Mari Berkampanye ASIX Dengan ASIK

ASI IS THE BEST

Ih, siapa juga sih yang ngga tahu? Semua pasti tahu ini. Apalagi di dunia kaum wanita. Belakangan pun banyak lembaga didirikan untuk memperjuangkan keberadaan ASI sekaligus mensosialisasikan program ASI eksklusif. Tapi, kadang saya merasa ada yang kurang dari teriakan-teriakan program tersebut. Saya sebagai ibu yang gagal (baca: GAGAL bukan tidak mau) memberikan ASI eksklusif untuk anak seperti tidak mendapatkan tempat di dunia. Seakan-akan fakta tidak dapat memberikan ASIX belum cukup “menghukum” saya, posisi ibu macam saya ini juga seringkali dipojokkan. Entah berapa kali kuping (dan hati, ceile!) ini ‘panas’ karena harus mendengar Igo dicap “anak sapi”. Warna kulit saya memang tidak putih, tapi masa iya saya hitam, putih, gempal, dan bersuara “mooo” alias sapi? Hehe.

ASI NAZI. Itu istilah yang saya pakai untuk mereka yang menghakimi ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif. Para ASI NAZI ini biasanya sibuk bertanya apakah seseorang memberikan ASI eksklusif atau tidak. Dan ketika jawabannya adalah tidak, mereka tidak malu untuk kemudian membombardir si subjek dengan rentetan pertanyaan yang tanpa disadari telah memasuki wilayah pribadi seseorang. Ya, menurut saya menyusui itu isu pribadi. Tidak perlu lah orang tahu detil alasan kenapa seorang ibu gagal memberikan ASIX pada anaknya. Apalagi sampai menghakimi yang bersangkutan.

Saya tidak pernah bercita-cita untuk memberikan susu formula pada anak saya. Kalau ya, buat apa saya mempersiapkan diri untuk melakukan hal tersebut? Buat apa saya menyisihkan uang untuk membeli electric breast pump yang tidak murah itu? Buat apa saya bela-belain bangun tengah malam untuk menyusui dengan puting susu luka, belum lagi harus sering-sering makan hidangan dingin setelahnya untuk “isi bensin”? Situasi dan kondisi saya membuat saya gagal memberikan ASIX untuk Igo. Mungkin di luar sana ada jutaan ibu dengan situasi (jauh) lebih buruk dari saya dan masih bisa berhasil memberikan ASIX untuk anaknya, good for them. God knows how much I envy them. Situasi mengharuskan saya mengambil sebuah pekerjaan yang memperbolehkan saya bekerja dari rumah (tapi ternyata benar-benar menguras waktu istirahat). Di sinilah malapetaka itu bermula. Saya yang baru saja melahirkan, selain harus beradaptasi dengan status baru, juga harus lebih handal lagi ber-multi tasking karena dikejar deadline pekerjaan. Puncaknya, suatu hari di minggu ke-4 menyandang status ibu, saya panas tinggi. Dan tiba-tiba saja ASI berhenti keluar. Ya, berhenti. Bukan seret, bukan berkurang drastis tapi berhenti total. Untungnya di lemari es masih tersedia ASIP yang memang sengaja saya tabung. Untuk pertolongan pertama, Igo diberikan ASIP dengan menggunakan sendok. Sayang keadaan tidak membaik untuk kami. Saya berangsur pulih tetapi ASI tetap nihil. Dan saya pun harus membuat keputusan yang berat: memberikan susu formula untuk Igo. Sedih ngga sih? PASTILAH!

Pengalaman memang guru yang terbaik. Karena punya pengalaman tidak enak, saya berusaha mengumpulkan lebih banyak informasi dan menjalin hubungan dengan sesama ibu lebih baik lagi. Semuanya saya jadikan bekal untuk anak kedua kelak (yang entah kapan munculnya, hehe) dan tak lupa, saya jadikan semuanya itu bahan untuk membantu teman atau saudara yang mungkin masih minim pengetahuannya soal ASI dan segala tetek bengeknya. Selain perlu berkonsultasi soal laktasi ke pihak yang memang memahaminya, menurut saya sharing dengan seseorang yang membuat kita nyaman bisa menjadi penyemangat ketika diri sedang down soal menyusui. Seseorang itu tidak harus konsultan laktasi, the person could be just a friend who can boost your confidence without judging you.

Pengalaman mengajarkan saya bahwa untuk seorang ibu memberikan ASIX pada anaknya tidak hanya membutuhkan dukungan suami tetapi juga dukungan dari semua orang. Memang sih dukungan orang terdekat paling penting tapi pihak lain di luar lingkaran terdalam kita juga harus diberi edukasi agar program ASIX bisa sukses dilakukan.

Dukungan untuk ibu menyusui:

