Dicari; Sekolah Idaman!

Tahun ajaran baru memang masih 7 bulan lagi. Tapi..tahukah kalian kalau banyak sekolah yang sudah mulai membuka pendaftaran? Apalagi kalo sekolah favorit, jangan-jangan malah sudah sampai waiting list.

Cari sekolah untuk anak itu gampang-gampang susah ya. Kayanya jaman dulu, orang tua kita nggak sebingung ini deh memilih sekolah, cap cip cup aja milih yang paling dekat dari rumah. Pilihan sekolah  juga belum sebanyak sekarang, kan.

Waktu anak saya belum sekolah saya selalu beranggapan..“Ngapain sih masukin anak ke sekolah mahal-mahal? Gue juga produk SD Negri dekat rumah kok dan nggak jelek-jelek amat nasibnya..:D”. Pokoknya sok idealis, kekeuh berpikir bahwa yang penting itu bagaimana kita mendidiknya di rumah, sekolah bagus dan mahal bukan jaminan untuk menghasilkan generasi yang lebih bagus.

Ternyata, setelah anak saya memasuki usia sekolah, ceritanya lain lagi. Di dekat rumah memang ada TK dan SD yang tinggal jalan kaki aja. Tapi kok tampaknya kurang genah ya? Jadi lah saya mulai mencari informasi tentang sekolah-sekolah lainnya. Dan waktu saya tau bahwa sistem dan filosofi setiap sekolah itu berbeda-beda, baru deh saya mulai puyeng dan mau nggak mau harus berpikir lebih kritis lagi tentang program yang ditawarkan.

Jadilah bertambah banyak kriteria tentang sekolah ideal menurut saya dan lokasi bukan lagi menjadi faktor utama walaupun tetap dijadikan pertimbangan. Saya juga tidak terlalu memusingkan fasilitasnya lagi tapi lebih concern dengan apa yang dijalankan pihak sekolah pada hal-hal yang menyangkut sisi psikologis anak. Antara lain seperti apakah sekolahnya menyenangkan? Bagaimana proses belajarnya? Banyak PR nggak? Adakah ruang yang cukup untuk anak bergerak? Apakah sekolah tersebut mempunyai anti-bullying policy dan program no child left behind? Bagaimana dengan open-door policy? Guru-gurunya approachable nggak?  Apakah sekolah tersebut mengajarkan nilai-nilai yang sama dengan saya di rumah? Bagaimana dengan suasana di sekolahnya? Pajangan piala yang berderet mungkin memang kebanggaan sekolah (jangan lupa check itu piala taun berapa, jangan-jangan dari jaman kita belum lahir :p), tapi saya lebih nyaman dengan tembok yang banyak dihiasi oleh karya-karya muridnya, apapun bentuknya. Dan masih ada lagi lah sederet pertanyaan. Memilih sekolah untuk anak membuat saya seperti diajak kembali berpikir tentang filosofi parenting saya dan karakter seperti apa yang saya inginkan dari anak-anak saya.

Bener sih memang, bahwa pendidikan itu dimulai dari rumah, bahwa keluarga mempunyai peranan penting dalam membentuk budi pekerti anak. Tapi..untuk ibu yang bekerja. Berapa jam sih waktu yang dihabiskan bersama anak setiap harinya? Bukan sekedar begitu sampai rumah sampai anak tidur ya, tapi waktu yang benar-benar digunakan untuk bercengkerama bersama anak? Tanpa gangguan TV, Internet, Blackberry dan lain sebagainya?

………

Sejam?

Dua jam?

Kira-kira nilai dan pembelajaran apa yang sudah kita berikan pada anak dalam waktu yang sangat singkat itu?.

Kalo mau jujur memang miris banget sikon yang ada sekarang ini, waktu kita untuk anak sudah terkikis habis oleh kerjaan, kemacetan, keriaan kita sebagai makhluk sosial dan serentetan acara lainnya. Kita mungkin dulu baik-baik saja di sekolahkan di sekolah yang ketika memilihnya tidak perlu mikir seribu kali. Tapi..dulu orang-tua kita mempunyai waktu yang jauh lebih banyak untuk kita. Mungkin kebanyakan dari kita mempunyai ibu yang setia di rumah. Jadi kita memang selalu berada di bawah pengawasannya. Kalau pun ibu kita bekerja, pasti sore juga sudah sampai di rumah karena pada waktu itu macetnya belum seheboh sekarang. Lagipula kalau pun dulu ibu kita bekerja, kita juga di rumah dituntut untuk lebih kreatif kan? Karena dulu belum ada acara macem-macem di TV. Kesempatan kita untuk terpuruk karena TV dan Internet itu belum ada.

