Meninggalkan Status Ibu Bekerja & Menjemput Rezeki Lain

Saya dulunya adalah working mom, dengan jam kerja yang ringan, hanya dari 8.30 – 3.30, 5 hari kerja dalam seminggu. Dalam setahun bisa mendapat maksimal 15.5 kali gaji. Kami tidak punya pembantu, karena memang tidak pernah berjodoh dengan pembantu tetap, hanya pembantu part time yang datang 1-3 kali seminggu tergantung kebutuhan.

Anak saya lahir di Doha-Qatar, dan setelah berjuang mencari pembantu yang akhirnya tidak berhasil (tidak cocok terus) maka akhirnya saya lari ke penitipan anak (nursery) untuk menjaga dia selama saya kerja. Alhamdulillah nursery-nya walaupun international tetapi nanny-nya masih mengasuh dengan cara-cara Asia, karena juga nanny-nya berasal dari Filippin. Anak saya dirawat dengan kasih sayang, bahkan kalau sedang tidak enak badan nanny-nanny tersebut rela hati menggendongnya, yang bahkan ayah bundanya sendiri jarang melakukannya. Semua diaper, baju ganti, makanan dan susu saya siapkan tiap hari dari rumah untuk keperluan Latifah seharian di nursery.

Tetapi karena sejak umur 4 bulan terpapar dengan lingkungan luar, maka anak saya sering sekali sakit. Mulai dari batuk pilek biasa, infeksi telinga sampai diare parah yang disebabkan Virus Rota sampai diopname. Airmata ini sering kali tumpah saat melihat anak saya lemas, diam, sampai muntahnya berwarna hijau. Tapi tugas harus tetap dijalankan, saya harus tetap masuk ke kantor dan anak saya dititipkan ke nursery.

Nursery-nya sendiri juga mempunyai suster yang akan memberikan obat seperti yang telah kami instruksikan jadi ya memang hati saya agak tenang. Menelpon nursery untuk mengetahui perkembangan kesehatan anak tak lupa terus saya lakukan. Dan jika ada kejadian khusus, misalnya anak saya tiba-tiba demam di atas 37.8 pun saya ditelpon untuk memberi tahu atau sekedar meminta ijin untuk memberikan obat penurun panas.

Kami merasa nyaman dengan keadaan seperti ini, karena memang tidak ada pilihan lain. Merekrut ART juga bukan pilihan karena selain biaya perekrutan mahal, sekitar Rp 25 jt, kita juga harus “cocok” dengan pembantu yang kita pilih dengan hanya melihat foto di database penyalur. Selama 2 tahun kita harus hidup dengan ART tersebut, cocok ataupun tidak cocok. Kecuali kalau ART tersebut melakukan perbuatan melanggar hukum maka tidak diperkenankan untuk menukar. So, there’s no such thing as “ketidakcocokan” excuse. Pengalaman masa lalu yang sudah mencoba berbagai macam ART adalah dengan ART yang sudah mempunyai visa tinggal di Qatar dengan sponsor orang lain, sehingga saya tidak terbebani biaya agen.

Sebenarnya kalo dihitung secara umum, perbulannya akan jatuh lebih murah kalau kita menggunakan ART daripada nursery. Tapi karena kita mempunyai masa lalu yang kelam dengan ART yang menyisakan trauma (haduh, bahasanya..) dan hilangnya privacy, maka kita memilih untuk tetap bertahan dengan nursery + part time maid.

Ketika isu flu babi merajalela, semua sekolah dan nursery di Qatar menerapkan kebijakan ketat untuk mencegah penyebarannya. Antara lain melarang anak yang sakit untuk sekolah, terutama batuk pilek dengan demam tinggi, sampai ada surat ijin dokter yang menyatakan fit. Bahkan bila ada 2 bersaudara yang sekolah di tempat yang sama, dan salah satunya sakit, maka saudaranya juga tidak boleh sekolah.

Di sinilah mulai timbulnya masalah bagi kami. Karena Latifah memang sering sakit dan kadang disertai demam tinggi maka mau tak mau saya harus cuti untuk menemani dia di rumah. Saya bukan ibu yang egois. Saya memang ingin bersama dengan anak saya kalo dia sedang sakit, tapi saya juga seorang pegawai yang tidak bisa seenaknya cuti.