  • Asupan makanan yang cukup. Kalau bisa sih di awal-awal masa menyusui (saat masih harus beradaptasi), kebutuhan ibu menyusui sudah ada yang membantu. Misalnya: makanan selalu tersedia sesuai kebutuhan. Seorang rekan kerja di kantor mengakui bahwa awal keberhasilannya memberikan ASIX adalah karena almarhumah ibunya benar-benar “melayani” semua kebutuhannya dengan baik. Beliau menyiapkan sarapan, camilan…you name it…semua langsung tersedia tanpa diminta.
  • Istirahat tanpa gangguan. Di awal menjadi seorang ibu, jadwal pasti amburadul. Banyak yang bilang di saat si anak tidur sebaiknya si ibu juga ikut beristirahat, praktiknya? Tentu tidak semudah teori. Mungkin orang-orang terdekat bisa diminta untuk membantu menjaga si kecil agar si ibu bisa beristirahat dengan maksimal atau paling tidak melakukan kegiatan pribadi seperti mandi dan makan tanpa “gangguan”.
  • Action speaks louder than words. Lebih baik melakukan sesuatu untuk membantu si ibu dibanding hanya sibuk bertanya atau melontarkan informasi dan kalimat yang tanpa disadari justru akan membuat mental si ibu down. Misalnya: “Produksi ASI itu kan tergantung permintaan. Selama ada demand, supply jalan terus”, saya tidak berkata bahwa kalimat itu salah ya. Namanya butuh, anak pasti akan demand kan? Dengan berkali-kali mendengar kalimat itu, saya malah tambah stres dan stres kan menambah mampet ASI. Hadeh. It’s a vicious cycle. Sebaiknya lihat kebutuhan si ibu lalu bantu dengan maksimal. Titik.

Catatan untuk kita semua:

  • Walaupun istilah “anak sapi” cukup umum digunakan tapi ada baiknya dihentikan. Sudah cukup lah “penderitaan” kami, para ibu gagal ASIX, dalam menanggung kegagalan itu. Besides apakah Anda suka jika anak Anda diperolok dengan sebutan-sebutan aneh?
  • Kaum ibu memberikan ASIX untuk kebaikan. Kebaikan anak dan dirinya. Alangkah bagusnya jika kebaikan itu tidak dikotori dengan perasaan sombong.
  • Gagal ASIX bukan berarti seseorang gagal menjadi seorang ibu yang baik. Sukses ASIX juga tidak bisa dikategorikan sebagai ibu yang sukses. Nilai menjadi ibu yang baik bukan dilihat dari situ. Good parenting is not about us giving exclusive breast feeding or homemade food but how to raise our children to be the best that they can be.

Jadi melalui sharing ini, saya ingin mengajak Mommies semua untuk berpartisipasi dalam gerakan baru (PD banget tapi saya merasa hal ini harus dilakukan segera), “Mari Berkampanye ASIX dengan ASIK”. Dukung program ASIX tanpa menghakimi satu sama lain. Share knowledge; be there for your friends and family instead of judging them. Now, who’s with me?

—————–

Thank you Manda (@ondeymandey) for the eye opening article :)


86 Comments - Write a Comment

  1. i feel you….i feel you bangeeet nget ngeeet…
    Inget saat2 dimana gue nangis sesenggukan nyaris histeris waktu akhirnya harus ngasih tambahan ke Awan!

    so…masih ada yang tega bilang “anak sapi”?

  2. Baby_ZK

    Sebenernya tantangan untuk ibu yang ASIX juga bagaimana gak harus meninggikan kepala :D
    Promoting ASI should be encouraging, not discouraging, or even worst, judging! And oh, please stop those “Anak Sapi” labelling. Kampanye gak harus menyudutkan orang lain kan? Malah ntar ilang essensi kampanye-nya gara2 orang udah gak empati. Mari kampanye ASIX dengan ASIK. We can do this!

  3. aku juga nyampur pake formula pas az umur 5 mau 6 bulan, aku sadar belom mateng banget ilmu manajemen ASI-nya alias telat baca-baca referensi. Dan ternyata setres itu beneran bikin seret ASI (gimana ga setres, kerja di TV, nglembur sinting, capek lahir batin bok…)

    sedih sih.. karena tinggal dikit lagi, cuman aku sih bebal kali ya? gaberasa dihakimi gituh.. huahhahaha… karena yang tau kondisiku ya cuman aku, dan terus terang jarang curhat ke tempat umum *milis-blog-forum* tentang kondisi ini.
    Lha ngapain juga gitu lhoooo… nanti kalo ditanggapi dengan dibilang “kurang usaha” “payah” dan lain-lain malah bikin sakit hati. Mending disimpen buat diri sendiri dan dipelajari dimana salahnya.

    Yang pasti, kodrat semua wanita tuh antara lain emang hamil-melahirkan – menyusui.

    Ini bicara kodrat ya. Menyusui ya kodrat, karena Tuhan udah kasih sepasang payudara yang secara normal dan alami saat kita hamil dan melahirkan bisa mengeluarkan makanan alami untuk bayi kita.

    perkara nantinya seret, susah, ribet emang faktor eksternal yang kalo kita pelajari ada cara untuk mengatasinya *dan memang ada…. *

    Ya… yang bisa dengan mudah gampang ngasih ASI mah ya berkah.

    Tapi yang pasti kalo kata saya mah, jangan pernah merasa dihakimi, karena yang ngehakimin juga belom tentu lebih baik dan ngerti bener keadaan sebenernya. FYI suami saya juga sempet ‘menghakimi’ saya karena nggak bisa ngasih ASI secara ekslusif selama 6 bulan.. see? even suami yang sehari2 sama kita aja bisa misunderstood.. apalagi orang lain.

    *mangkanyeee.. saya ga demen curhat, dikit2 curhaaaatt.. kadang cari pembenaran doang sihhh hahahhahaha…*

    yang aku dapet dari apa yang aku alamin adalah, walopun emang udah kodrat jadi wanita untuk ngasih ASI, ternyata nggak semudah ngeluarin payudara dan masukin ke mulut bayi *sori vulgar begini*. apa yang ada di kepala kita alias pengetahuan juga sangaaat penting.

