalam milih sekolah. go with the flow,liat dari perkembangan en kebutuhan si anaknya aja nanti. Tugas kita skrg cm nabung en nabung biar tarnya ga pusing klo ud saatnya kluar duit segepok utk daftar skolahan hehee.. masih panjang euy. SD SMP SMU kuliahhh…

    Sepakat sm Hanzky, sekolah itu hanya institusi, proses belajarnya itu sendiri yg mnurut gw lebih penting.

    ya intinya sih, setiap orgtua punya pilihan dan standar tersendiri dalam memilih sekolah ideal or skola idaman untuk anaknya.. dan menurut gw sih ga ada (or belum nemu ya?) sekolah ideal di luar sana. Tapi kita sbgai orgtua lah yang harus bisa memposisikan diri sebagai partner dengan sekolah anak kita, dimana bisa saling mengisi dan memberi apa yang menjadi kekurangan maupun kelebihan satu sama lainnya.
    So, dengan terus berpegangan dgn konsep partnership yg notabene selalu ada unsur take and give, serta kontrol tentunya, menurut gw sekolah “idaman” pd akhirnya bukan sekedar idaman semata lg.

    nah jd pjg deh sharingnya wkwk..
    buat mommies yg lg cari2 skola, happy hunting yak..

  12. duh, emaknya aja sekolahnya belom kelar2.. tar lagi anaknya udah mau TK abis itu SD -_- aku sih udah punya kandidat sekolahan dan kayaknyaudah mantep banget. Jadi tinggal mantepin dana pendidikan ajah… Tapi emang sekolah jaman sekarang asli susah2 deh soal2 ulangannya. Masih belom kepikiran gimana cara ngajarin berpikir nalar sama anak…

  13. wah pas bgt lagi cari sekolah SD buat anak. kmarin PG-KD anggap awal buat main2 dan belajar. skrg penentu utk kedepan kr mulai lah pelajaran2 yg beragam. dan dijalani 6th, wauuu… mudah2an ga salah pilih. tapi setuju bgt aku ga mau sekolah yg memaksa murid duduk diam, dengar guru, hafalkan, PR byk, Ulangan2. Anak tiap mau brgkt sekolah stres dgn beban pelajaran dan buku2 yg beratnya ampuuunnn. Ayo ANAK kita bukan robot atau mesin penghafal. jgn spt dulu lagi dh. thx ya buat menambah pencerahan dan teman yg seide. tdk memaksa masukkan anak ke sekolah berdasarkan gengsi ortu.

  14. Wow great article Han ;)
    Tiara “skolah” udah dari 8 bulan. Biar ga bosen di rumah terus :D kalo dulu, utk baby and mommy class, nyari sekolahnya ga muluk2, nyari yg bersih sekolahnya dan yg deket rumah. Begitu Tiara mau 2 tahun, baru deh mulai concern thd proses pembelajaran sekolahnya. Mulai nyari2 deh, trial sana sini. Sekolah yg sekarang selain lebih dekat dari rumah, proses pembelajarannya juga cocok. Tapi teteup ajah gw masih ‘window shopping’ sekolah2 lain :D just to make sure kalo sekolah yg sekarang emang lebih sesuai buat Tiara and orangtuanya :)

  15. aku pendatang baru ni…pingin nimbrung komen ya…

    setuju dengan artikelnya…pingin nyekolahin fai di tempat yang buat dia merasa nyaman, dia suka dengan apa yang dia pelajari, guru2nya dan lingkungannya bersahabat dan skolah pada akhirnya bisa membantu Fai untuk menjalani hidupnya sehari-hari di masyarakat…

    Tapi…rata2 skolah yang spt kriteria diatas harganya cukup menawan ya dan pingin nyari di daerah bintaro dan skitarnya tp rata2 mrk nga ada pelajaran agamanya…:(

  16. kurang lebih saya sependapat dengan Mom Hanzky, saya pernah baca buku bacaan yg sgt menginspirasi saya tentang arti sekolah sesungguhnya.
    buku tersebut berjudul “TOTO CHAN”. bener2 nice story, and nice reality. penggambaran seorang anak yg bersekolah TK di sekolah yg bener2 menyenangkan anak didiknya.
    Hingga mereka ketagihan dan tidak bersabar menunggu pagi tiba untuk sekolah. di sekolah tsb semua anak boleh melakukan apapun yg diinginkan seseuai keinginan dan minatnya.
    selain itu juga ada pembelejaran budi pekerti, sopan santun, etika, sosialisasi as a human being. disekolah itu pun semua pendidik bahkan kepala sekolah pun ikut mengajar anak didiknya, tdk ada kesenjangan diantara mereka. karena semua dianggap keluarga.