Sebenarnya atasan saya memberikan kelonggaran untuk saya cuti kapanpun bila anak sakit, karena memang jatah cuti saya dalam setahun ada 31 hari kerja (lebih kurang 1.5 bulan), plus cuti bersama dari pemerintah (dalam setahun ada 2 kali cuti Idul Fitri dan Idul Adha yang lamanya masing-masing mencapai 10 hari kalender). Tetapi kalo misalnya di kantor ada hal yang urgent, maka saya juga tidak bisa cuti seenaknya.

Saat paling menyedihkan bagi saya adalah ketika saya harus tetap ke kantor, sementara Latifah sakit dan ditolak di nursery walaupun batuk pilek sudah agak reda dan tidak demam lagi. Surat dokter memang menyatakan dia harus istirahat 3 hari dan itu adalah hari ke-3. Akhirnya atasan saya menyuruh membawa Latifah ke kantor. Sementara saya mengerjakan tugas, Latifah tidur di musholla ditemani satpam kantor. Ketika dia bangun dan bosan di kantor akhirnya dia memilih untuk menunggu di mobil sambil menonton kartun kesukaannya, dengan AC menyala dan tetap ditemani satpam kantor.

Menangis hati saya waktu itu, sedih sekali rasanya melihat anak saya seperti itu. Teman-teman di Facebook ada yang menghujat saya, ada pula yang ikut sedih dan menyemangati saya. Setelah pekerjaan saya selesai, atasan saya pun turut mengantarkan ke mobil dan dia bilang sendiri ke anak saya, meminta maaf karena mengharuskan saya untuk bekerja di waktu dia sakit karena ada masalah penting. She was just 2 years old at that time :((

Setelah itu saya semakin berpikir keras untuk berhenti kerja, selain memang ada alasan lain. Suami dari dulu selalu mendukung saya untuk di rumah, walaupun tidak pernah melarang saya untuk kerja dan bangga juga istrinya kerja. Suami bilang, lebih baik bunda di rumah aja, kalo Latifah sakit dia ada yang menjaga, aku jadi tenang juga di kantor.

Akhirnya setelah melalui diskusi panjang, terutama tentang masalah keuangan saya memutuskan untuk berhenti kerja. Saya berpikir, tidak mengapa tidak bisa menabung banyak, nanti setelah anak-anak sudah mandiri saya bisa kerja lagi. Tidak mengapa tidak bisa tamasya asalkan setiap tahun bisa mudik ke Indonesia (karena memang ada jatah uang tiket setahun sekali dari perusahaan suami).

Karena kantor saya adalah kantor dengan jumlah personel sedikit, maka rasa kekeluargaan itupun sangat erat. Hanya ada 1 teman saya orang Filipin yang mendukung saya resign, karena dia juga merasakan susahnya membesarkan anak, terutama ketika anak sakit. Sementara semua teman lainnya menyayangkan keputusan saya dan mendorong saya untuk mencari ART saja. Well, I really think finding a maid is like mencari jodoh.. Some people memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan ART.

Atasan saya pun memohon saya tinggal lebih lama sampai dia menemukan pengganti saya. Walaupun sebenarnya dia hanya berhak menahan saya sesuai dengan kontrak, 1 month notice, tapi atasan saya meminta saya pergi setidaknya seminggu setelah saya selesai melatih pengganti saya.

Dan mulailah saya memasang iklan dimana-mana untuk mencari pengganti, dan secara mengejutkan kami menerima sekitar 700 lebih pelamar. Mulai dari bangsa Asia Tenggara, India, Arab, bahkan bule dari Eropa dan Amerika turut melamar. Ada yang bergelar Phd, Engineer dan Chartered Accountant. Hello? Ini hanya posisi Admin Assistance di sebuah Embassy negara kecil (yang memang maju sih). Ternyata Qatar adalah Land of Hope baru.

Terus terang saya minder melihat para pelamar dan semua teman kantor juga kaget melihat banyaknya pelamar karena mereka juga punya titipan dari teman/keluarganya yang kemudian hanya saya tumpuk di meja. Saya “hanya” lulusan S1 Akuntansi Unair (dengan tidak mengurangi hormat pada almamater saya) sementara mereka dari berbagai Universitas di seluruh dunia dengan berbagai jenjang pendidikan. Saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah misalnya di masa depan sewaktu saya “ingin” mencari kerja lagi akan bisa mendapatkan dengan mudah? Wallahu A’lam. Teman-teman kantor saya yang putus asa melihat tumpukan pelamar di meja berkata, “Why don’t you just stay? you’re so lucky to be able to work here, look at those people struggling for a better job“.