    Kalo emang mau kasih ASI secara sakses, ikut kelas-kelas persiapan menyusui dan beli breastpump berkualitas itu harus DIUTAMAKAN daripada sibuk cari baju hamil keren atau belanja-belanja baju dan perlengkapan bayi *menohok diri sendiri*

    eh, sori ya kalo ada yang merasa terhakimi.. don’t be :-D

    1. Hanzky

      Ouch..menohok banget itu kalimat terakhirnya…hehe. Tapi emang kadang2 ibu-ibu ribet masalah stroller lah, botol susu..ina inu..dan nyari yg penting2 seperti breastpump baru ketika butuh aja dan biasanya keadaannya udah ribet sama bayi barunya, back to work, etc.

  4. Been there!!! Anak pertama gw juga gagal ASIX, sedih dan frustasi waktu itu, terutama dengan julukan2 “anak sapi” tp kegagalan itu gw jadiin motivasi aja pas anak kedua lahir gw berusaha nyantai dan ngga pengen terlalu terbebani harus ASIX (waktu anak pertama soalnya gw fokus bgt pengen ASIX jdnya malah stress sendiri) ternyata dengan cara ini alhamdulillah malah berhasil :D

  5. I’m with you darl..! Gw gagal Asix krn tkena Postpartum depression. So gw breastfeeding top up formula,itupun tetep ‘dicerca’..gosh..they didnt even what i’ve been thru..please deh…

    Gw setuju bgt kalo kampanye Asix mesti pakai empati, dan yes breastfeeding itu kind of personnal. Ga perlu sombong kalo sukses..every mother pasti berusaha yg terbaik buat anaknya..Stop Judging…!

  6. memang menjadi ibu dan orang tua kayaknya proses pembelajaran yang tidak ada habis2nya.. rasanya kita semua sebagai ortu selalu pengen kasih apa pun yang terbaik buat buah hati kita dan dengan cara apa pun kita lakukan ya.. :)

    dalam kampanye asi memang tricky. ada pihak2 yang kadang merasa dipojokkan, hal ini mungkin dikarenakan pada bahasa yang dipakai atau dari gesture yang nampak dari seorang ibu yang sedang semangat berbagi tentang asi dengan ibu lain yang merasa ibu ini tidak bisa memahami apa yang ibu ini rasakan sesungguhnya.

    itulah sebabnya, kalo kami di AIMI berusaha banyak mengajak pengurus kami utk menjadi konselor laktasi. karena dengan menggunakan teknik konseling, idealnya seorang ibu bisa berbagi tentang ASI dengan ibu lain dengan menanggalkan prasangka, menghakimi, menyalahkan dan berusaha menerima apa yang ibu lain rasakan.

    mudah2an kita semua bisa mendapatkan manfaat dari tulisan Mbak Manda ini ya.. ;) kita sama-sama belajar tidak menghakimi orang lain, baik ibu yang merasa tidak sukses menyusui maupun para ibu yang ‘semangat’ bercerita dan berbagi tentang ASI. dengan memberikan label2 tertentu ke sesama ibu jg menurut saya kurang bijak dan kurang tepat ya.. who am i to judge someone else? kita hanya seorang ibu yang terus belajar dalam menjalani kehidupan bersama buah hati kita… belajar dari pengalaman sendiri maupun orang lain dengan melalui berbagai cara.. di forum ini salah satunya :)

    salam ASI!

  7. gue pernah ngotot soal labeling “anak sapi” ke seorang yg katanya bergelut dibidang kesehatan di twitter, dan dia bilang emang itu kenyataannya yg ada. ih gemes bgt deh, padahal dia laki loh, ga tau apa ya pengorbanan menyusui apalagi kalo harus dijudge seperti itu.

  8. Kalo di manda masalah asi, kalo di aku masalah diapers hehehe
    Anakku umur 4thn sampai skrg msh pake diaper…
    Dan banyak yg bertanya (dari yg empati sampai yg sinis) “kok udah gede masih pampers-an sih?”
    Kayaknya aku ibu paling males sedunia,nggak pernah ngajarin toilet training….
    Mereka kan gak tau usahaku utk menghilangkan trauma ammar krn dia dipaksa ditatur dari umur 4 bulan…
    Oh well…
    Awal2 aku giat bercerita (membela diri)…
    Tapi siapalah mereka yg baru kenal & gak tau kondisi anakku luar dalem? :)
    Toh ‘prestasi menyusui sampai 2 tahun’ bukan segalanya juga kalo blom lulus toilet training? :D
    Memang kadang ‘tarik nafas’ bikin sesak…
    Tapi aku terus berusaha berfikir positif…
    Aku berusaha terus belajar gimana caranya mengatasi trauma…ikut segala kelas parenting,konsultasi dgn psikolog,melahap banyak buku2 parenting & toilet training…dan aku ngaku memang bener kok salahku juga sampe dia kita paksa tatur pdhl anaknya sudah superfrustasi nangisnya (krn mnurut ortu2,akupun dari umur 4bln udah ditatur..tp dulu kita blm sadar tentang keunikan tiap manusia..bahkan anak & ortu pun pasti berbeda)
    Dan justru dgn cinta dan pelukan, plus cara berkomunikasi yg efektif, kita bisa lbh mendalami masalah kita, mencari solusi bersama anak & suami & keluarga.
    Ammar ya masih pake diapers sampe hari ini..tp alhamdulillah udah bisa copot pd saat di rumah&sekolah…dia udah bisa adaptasi dgn toilet di rumah&sekolah, tp blm ‘terlalu kenal’ sama toilet di mal/rumah orang :)

    Heyaaa…jadi panjang kan curhatnya hahahaha
    Intinya aku gak bisa juga menghakimi orang yg sinis saat tau ammar masih pake diapers…aku gak suka dihakimi,maka aku gak mau menghakimi
    Aku gak suka dengan istilah anak sapi, dan aku juga gak suka dengan istilah asi nazi (sorry to say) menurutku dua2nya sama2 kejam…:(

    Asik gak asik, itu relatif ya mom
    Menurutku dimanapun kita harus santun & memikirkan perasaan org lain
    Alhamdulillah kecemplung pelatihan konseling laktasi, jadi tau bahwa saat kita mau berkampanye, harus mengedepankan empati
    Itu yg harus kita camkan berulang2 (gak cuma ttg asi,tp ttg hal apapun ya?)