Sekarang jaman sudah berubah, teknologi sudah semakin maju, tantangan yang ada pun sekarang jauh lebih berat. Terutama dalam 10 tahun belakangan ya yang kondisinya sangat fluktuatif baik dari segi ekonomi, finansial, politik dan juga sosial. Dan itu nggak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga di negara lain. Bisa dipastikan dalam 10 tahun ke depan, ketika anak-anak kita sudah mulai menjajaki real world, banyak tipe pekerjaan baru yang menuntut skill berbeda, cara kita berkomunikasi juga sudah lebih canggih dari sekarang dan problemnya juga sudah lebih kompleks lagi.

Intinya, saya nggak yakin anak-anak saya bisa survive di jamannya nanti kalo diberi pendidikan seperti jaman saya kecil dulu :(.

Jadi menurut saya, kalo dilihat dari kondisi sekarang dan kondisi yang kira-kira akan dihadapi oleh anak-anak kita nanti, dibutuhkan orang-orang yang dapat beradaptasi dengan baik untuk survive, yang observant dan awas dengan sekelilingnya serta open-minded. Kreatifitas juga sangat menentukan survival rate seseorang. Kreatif di sini bukan berarti dalam kesenian ya, tapi dalam melihat problem. Orang kreatif akan menganggap problem itu sebagai tantangan dan kesempatan, bukan batasan. Diperlukan juga orang responsif, capcus kalo bahasa sehari-harinya. IQ tinggi tidak akan berarti banyak jika tidak diimbangi dengan EQ yang baik. It’s not what you know anymore, it’s who knows you.

Untuk gampangnya sih, kita bisa cermati orang-orang sukses di sekililing kita karena biasanya mereka mempunyai karakter yang kurang lebih sama. Kalau saya perhatikan dari ruang lingkup pekerjaan dan industri saya, selain skill yang terkait dengan industrinya, dibutuhkan orang-orang yang punya kecerdasan dalam berbahasa untuk sukses. Baik untuk menguraikan pikiran dalam percakapan sehari-hari, menulis ataupun presentasi dan diskusi. Tentunya kemampuan menggunakan logika matematik juga sangat dibutuhkan dalam memecahkan berbagai masalah, begitu juga dengan kemampuan memahami,  mengekspresikan serta mengapresiasi diri. Ya, mereka yang sukses biasanya sangat percaya diri. Mereka juga tidak takut dengan hal-hal baru, a true explorer and lifelong learner who are part of the solution.

Anyway, jadi dalam mencari sekolah untuk anak. Ada baiknya kita berpikir dulu tentang tujuan kita menyekolahkan anak. Untuk pengembangan intelektual? Untuk membentuk anak supaya lebih kompeten dan well-rounded? or is it because that’s how it’s been done for as long we can remember? Setelah menemukan tujuannya, baru kita pikirkan apa saja long term skill yang kita harapkan dimiliki oleh anak kita. Setelah itu kita bisa mencari sekolah yang sistemnya mendukung harapan kita tersebut.

Dulu menurut saya nilai akademik yang tinggi sangat penting. Saya memandang sekolah dari berapa banyak lulusannya yang diterima oleh SD/SMP/SMA favorit?  Tapi untuk sekarang, pandangan itu sudah berubah. Saya nggak mau memilih sekolah berdasarkan reputasi siswanya yang menjadi juara kompetisi ini dan itu. Karena toh itu hanya me-representasikan 1-2 orang dari ratusan murid yang ada. Apa kabar dengan sisanya?.

Saya juga jadi melihat bagaimana sekolah memberi nilai kepada anak. Sekarang pikiran saya baru terbuka bahwa saya nggak mau terjebak dengan mendorong anak belajar supaya nilainya bagus.  Remember the cycle? Good grades, so you can get to good school and later get a high paying job. Kalo hanya nilai bagus nggak susah-susah amat kok, tinggal nyontek, beres :p. Dan itu terbukti dengan fenomena yang ada sekarang. Menurut riset yang dilakukan Psychology Today,  dulu anak-anak malas aja yang suka nyontek, sekarang anak-anak yang memang memang dasarnya pinter juga rajin nyontek. Alasannya? Takut tersaingi dan supaya nilai mereka tetap bagus supaya diterima di sekolah bagus. Landasan belajarnya kan udah salah ya kalo begitu. Maunya sih,  anak-anak saya belajar karena mereka senang dan tertarik untuk belajar.