But the show must go on, dan akhirnya kami menemukan calon yang tepat. Dan lucunya, saya disuruh atasan untuk ikut mewawancara, serta memperkenalkan saya dan terus-terusan mengatakan pada 12 orang peserta wawancara kalo saya ini aset berharga di perusahaan yang pergi karena anaknya. Atasan saya juga sangat berharap pengganti saya agar selalu kerasan dan lama kerja di sini. FYI, saya kerja di kantor ini sudah 3 tahun, suatu rekor karena masa lalu saya yang kutu loncat tidak bisa bertahan lebih dari 1 tahun di kantor lama dengan berbagai alasan. Saya sediiiih sekali sewaktu mewawancara mereka dan memang berat bagi saya untuk meninggalkan kantor.

Dalam proses 1 month notice itu teman-teman saya semua juga menyayangkan kenapa saya berhenti kerja? (termasuk my dentist!) Sayang gajinya, kerjanyakan gak berat buktinya sering Facebook-kan (yeuuuuk!), dan Latifah kan bisa dicarikan ART dan masih banyak lagi komentar lainnya. Dan salah satu teman itu kebetulan juga tiba-tiba mengajak saya untuk join membuka restoran Indonesia di Qatar. Oh my God.. memang benar kalo rejeki itu tidak akan lari kemana.

Kini sudah 5 bulan saya berhenti kerja, dan keadaan restoran kami memang juga belum begitu stabil. Kadang keuntungan banyak (walaupun bagi hasil tidak mencapai separuh gaji saya dulu) dan kadang pula keuntungan sedikit sekali (yang hanya bisa buat bayar tagihan telpon). Tapi saya bahagia. Saya hanya bertugas mengerjakan laporan keuangan saja, selain sebagai pemegang saham minoritas.

Dan herannya walaupun saya tidak kerja, penghasilan restoran juga tidak bisa diandalkan (belum balik modal juga), masih jarang masak, sering jajan di luar, masih pake part time maid, dan masih mengirim setrikaan pakaian di laundry, kurs dolar yang terus melemah (maaf, sebagai expat memang kami agak sedih kalo Rupiah menguat) tetapi kami tetap bisa menabung. Subhanallah. Berkali-kali kami hitung secara matematika jadi bingung sendiri. How come? maaf sekali lagi, saya tidak bermaksud sombong/riya. Yang saya ingat, meskipun dulu saya berhasil menyimpan sekitar 80-90% gaji saya, tapi seringkali ada “kejadian yang tak mengenakkan” yang membuat saya merelakan sebagian atau seluruh tabungan saya. So, in the end sama saja.

Mungkin juga sewaktu bekerja saya “terlalu berlebihan” dalam berbelanja dengan alasan aktualisasi diri. Atau pura-pura jualan tas branded dari US, yang hasilnya juga buat beli tas buat diri sendiri. Sekarang saya melihat tumpukan tas (hahaha.. nggak sebanyak Mommies yang aktif di Fashionese Daily sih) jadi bingung sendiri buat apa juga? Mau saya jual kok banyak yang bernoda susu, jadi ketahuan joroknya.

Alhamdulillah setelah resign dan nyantai di rumah saya bisa hamil lagi. Dan akhirnya gara-gara gak kerja, hamil dan tubuh membesar semua baju kantor saya sumbangkan ke orang-orang terdekat. Mau disumbangkan langsung ke Qatar Charity sayang karena bajunya masih bagus.

Dan yang terpenting, selama 5 bulan ini Latifah hanya sekali ke dokter, itupun karena kita mau mudik ke Indonesia dan hanya untuk cek up. Kesehatan anak inilah yang paling membuat kami bahagia. Usai sudah masa-masa harus ke dokter sebulan 2 kali, harus menempuh 40km pp untuk ke dokter langganan. Second opinion, third opinion, kesusahan ngasih obat yang akhirnya Latifah kami biarkan saja tidak minum obat. Kadang sama dokter ga dikasi obat karena “alergi” atau malah harus minum obat secara terus-menerus selama sebulan, ternyata malah cocok dengan Laserin Anak. Kami berpikir betapa sedihnya orang tua yang anaknya sakit, dan harus bayar biaya dokter dan obat. Karena kami yang ditanggung asuransi kesehatan 100% saja sedihnya bukan main.