    menurut saya umur juga perlu dipikirkan untuk kesiapan psikologis anak. karena menurut saya anak yang terlalu dini untuk sekolah akan mendapatkan permasalahan terallu dini juga. kematangan emosi mereka juga belum matang. saya lebih memantapkan usia anak sekolah TK kelak berumur 5,3th karena anak saya lahir di akhir maret jadi lebih sedikit. itupun saya mencari TK yg playing daily, dimana tdk mengajarkan CALISTUNG (baca,tulis,berhitung) tapi lebih meningkatkan motoriknya. bahkan SD pun mencari sekolah yg tdk menerapkan CALISTUNG untuk tahap awal masuk kelas 1.
    Saya berusaha tidak memaksakan apa yg tidak anak saya sukai. lebih ke memporsikan sesuai kemampuan anak dan minatnya.

  17. setujuh banget nih sama mom hanzky..
    Dari kemaren udah mikir cari SD buat Zaidan sm PG buat Mazaya di Yogya.
    Udah mulai pusing nih..

    Pengalaman waktu Zaidan PG,sbnrnya sekolahnya bagus. Sistem pengajarannya mengembangkan 7 kecerdasan anak. Gedung&fasilitasnya bagus. Guru2nya msh muda dan kreatif. Tp krn Internasional School jd ga ada nilai2 Islami yg ditanamkan pada anak2.
    Trus TK pindah ke sekolah (yg katanya) Islami,tp ternyata kurang juga. Guru2nya juga kurang bagus pendekatan ke anak2,trus dari TK A udh diajarin calistung (doohhh!) Emang salah aku juga sih waktu itu aku ga masalah ketika ga boleh trial. Krn aku denger sekolah itu bagus,pendirinya aja orang yang latar belakang agamanya kuat. tapi ternyata…. huuuhhhh…

    Makanya skrg lg pusing cr SD yg sesuai idaman ortu&anak juga..
    Tapi habis baca artikel mom han jadi lumayan ngebantu nentuin tujuannya nih..

    Thanks ya mom…

  18. Betul banget Mom Hanzky,

    Susah banget cr sekolah untuk anak, apalagi skrg utk masuk SD negeri yg bagus, usia minimal 6.5 thn, hehehe mesti On line lagi.

    Gue terlalu pagi kyknya masukin si kakak ke TK nya, di TK umur 3 thn 8 bln, nah skrg TKnya sdh 2 tahun, anaknya sdh nggak mau TK lagi. bosen katanya. Jd gue hrs nyari SD Swasta yg bisa nerima dia di usia yg kurang dr 6 thn. mau homeschooling dulu, kok rsnya aneh aja.
    Duh nggak tega rasanya, masukin sekolah yg biasa2 aja. pengennya masukin ke SD yg bagus, tp Agamanya juga bagus. soalnya aku dan suami kerja, rasa2nya kok waktu nggak cukup buat ngajarin anak soal agama ya. Jd merasa bersalah nih. hehehe. maafin mama ya nak
    Ada Sekolah yg Bagus agamanya (Semi pesantren) tp waktu sekolahnya nggak nahan jam 6.30 pagi sampai 16.00 sore, takuuut, bisa senewen ntar anaknya.

    Share dong mom’s, SD mana yg bagus, agamanya Ok. (Di Dearah Jagakarsa Jakarta Selatan).

  19. Bull’s eye! Feel the same way too, Hanz :-)

    PG dan TK buat Harsya dan Nara sudah cocok, yaitu di Amanda Montessori Bintaro. Nah, sekarang untuk SD… masih terus dan terus mencari yang cocok, baik dari segi kurikulum, lokasi, dan tentunya biaya. For me, education is part of lifelong learning.

    Btw, abang Jibran sudah SD ya? SD-nya dimana? :D

  20. Mom Sitta Karina,

    Amanda Montessori itu bagus ya? Mahal ngga fee dan uang masuk nya? Sebenernya playgroup itu perlu ngga ya (need moms comment on this..) Kalo langsung masukin TK aja pas usia 4 boleh ngga? Apa semua TK sekarang mengharuskan muridnya sudah pernah ikut PlayGroup dulu ya?

Post Comment