Saya juga baru ngeh kalo pelajaran yang saya pelajari (err hafalkan) di sekolah dulu kayanya nggak ada yang tersisa di otak. Entah karena memori saya memang terbatas atau memang cara pengajarannya yang salah :p. Yang jelas, ketika belajar dulu, saya tidak bisa melihat apa yang bisa diambil dari pelajaran tersebut untuk konteks kehidupan sehari-hari. Makanya penting sekali untuk sit-in di kelas supaya dapat melihat prosesnya, cek textbooksnya dan tanyakan bagaimana sistem tes nya. Apakah kebanyakan berbentuk pilihan ganda? Terus terang sekarang saya jadi skeptis terhadap pilihan ganda. Dulu sih ketika jadi murid senang-senang aja ya karena lebih gampang dan kita selalu punya probabilitas untuk benar. Tapi sebenernya pilihan ganda itu agak menyesatkan dan tidak  membantu para siswa untuk menjadi lebih articulated, atau menolong guru untuk mengerti cara berpikir dan ide-ide para murid.

Ada nih beberapa contoh kecil. Misalnya ketika tes pelajaran agama ada soal “Ada berapa ayat di surat Al-Fatihah?” Tentunya saya hafal surat Al-Fatihah tapi at the top of my head, saya tidak tau ada berapa ayat surat Al-Fatihah itu. Nggak penting lah ya tau berapa ayat, yang penting hafal dan tau arti dari surat tersebut.

Pernah juga ada soal ulangan yang tersebar di Internet, yang menurut saya aneh banget. Jadi ada gambar seseorang ibu-ibu yang sudah agak tua, saya lupa pertanyaannya apa. Tapi pilihan jawabannya adalah (a) Bapak (b) Ibu (c) Mbok  (yang jelas pertanyaannya bukan ‘Siapa yang melahirkan kamu?‘ atau ‘Siapa istrinya bapak kamu?‘ :D. Nah jadi ekspektasi gurunya itu, murid-murid menjawab; Ibu. Padahal, murid-murid tidak merasa gambar itu mendeskripsikan ibunya, malah terlihat seperti mboknya. Tapi tentu saja yang menjawab Mbok disalahkan.

Pernah juga ada soal…

1. Saya ………. membaca
(a) Senang  (B) Tidak Senang

Nah,  yang menjawab B pastinya disalahkan. See, dari kecil sudah ditanamkan bahwa it’s ok to lie demi mendapat nilai bagus karena akan menyenangkan orang tua dan guru. Anak-anak sudah dikondisikan untuk melakukan atau menjawab sesuatu sesuai dengan apa yang dicari oleh gurunya. Jadi kesan yang diambil anak-anak adalah bahwa kesuksesan mereka bergantung pada keputusan orang lain,  bukan pencapaian mereka pribadi seutuhnya.

Oh I can go on and on and on about this. Beberapa minggu terakhir benar-benar membuat saya merenung dan mempertimbangkan dari A sampai Z nya tentang baik dan buruk suatu sekolah. Akhirnya pencarian saya berakhir dengan kesimpulan bahwa sekolah ideal menurut saya adalah yang membuat anak saya merasa betah dan nyaman di sekolah (D’oh!..:D). Untuk itu dibutuhkan sekolah yang process oriented dan proses belajarnya menyenangkan karena pendidikan adalah sebuah proses, bukan pemberian informasi. Dalam prosesnya diharapkan dapat membantu anak saya lebih berpikir, lebih kritis, lebih dapat berimajinasi, memahami, menemukan korelasi, membentuk argumen serta menciptakan solusi.  Kalau rangkaian pembelajarannya sudah seperti itu, harusnya itu kurang lebih sudah mempersiapkan anak saya for the uknown dan membekalinya dengan skill yang dapat diaplikasikan ke segala kondisi. My kids are special kids, just like your kids and any other kids, yang mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri and I want them to be aknowledged and appreciated for their strength and encouraged to work on their weaknesses and reach as far as their potential lead them to. Maunya, sekolah juga dapat membantu memahami dan membangun hubungan antara anak saya dengan dunia dan alam sambil tidak lupa menyayangi sesamanya. Selain itu, sekolah juga harus bisa mengajarkan science dari pandangan seorang scientist tanpa melupakan nilai-nilai agama yang dianut. Dan yang terakhir, yang cukup surprising untuk saya sendiri, ternyata saya mau sekolah anak saya nanti melibatkan saya sebagai orang tua dalam prosesnya, sehingga saya juga dapat belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

It must be remembered that the purpose of education is not to fill the minds of students with facts, it is to teach them to think- Robert Hutchins.


Wow. Panjang ya ramblingnya. Bagaimana dengan Mommies di sini? Sekolah seperti apa yang diidam-idamkan dan apakah sudah menemukannya? Share yuk…:)


61 Comments - Write a Comment

Post Comment