Dan tentunya selama 5 bulan ini Latifah saya “kurung” di rumah, sesuai saran big boss saya ketika farewell party di kantor (yang juga berubah menjadi promosi restoran saya karena atasan saya pesan tumpeng). Latifah pun tidak mau “sekolah” lagi, sampai pihak nursery-nya yang menelpon menanyakan status filenya. Sayang sebenarnya saya sudah bayar “retainer fee”, tapi kalo ingat sakitnya dia di masa lalu membuat saya keder juga untuk mengembalikan dia ke sekolah.

So the point is, bagi ibu-ibu yang merasa berada dalam kebimbangan seperti saya dulu, jangan ragu untuk memutuskan jadi full time mom. Insya Allah rejeki sudah ada yang ngatur.. selain kita mendapatkan pahala juga mendapat ketenangan batin. Believe, Mommies!!

Wow, terima kasih ceritanya ya Shanti Ekavianti, inspiring sekali. Mudah-mudahan restorannya tambah laris :)


92 Comments - Write a Comment

  1. Very2 inspiring! Bacanya aja mewek, ngebayangin latifah kecil yg cantik nungguin ibunya kerja sambil tidur di musholla :'( alhamdulillah ya latifah pinter, ga repot dijagain siapa aja. Ini jg kejadian di gw, keilangan maid, awalnya kekeuh kerja dgn bolak balik titip anak sana sini (krn di jkt penitipan anak kan cm smp jam 5an, smntr jam kerja disini wallahualam) akhirnya dgn membulatkan tekad ya nggak kerja. Emang ga bs seenak pas masi kerja dr sisi financial, tp alhamdulillah kami ttp survive. Mungkin krn niatnya baik ya, jd ya ada aja jalan rejekinya :)
    Sakses restorannya ya :)

  2. salut buat mba shanti atas keputusannya.. Insya Allah rejeki dateng dr pintu lain mba :) sayapun sbg stay at home mom juga terkagum2 dgn matematika Allah mba. apa yg awalnya dikhawatirkan soal rejeki, alhamdulillah Alllah cukupkan dr pintu rejeki yg ngga terduga.
    salam utk si kecil ya mba..smoga kehamilan mba shanti lancar dan resto nya sukses :)

  3. Wow, artikel yg sangat bagus di saat yang sangat tepat. Besok adalah hari terakhir saya as a working mom. Walaupun pengunduran diri saya bukan atas kehendak saya, tp saya sudah memutuskan utk tidak lagi mencari pekerjaan baru. Setuju sekali bahwa rezeki sudah diatur. Kita akan selalu dicukupkan. Thanks mbak Shanti for sharing…

  4. Hampir mirip niy dengan ceritaku, yang akhirnya memutuskan untuk resign, bedanya aku bener2 jadi FTM yang gag bekerja lg:) Awalnya berpikir pasti dari sisi financial gag seenak waktu kerja, tapi kalo keinget anak sakit, rasa stres yang gila2an (bukan krn sakit anaknya tapi hrs minta ijin gag kerjanya itu loh), gag pengen deh aku balik kerja:D karena di tempat tinggal aku gag banyak pilihan, anak hanya bisa dititip di daycare, di sini gag ada nanny, suhu badan anak 37,5 drjt aja daycare udah gag mau nerima (memang ada daycare khusus anak2 sakit tp gag slalu available untuk tiap hari & mendadak), anak dibawa ke kantor? Itu sangat gag mungkin, gag ada tmp/org yang bisa buat dititipin anak. Aku stuju bgt dengan; rejeki itu udah ada yang ngatur, memang ketenangan batin gag bisa dibayar berapa pun :)

    Semoga makin laris manis ya restorannya :)