    Semoga berkenan :)

    1. sanetya

      Jiah…baru baca soal ketidaksetujuannya dengan istilah ASI NAZI. Ya gpp juga sih. Maaf kl istilah itu kurang berkenan :) Bukannya saya tidak berempati dengan para ibu yang suka menghakimi ibu2 lain lho, not at all..mungkin cara penyampaian mereka saja yg salah. Atau..bisa juga memang mereka tidak punya empati. Kenapa? Karena seringkali batasan2 privasi dilibas habis oleh mereka.
      Mudah-mudahan siapapun yg melongok artikel ini bisa lebih bijak dalam bertindak terutama dalam lingkup “motherhood”. Termasuk saya. Cheers!

  9. sanetya

    @Kirana: Nah, kan lo aja kabur ke rumah emak..apalagi orang lain? Hihihi. Tapi bener kan soal dukungan lingkungan terhadap ibu menyusui? Bukan hanya “Saya percaya kamu bisa” tapi tindakan2 kecil yang tanpa disadari sangat membantu si ibu menyusui spt menyiapkan makanan. Dan ya, mudah2an situasi gue nanti lebih bersahabat dr yg kemarin :P

    @Dewi: Masih inget bener, mak..curhat soal dilema kasih sufor. Mudah2an nanti pas adiknya Awan bisa ASIX ya! You can do it!

    @Darina: Let’s encourage more people!

    @Depezahrial: Yep, gue juga ga pernah curhat terbuka soal “kegagalan” ini. Malas dengar komentar, “Lah, mentingin kerja dong?” dr orang yg belum tentu pernah ada di posisi gue. Setuju banget, mending ditelaah sendiri…masalahnya di mana, lalu perbaiki untuk bekal nanti.

    @Hani: Sekarang tiap ada teman yang mau melahirkan, peralatan menyusui menduduki peringkat pertama ide kado. Toh segala bouncer dll kan pasti akan ada yg kasih ya. Hehe.

    @Tita & Vidy: semangat terus ya…

    @Nia: yg penting dari program sosialisasi ASIX itu adalah bagaimana caranya menyemangati para ibu (dan calon ibu) untuk memberikan ASI scr eksklusif. Cara yang lama seringkali menyudutkan beberapa pihak, takutnya malah membuat orang enggan mencari tahu soal ASIX karena merasa dihakimi.

    @Nandra: Hihihi yg sesama perempuan saja suka ga memahami apalagi laki. *walaupun tidak semua laki2 begitu ya*

    @Amel: Lucu ya? Ketawa dong. *garing*

    @Lita: Aw aw terima kasih, Litlit.

    @Puti & Nita: Spread the words, spread the campaign.

    @Ira: Yep, kuncinya memang empati.

    @Ai: Golokku tersimpan rapi di dalam laci kok pas nulis ini. Hehe. Thank’s ya :)

    *hadeh maaf ini jadi komen panjang bener*

    1. sanetya

      -Maaf ya nambah lagi-

      Hanya mau meluruskan saja, yg saya maksud dengan “ASI NAZI” bukan para “Pejuang ASIX”/konsultan laktasi ya. Ada batasan yg jelas di mana seseorang dikategorikan “pejuang” dan “ASI NAZI”. Pejuang tidak akan menghakimi dan tindakan sebaliknya justru dilakukan oleh para “ASI NAZI”. Saya, yang gagal ASIX ini, juga pejuang lho..dengan cara saya sendiri. Mensosialisasikan program ASIX adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya segelintir orang saja.

      Lagi, saya berharap sekali dengan membaca artikel ini para orangtua bisa lebih bijaksana lagi dalam hal apapun yg menyangkut soal anak…dan itu termasuk diri saya sendiri.

      Cheers!

  10. Setujuuuuhhhh bangeeeds dengan artikelnya….!!

    smua ibu2 di dunia ini tau bahwa asix is the best buat babynya..
    tapi kondisi lingkungan, kondisi tubuh sendiri juga sangat berpengaruh untuk keberhasilan program asix itu sendiri.
    saya sendiri gak murni bisa kasih asi ke anak saya…
    faktor stress di rumah, kantor, dll mengharuskan aku, hanya bisa kasih asi 6 bulan kurang minggu ke bayi ku.. (itu juga dicampur sufor, karena anak ku gak mau minum asip yang dah masuk kulkas)
    tapi karena tau kuantitasnya gak banyak , maka aku harus jaga kualitas asi itu sendiri… makannya gak mau yang junkfood, minum susu, makan makanan rumahan, No cemilan2 yang ada msg-nya, gak makan yang pedes2,banyak makan sop2an, sampe ikan salmon dijabanin demi omega 3 nya…
    yang penting saat itu, gimana supaya kualitas asiku mantafffs..!!**pilih mana asix, tapi makannya amburadool .. hayo..??
    **maaf jika ada ibu2 yang tersinggoong.. :)

    semua ibu punya harapan masing2 dengan bayinya…
    ayo kita encourage ibu2 yang mau ber asix, tapi dengan tidak melemahkan semangat ibu2 yang “kurang berhasil” dalam pemberian asix.
    bukannya kita semua ibu2 mau yang terbaik buat bayi dan anak2 kita.. :D
    We’re all d best mom ..!! :D
    Dont forget that.!!