  5. Ikut merasakan sedihnya kalo punya anak sakit.
    Keputusan “demi anak” adalah keputusan terbaik seorang ibu, jadi jangan minder mom dengan omongan negatif orang lain. Dan turut mendukung kalo “Rezeki sudah ada yang ngatur”, juga ikut mendoakan “Mudah-mudahan restorannya tambah laris :)”

  6. Persis sama dgn yg aku rasakan/alami stlh mutusin quit working and stay at home ngurusin anak2 … Aku tetap pakai asisten rumah tangga dan nanny kok, dan rejeki alhamdulillah ada aja, gak melulu dalam bentuk cash/uang, bisa jg lg kepengen makan sushi or naksir mainan/baju anak yg rasanya mahal dan sayang keluarin uang utk beli, mendadak ada aja teman yg traktir or kasih kado buat anak2. aku dl shopaholic dan maniak salon-spa, sempat bingung wkt mutusin resign gimana caranya nge-rem kebiasaanku itu, ternyata berhenti aja tuh dgn sendirinya, aku sendiri sampai amazed :) itu pun aku consider as rejeki loh, Allah mengeliminasi nafsu2 yg gak penting shg kebutuhan tetap tercukupi, dan pastinya, no more stress, 24/7 bisa main dgn anak2 yg msh kecil2, wow that’s priceless!

    Have to admit tho, memang things gak always good fun for us yah, pastinya ada masa2 ‘bingung’ jg spt msh mikirin soal dana utk asuransi/tabungan/investasi pendidikan, ketar-ketir jg dgn masalah dana kesehatan, dan pastinya utk smtr wkt aku dan suami sepakat utk gak mengalokasikan dana utk liburan ke luar kota, apalagi ke luar negeri :p Tp spt yg aku tulis di atas, rejeki gak kmn2, dan utk ‘nafsu2′ gak penting tinggal minta dieliminir aja, it’s been the best 3 years in my life being a stay home, I wouldn’t have it any other way :p

  7. suka banget sharing ini…ngerti banget rasanya dilema anak sakit sdgkan kita hrs kerja. Mungkin kalo gw ga ada Nyokap yg jaga, gw jg pasti akan jd FTM…makanya selalu salut ama ibu2 lain yg jauh dr ortu, tmn2 atau ga ada bantuan lain. gw suka banget tulisan ini, gak judgemental dan bener2 dr hati banget nulisnya..ampe mau mewek gw bacanya hihi..moga2 sehat selalu semuanya ya…dan sukses bisnis resto-nya

  8. mbak…
    satu kata “salute”

    dan saya sangat iri sama mbak ^^,
    tapi disaat dibenturkan keadaan yang mengharuskan, toh akhirnya saya harus ikhlas jadi worker mother dulu…

    thanks for sharing mbak..
    ps. arek suroboyo to mbak?

  9. huhuhu merinding bacanya T_T saya sebenarnya ingin jd fully time mom..tp apa daya, keadaan yg mengharuskan saya bekerja dan meninggalkan si dede drmh sm si mbak nya :( kepengeeeennn bgt bs sharian drmh main2 sm dede. tp blom seberani mba shanti mengambil keputusan untuk resign dr kantor (pdhal suami selalu mengingatkan klo yg namanya rejeki ga bakal kemana)
    next time, insya allah saya akan jd fully time mommy bwt my little princess ^^

  10. terharus baca ini huhuh :'( salah satuh keuntungan sekarang WM dan masih nebeng di rumah orang tua, masih ada seseorang yang bisa diandalkan dan dipercaya jika ART, BS atau siapapun yang menjaga anakku di rumah, cabut/berhenti kerja. Tapi kalau tinggal sendiri, apa lagi di negara lain…dilema berat…

    Alhamdulillah sekarang latifah sudah lebih sehat, seneng dengernya :) semoga sehat terus ya…sukses ya bisnisnya

  11. mbak tfs yaa… bener2 inspiring, mau mewek nih bacanya… saya juga ngalamin nitip anak di daycare pas awal2 masuk kerja karena di sini saya ga punya keluarga yang bisa ngawasin pengasuh almira (ortu saya punya usaha yang tidak bisa ditinggal di pulau seberang, mertua sudah sepuh) saya juga masih blom bisa percaya sama nanny-nya. Daycare memang ada plus minus yaa, anak saya juga sering sakit pas dititip (umurnya masih 2,5 bulan waktu itu)capek juga minta tukang ojek bolak balik daycare yang super jauh dari kantor nganterin cooler box :P alhamdulillah 2 bulan kemudian bisa pindah ke rumah cicilan yang cuma 10 menit dari kantor, akhirnya daycare-nya distop. makan siang bisa pulang menyusui dan kontrol anak, kebetulan juga kantor bukan tipe kantor yang demanding kerjaannya, jadi bisa agak fleksibel…. saya juga sudah lebih percaya sama nanny-nya

    Walaupun jarak rumah dan kantor cuma 10 menit, saya kadang2 masih sedih ninggalin anak bertiga dengan pengasuhnya (saya punya 2 maid, satu nginep buat ngurus anak, satu pulang hari untuk pekerjaan rumah tangga)karena berasa nyerahin anak ke orang lain, ada perasaan bersalah juga terkadang. walaupun sebisa mungkin selama saya berada di rumah urusan anak saya yang handle (mandi pagi, masak makanan, nemenin tidur)

    yang paling bikin saya stress adalah saat harus ganti pengasuh. bener kata mbak kalau nyari art itu seperti cari jodoh, susah2 gampang. si mbak yang sudah 10 bulan sama kita harus pulang tiba2 karena ibunya meninggal :( akhirnya selama 3 bulan terakhir survive dengan maid temporer yang sering bikin saya stress dan naik darah, lebaran kemarin saya dapet pengganti si mbak. orangnya baik tapi agak2 lemot, butuh effort buat ngajarinnya :p pada saat itu pula almira mengalami separation anxiety pasca liburan… dia ga mau pisah dari saya… disertai sakit flu yang cukup parah, demamnya mencapai 39.3 :(( (almira jarang sakit, apalagi demam tinggi makanya saya panik sekali waktu itu) ditambah lagi saya training si mbak baru yang agak2 lemot :( bikin saya bener2 capek lahir-batin… berkali2 terpikir oleh saya untuk berhenti bekerja… saya bingung sekali karena saya pun masih ingin sekali bekerja, belum lagi memikirkan komentar2 teman dan keluarga kalau saya resign “buat apa kuliah kalau toh akhirnya cuma di rumah saja!” beban mental juga :( alhamdulillah masa-masa berat itu dah terlewati sekarang,almira berhasil mengatasi separation anxiety-nya setelah saya googling tips-nya. si mbak baru dah mulai oke dan almira juga sudah sehat dan akrab sama si mbaknya, mudah2an bertahan lama :)

    kok malah jadi curcol yaa :p intinya sih saya bersyukur sekarang masih diberi kemudahan untuk bisa tetap bekerja, tapi kelak apabila saya dihadapkan pada kondisi yang memaksa saya untuk berhenti bekerja, saya insyaAllah ikhlas dan tidah\k takut lagi setelah baca artikel ini.. makasih ya mbak :)

  12. Buat mommies yang mau jadi FTM ataupun WAHM, sebaiknya sih bisa tetep punya keranjang kedua yaaa….
    Keranjang kedua ini bisa kita lakuin dari rumah aja kok.
    Karena kita gak tau kejadian di hari depan, misal kita gak tau sampai di mana umur kita, jadi sebaiknya tetep punya keranjang kedua tadi buat jadi cadangan

  13. Aw..bener bgt..ketenangan batin ga bisa diganti. Aku jg SAHM…kadang keinginan buat kerja muncul lg kalo liat status fb temen,cuma anak msh kecil dan ga ada yg bisa dipercaya buat titip. Ibuku sdh almarhum dan mertua sdh sepuh..Jadi ya saat ini enjoy aja jalanin peran jd dosmetic goddes :) walopun bdn sering pegel2 krn ga pake art ( ga nemu yg cocok)…hi..hi…

    Semoga sukses restaurannya dan Latifah sehat selalu ya..Thanks for sharing…

  14. *mewek bacanya*. Thanks 4 ur story mam. So inspiring. Semoga big decision yang sudah mam ambil adalah jalan terbaik. Rejeki Allah tida akan kemana bagi org2 yang mau berusaha. Kiss buat Latifah dan calon dedeknya Latifah :-)