  11. Gue ngakak tuh baca komennya Depe. Bener banget Dep, banyaak banget calon Ibu yang lebih rempong ngurusin printilan macam baju menyusui, perawatan ina-itu, bouncer, baju2, etc, tapi males browsing baca-baca ttg persiapan menyusui or ikut kelas2 breastfeeding/merawat anak.

    Btw Manman, great article. Keep up the good job ya Bu Mod! :-)

  12. mandaaa….
    i know how hard you try, Inget jam 1 malam manda sempet kirim YM nanyain tentang asi. Posisi menyusui, dll.

    New Mom, walau dikate udah baca banyak, tanya sana sini. kadang prakteknya tidak segampang cerita orang. Jadi.. yg gagal ASIX bukan berarti ibu yg buruk, yang sukses ASI juga bukan berarti Ibu top sedunia.

    sama sama belajar,… yak.

  13. We shouldn’t resort to name-calling, tapi gue ngerti banget sakit hatinya dibilang kl anak yg minum formula itu “anak sapi” jadi gue bisa ngerti juga kenapa bisa sampe ada julukan ASI Nazi.

    But anyway, ini kan bukan inti tulisannya Manda yah, jadi udahlah gak usah diperdebatkan. Let’s just agree NOT to pass judgement in any way to anyone.

    IMO, sebagai orang yang ngerti pentingnya pemberian ASI, kita emang perlu ngasih dukungan ke orang2 terdekat yang sedang/akan punya bayi. Tapi gue rasa kita juga mesti tau batas sih, kl keliatannya orang tsb nggak me-respon dengan baik bentuk dukungan kita atau memang pada akhirnya dia tidak memberikan ASI entah dengan alasan apapun, we should just back off.

  14. sanetya

    @leona_as: thank you :)

    @Irir: terima kasih lho, irir..

    @Icha: Ah, ini dia salah satu penyemangat gue waktu itu.. *kecup*

    @Affi: Yep, gue menyemangati lingkungan gue soal ASIX tp ada salah satu teman gue yg sampai sekarang seperti tidak percaya kl ASI adalah yg terbaik untuk anak. Ya sudahlah, itu hak dia juga.

  15. :D ah manda…i know u wrote this from the moment i saw it on twitter! :D :D :D :D siapa lagi gw kenal yang mencetuskan ide brilian ini. Dan copy yang pas sekali. I like it *thumbs up*

    Im wif u mannnn…:D :D :D no more names! more happy mommies!

  16. I’m definitely agree with u momy Manda..

    Belum tentu juga kan anak2 dari para momy ASI NAZI itu kemudian akan menjadi lebih pintar daripada mereka yang dijuluki “anak sapi” ?

    Para ibu pasti tahu ASIX lah yang terbaik bagi bayi mereka, namun karena keadaan dan mereka pada akhirnya tidak bisa memberikannya, bukan berarti bayi-bayi mereka tidak bisa menjadi yang terbaik, bukan?

  17. Nah, ini artikel yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Walaupun saya berhasil memberikan ASIX untuk Cinta, saya tetap tidak setuju dengan cara-cara kampanye ASI yang memojokkan ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASI. Ya, benar di luar sana ada ibu yang MEMILIH untuk tidak memberi ASI tapi lebih banyak lagi yang TERPAKSA tidak bisa memberi ASI.

    Banyak kasus di sekitar saya, kakak, saudara, teman kerja yang sudah berusaha sekuat tenaga mereka untuk memberikan ASI kepada anaknya tapi tidak berhasil. I know how hard they try dan saya pun mengalami perjuangan yang tidak mudah untuk bisa berhasil ASIX.

    Berhasil ASIX atau tidak yang penting sudah ada usaha dan itu menunjukkan kita peduli kepada anak. Semoga kampanye ASI bisa lebih santun dan suportif instead of represif.

  18. Ooww..I’m so with you..
    Saya sedih sekali deh kalo baca2 twit/blog organisasi tertentu yg misinya kampanye ASIX, namun bahasanya menyakitkan buat ibu2 yg ‘gagal asix’. Nenek2 juga tau kalo ASI itu penting banget.. Hehehe.. Jd jangan deh membuat penderitaan ibu2 yg gbs kasih ASIX semakin berat dengan kata2 yg menyudutkan.
    Kdg2 saya mikir kok iklan2 sufor yang gencar itu terlihat lebih bersahabat dan ramah ibu ya kalo dibandingkan kampanye ASIX organisasi tsb (dgn cara labelling dan menyudutkan ky gt). Walaupun mgkn ga disengaja ya.. Tp bener deh, substansinya jd ga nyampe kalo caranya salah.
    Hidup kampanya ASIX dengan ASIK :)).

  19. Saya nih yang termasuk berhasil ASIX ga ya karena sempat diinterupsi oleh sufor selama 2 minggu pertama..merasakan gimana beratnya perjuangan supaya ASI bisa lancar..alhamdulilah dengan usaha keras bisa berhasil sampai 2 thn.menurut saya sih yang perlu dipuji adalah usaha keras ibunya untuk berusaha ngasi ASIX, berhasil nggaknya ya ga usah diperbincangkan..
    tapi lingkungan sekitarku malah beda loh..justru anak yang cuma dikasi ASI aja ky anakku malah dipandang sebelah mata..jadi malah saya yang merasa dihakimi,hehehe kebalik ya..
    Jadi, saya dukung deh kampanye ASIX dengan ASIK.. jangan saling menghakimi. InsyaAllah setiap ibu ingin yang terbaik untuk putra-putrinya..

  20. hiks berkat baca tulisan ini, gue jadi terharu ingat betapa mulianya nyokap gue yg tiap pagi nyediain telor rebus 2 butir plus segelas susu. tulisan ini gue harap membuka mata banyak ASI NAZI di luar sana, bahwa gak semua ibu yg memberikan sufor ke anaknya melakukan itu karena ‘males’ menyusui. and hopefully it can be a lesson-learned too buat para ibu yg sebelumnya gagal memberi ASIX.

  21. haihaiii… sy pun gagal asix lho..pi sempat mnyusui smp usia 18 bulan (ini pun berhenti krn dy sdh ga mau asi)
    sy tau btapa beratny mngusahakan ASI sll deras…sy tau gmn rasany berbulan2 dicekoki sayur katuk, kacang rebus, daun pepaya dan sgala macam mkanan yg kt ny bs mmprbanyak produksi ASI…kebayang ga steesny disuguhi katuk, bayam pd setiap acara makan…dan ttp maksimal ASI peras sy hanya 80 ml (ini pun jarang2 terjadi)…hikz

    Ga hanya soal ASI..kdg sy pun dihakimi krn memberi anak sy susu yg katany itu adalah makanan cair…pd mulany sy juga sering mmbela diri..tp akhirnya..ya sudahlah…smua org berhak komen mcm2 pi sy sbg ibuny tentu tau yg trbaik utk anak saya..bhw saya memilih merk itu krn ada alasan medis dan kondisi ank sy yg berbakat alergy.

    Whatever lah…sy cuma mo mmbantu mengingatkn bhwa d dunia ini ga da seorg ibu pun yg tdk ingin memberi yg terbaik utk anknya…namun trkadang qt punya sudut pandang n batasan yg berbeda..

    Oks dh Jeng Manda..smoga sukses d program ASIx berikutnya….

  22. eh.. eh btw… ngg… dulu sih 2 (DUA) dokter anakku juga selalu meng-encourage aku untuk kasih asi. Dokter I sempet bilang kalo anak ibu ya mimik susu ibu, kalo anak sapi baru mimik susu sapi. *tertohok dan giat memompa*
    Dokter II (laki-laki) bilang gini : Ya kalo ASI ya ASI aja, nggak usah campur formula. Kalo Mau formula ya formula aja… *juga giat memompa*

    Cobaaaaaaaaa waktu hamil 5 bulan udah ada kelas persiapan menyusui kayak sekarang, cobaaaaa waktu hamil 5 bulan aku belinya pompa medela instead of that hurting pigeon… hu’uh.

    ah ya sudahlah, saya benci pelajaran sejarah.. so yang berlalu biarlah berlalu dan mari kita songsong hari esok dengan ASI berlimpah dan ukuran payudara yang tetap ‘breasfed-sized’. AMIN!

    Salam Tangan Kanan Maju Ke Depan Atas! *eh itu nazi ya?…. enggg…*

  23. Gw masi di ‘perjalanan’ bwt jd ibu,jd blun ada pngalaman soal ASI tp s7 bgt ama tulisan ini…
    Dulu waktu awal2 hamil sama sx g ngerti soal serba serbi asi,tp krn sring2 lyat forum ini,follow ibu2 yg asi&organisasi asi di twitter akirnya lama2 jd ngerti so kampanye asi emang berhasil d tapiiiii gw lyat kadang kampanye2 gt suka g sesuai tempat..maksutnya gini,,bwt ibu2 yg lbh ‘melek’ teknologi mreka g perlu dikasi kampanye yg terlalu ekstrim,mreka bisa cari info sendiri Dan Kalo pada akirnya g bisa kasi asi tu bukan krn mreka kurang usaha/krg info tp emg krn keadaan yang g terelakan deh..kan ksian kl udah usaha cari info,ikut kelas
    Sementara gw malah seeing lyat ibu2 yg emang g taw,g maw cari taw Dan g Ada yg ngasi taw jg..IMHO hrsnya ibu2 itulah target market kampanye

  24. eh maap belun slese kpencet..

    “kan ksian kl udah usaha cari info,ikut kelas laktasi, uda beli2 alat tempur asi eh pas waktunya kasi asi ternyata g bisa krn berbagai hal, udah si ibunya sedih&down masi juga dibikin down sama sesama ibu yg harusnya malah ngasi support

    Sementara gw malah sering lyat ibu2 yg emang g taw,g maw cari taw Dan g Ada yg ngasi taw jg..IMHO hrsnya ibu2 itulah target market kampanye dari ASI ini, krn mreka emg bner2 g taw kl lecet tu knp, diapain, bingung puting tu apa, dll d..dulu gw waktu 4 bln jg g maw asi lg ke nyokap, ampe nyokap stres&gw dibawa ke dokter alergi, kata nyokap dulu mana taw kalo boleh difreezer dll, tawnya asi kalo uda lama basi bla3x…jadi mending lbh bijak kalo mo kampanye..jadi informasinya bener2 merata gitu…”

    mudah2an nanti kl anaknya uda lahir&bisa asix (amiiiiin) gw g sombong hehehe

  25. Dunia emang suka aneh ya?
    Ini kasusnya yang ga bisa ASIX di- judge Ibu ga mau usaha, dsb. Di kasus gue terbalik lho..
    Gue pas hamil udah baca2lah ttg musti ASI selama 6 bulan, gue pun akan berusaha kasih ASI tentunya. Tapi waktu itu gue enggak dengan jiwa penuh perjuangan lho.. Soalnya di lingkungan gue, ga ada tug ASI eksklusif, adanya ya ASI + Formula, baik dr keluarga gue maupun keluarga suami gue. Juga dr teman-teman terdekat.
    Jadi pas gue lahiran, gue bilang mau ASIX, tp Maika sempet dikasih formula, alesannya gue ga bisa dibangunin.. Heh? Tapi gue ga ngomel juga sih.. Biasa aja.
    Sampe rumah ya gue susuin Maika sebisa gue, tapi emang ASI gue keluar aja, lecet iya, bedarah2 iya, nyusu nonstop 4 Jam iya.. Tapi ya gue jalanin aja sih. Sempet Maika rewel, gue kasih formula, eh ga mau anaknya. Trus di pikiran gue ya sampe setaun aja deh ASI.. Nyatanya ampe skr udah 27 bulan Maika masih aja demen nenen.
    Yang ada gue dikata2in macem2 lho.. Ngapain ASI doank? Emang bagus?
    Ha masih ASI sampe 2 taun? Ga bakal cacingan tuh? Masih ada gizinya?
    Pokonya gue dianggap aneh, pelit, ga ada kerjaan msh nenenin anak 2 taun, ga ada usaha nyapih, etc.

    Jadi soal di- judge, dalam kondisi apapun pasti adalah judgement, gimana lingkungannya juga. Sampe skr gue masih ditatap aneh lho model gue koq kasih ASI doank, ampe 2 taun pula..
    Trus gue lahiran normal juga dianggap ga ada kerjaan, kayak ga punya duit aja ga mau caesar. Caesar kan cara canggih melahirkan :D

    Aneh ya, di sisi dunia yg satu gue dianggap “Ibu yang baik dan berhasil” karena melahirkan normal dan menyusui sampe 2 tahun. Tapi di sisi dunia yang lain, gue dianggap ga ada kerjaan, aneh dan pelit :)

  26. Nopai.. kalo gw maunya melahirkan nggak normal nggak sesar, semua sakit.. maunya kayak bersin ajah keluar dari idung trus karena kena udara bayinya lama2 jadi gede gitu.. jadi pas hamil juga tetep langsing *teralu banyak nonton sci-fi*

  27. Thanks story nya mam. Menurut saya dalam sharing segala hal apapun harus dengan empati. Setuju sih dengan pernyataan “Gagal ASIX bukan berarti seseorang gagal menjadi seorang ibu yang baik”. Tapi sukses ASIX tetep sebagai sebuah kesuksesan. Gak masalah bilang ‘Anakku lulus S1/S2/S3 ASI’, memajang sertifikas kelulusan ASI anak di blog dll. Bagaimanapun pasti ada kebanggaan sebagai seorang ibu telah sukses memberikan ASI kepada buah hatinya. Tapiii…ada tapinya nih…ASAL…. janganlah itu menjadikan hal untuk menghakimi dan memandang sinis ibu2 yang telah berusaha memberikan ASIX kepada anaknya tapi terkendala sesuatu hal. Apalagi kalau kita tidak tahu behind the story nya. Sharing dengan bahasa santun dan saling support membuat dunia ini lebih ASIK deh :-)

    Maaf ya mam kalau ada kalimat saya yang kurang berkenan. Salam buat Igo :-)

  28. Well said and well written! Sudah lama gw memimpikan ada yang menulis tentang hal ini. Walaupun anak gw lulus ASIX, gw merasa terganggu loh dengan para ASI warrior yang suka menyudutkan dan menghakimi ibu2 non-ASIX. Temen2ku ada beberapa yang sampai kepikiran dan stress tuh gara2 omongan2 ibu2 ASIX yang gak Asik. I’m with u! :)

  29. iya nih aku juga sering tuh bilang ” ANAK SAPI ” sama ibu-ibu yang gak berusaha kasi ASI ke anaknya,biar tersindir….memang bener sih setelah aku kata-katain begitu responnya ada yang marah ada juga malah yang jadi sukses kasih asinya

  30. Nyokap gw cuma bs ngasih asi dari umur 2 bln, jd gw ga mau ngejudge ibu2 yg ga bs ngasih asi buat anaknya. Ga bs atau ga mau bkn urusan gw. Dan gw ga setuju sama istilah anak sapi, nyokap gw manusia bkn sapi. Mertua gw pernah ngeledekin gw anak sapi pas dia tau kl gw minum formula, dan sukses bikin gw tersinggung. Saat ini gw sedang berusaha memberikan asix buat anak gw, tp gw ga mau terbebanin krn ntar stres malah tersendat asi nya. Kebetulan tmn2 gw sangat mendukung gw utk asix walaupun ada kalimatnya…”Syukurlah bs asi, irit jdnya ga perlu beli formula..” Yee, bkn itu jg kali alasan gw asi, emang perlengkapan nyusuin murah? blm segala makanan & suplemen buat banyakin asi. Gw mendukung ASIX yg ASIK.

  31. First of all, thanks Manda for sharing, I’m with you!

    [b]@Fany[/b], gue sampe bolak-balik baca, masih kurang faham. Ini maksudnya dulu elo begitu tapi sekarang udah engga? atau masih begitu & tetep bangga krn segala maksud elo akhirnya kesampaian juga?. Kalo lo udah berenti kasih label “Anak Sapi”, gue bersukur & kalo belum, mmm.. do you mind if I call you bully? Wait, no.. you shouldn’t mind!. If you can heartlessly disguising labelling others as “Sapi” since you call their babies as “anak sapi” (this is actually worst).. the word bully is actually quite mild.

    Goodluck with your kid/kids, if oneday they turned out to be a bully/bullies, I wouldn’t be surprise. It is probably wise if you look at yourself in the mirror. And, anyway, it is nice NOT to know you.

  32. Fani, let’s hope anak/menantu lo besok bisa lancar nyusuin cucu lo yah.. Soalnya hampir gak mungkin lo bilang ke diri lo sendiri kalo cucu lo anak sapi kan? :D atau iya? :p

    Manda, thank you for sharing. Very nice article! :)

  33. Bravo Manda!! Artikelnya bagus! Heheehhe sangat2 gw dukung kampanyenya :)
    Buat ibu2 yg ga berhasil ASIX jgn pernah merasa gagal. Bayiku dari 1 bln setelah lahir dah tandem ASI + sufor. Sampe sekarang masih terus berusaha memberi n memperbanyak volume ASI. Di awal emg bnyk yg kurang memberikan dukungan yg aku butuhin even itu keluarga sendiri. Bahkan ibuku heran karena di bnyk anak dlm keluarga aku yg cewe udh punya anak ga pernah ada riwayat ASInya dikit.

    Tapi untung dokter anakku baik n pengertian. Yang penting kan kebutuhan anaknya tercukupi dan dia bisa tumbuh sesuai targetnya dgn baik. Dan lagi tumbuh dan berkembangnya seorang anak tuh ga sebentar jadi masih banyak waktu bagi kita tuk tahu ibu yg bagaimana kita ini jadi ga semata-mata stop di saat kita ini berhasil atau ga berhasil dlm pemberian ASI.

    Yang penting selalu berpikiran positif dan berusaha yang terbaik buat anak kita.. Perluas wawasan n banyakin informasi, be a smart mom karena 9 bln kita mengandung anak kita.. jadi pasti Ibu yang paling tau apa yg terbaik buat anaknya :)

  34. ohya, satu pertanyaan lagi buat Mbak Manda: mengutip dari pernyataan ini:
    “@Nia: yg penting dari program sosialisasi ASIX itu adalah bagaimana caranya menyemangati para ibu (dan calon ibu) untuk memberikan ASI scr eksklusif. Cara yang lama seringkali menyudutkan beberapa pihak, takutnya malah membuat orang enggan mencari tahu soal ASIX karena merasa dihakimi.”

    boleh tau apa yg dimaksud dengan ‘cara yang lama’? baragkali bs jadi masukan bagus buat saya :D trims! salam ASI!

  35. Kepengeen banget bisa racunin orang-orang untuk ASIX tapi tetep ASIK! (walaupun jujur dalam hati masih ada kebusukan yang merasa bangga diri masih bisa menyusui, huh gak banget ya?!)

    Doakan kami ya, yang masih menyusui bisa jadi duta ASIX yang tetep ASIK!

    Kalo begitcu mari semua,
    “ASIIIX… Makin Asyeeek Ajach … !!!”
    *nyanyiin pake slogan TPI (Televisi Pendidikan Ibu) hehe..

  36. aku suka bingung tentang dikotomi anak sapi ini, I mean, anak2 yg di atas 3th nanti minum susunya apa ya? UHT kan susu sapi juga? Ini pertanyaan serius buat yg dgn bangga dan sadar mengakui sering ngata2in anak orang as anak sapi. Sekarang pun aku suka sekali dgn susu, dicampur ke tea, coffee even chocolate. Tentunya susu sapi, gak mungkin kan aku nyari donor asip utk diriku? Would that make me anak sapi instead of anak mama? Sekali lagi ini serius nanya, krn aku mulai aneh dgn slogan2 kampanye ini, niat mulia tapi sayangnya beberapa oknum pakai cara2 kasar, spt nge-bully or nyindir2, yg mana kita tau, bukan menunjukkan karakter yg bagus. Sayang sekali, makanannya paling bagus ternyata gedenya tetap bermental bully dan gak elegant :)

    Great artile by the way, I too support warm and polite campaign, ini yg aktivis2 terkait perlu pikirkan, from my point of view (dan kebanyakan ibu2 lainnya), some people actually find other’s failure in breastfeeding an opportunity to mockery. Isn’t it sad? Really hope not.

  37. Definitely with you mb Manda, top banget tulisannya
    @mb Ditt, yang saya tau sekarang juga ada yang bilang UHT juga gak bagus, kalo sudah asi sampai 2 th gak usah pakai susu lagi.Malah ada “slogan” baru lagi: “hanya manusia yang menyusui ke mamalia lain, coba cek mamalia lain, gak ada kan yang menyusui ke sesama mamalia?”
    tapi saya sudah masa bodoh.. yg kayak gitu gak usah didenger. Toh tidak ada statement minum susu itu haram, dan selama tidak dikonsumsi berlebihan, walaupun di atas 2 tahunpun menurut saya ga papa.
    Semoga ibu2 yang senang mencela itu dibukakan hatinya, dan mampu bertindak nyata daripada sekedar omong (baca: nyela) doang..

Post Comment