  15. *teary eyes*
    Aku pun memutuskan jadi SAHM karena ga tega ninggalin anak berduaan sama pengasuh (yg dr lahir sampe skrg masi aku urus sendiri tanpa BS/nanny) kebetulan sudah hidup mandiri, ibu&mertua tidak bisa dititipkan krn ibu masi bekerja, sedangkan mertua sudah sepuh dan jarak rumahnya terlalu jauh. Lega ketika saya resign bekerja, jam kantor yg seharusnya 8:30-17:30 seringkali hanya teori, dalam kesehariannya pulang seringkali jam 8-9malam paling cepat, kalau load kerja sedang tinggi bisa lembur sampai pagi.. Ga kebayang kapan bs ngasuh anak kl jam kerjanya sadis ky gitu.. Sedihnya krn ga punya gaji sendiri yg bisa dipakai buat belabeli seenak hati..dan tentunya nabung.. Walaupun sekarang masih suka dpt job freelance, nilainya tentu jauh dr gaji bulanan setiap bulan..yah alhamdulillah masi cukuplah buat beli gincu..hehehehe..
    Sekarang baru berasa menikmati mengurus anak dan menjadi saksi setiap milestonenya mgkn tidak sebanding dgn uang.., its priceless.. ibu saya pernah bilang, nikmati saja krn waktu berjalan cepat.. Wah bener banget, ga kerasa anakku ud 1 thn aja pdhl kita 24/7 365 hari ga pernah pisah..sedih juga sih kok cepat sekali dia besar..hehehe

    Kadang sedih juga kl dpt tawaran2 kerja..tp saya percaya rejeki ga kemana..insyaAllah sudah ada yg mengatur, nanti kl anak2 sudah mandiri dan mulai bnyk kegiatan di sekolah, mdh2an ilmu masi ‘laku’ buat kerja kantoran lagi..

    Mba Shanti TFS ya..mdh2an Latifah sehat selalu&kehamilan mba lancar terus..

  16. mba shanti….ga sengaja menemukan dirimu disini…^^
    aku baru 4 hari resign dari kantor, mba, dan memutuskan utk jd stay @ home mom, masih bingungan, masih takjub, masih takut2, suami juga berkali2 nanya “are u ok?” di sela2 kerja’nya…hihihiii…

    akhir bulan ini resmi ga pake ART, kayaknya bakalan lebih menantang, tapi yakin banget pasti bisa…^^

    thanks sharingnya ya mba, nanti jangan bosen2 kalo aku sharing2 lewat fb…:D

  17. Mba shanti,aku ga sengaja “nemu” tulisan di web ini setelah aku dpt info web mommiesdaily.com dr majalah yg baru aku beli kemarin. Babyku baru usia 1.5 bln, kondisiku jg jauh dr mama dan mama mertua (aku di jkt, mama di bdg, mertua di jateng), shg ga ada org yg bs dipercaya bt ngawasin bs/prt di rumah. Skr sedang berpikir untuk ressign, tp dipikir secara financial khususnya, rasanya aku msh butuh bekerja. Suami sebenarnya mendukung aku stay at home. Seperti mba shanti, kantorku jg company keluarga, aku udah 4 thn lebih kerja dan rasa kekeluargaan itu begitu besar. Setelah baca sharing mba shanti, panggilan untuk menjadi FTM smakin besar rasanya.. Apalagi baik aku maupun suami jg berasal dr keluarga di mana ibu kami semua adalah FTM. Trima kasih ya mengingatkanku bhw rejeki ga ke mana2.. Jg buat semua moms yg udah sharing, semua sgt menginspirasi aku.. Kekuatiranku tentang menjadi FTM rasanya hilang stelah baca sharing2 moms :) Doakan ya supaya aku bisa segera menjadi FTM ^^

  18. Dear Mommies,

    Terimakasih atas semua komentarnya, maaf baru reply comment sekarang, dan belum bisa balas satu-satu, maklum baru pindahan jadi internet di tempat baru belum settle. Ini aja numpang ngenet di warung kopi, hehehe..

    Memang godaan terbesar adalah dari sisi finansial, dimana tiap akhir bulan kartu ATM pribadi selalu “full”.. sekarang hanya mengharapkan cinta kasih dari suami, halah..

    Hidup adalah pilihan, dan tetap saja, saya selalu “iri” pada mommies yang mempunyai ART yang bisa dipercaya (macam ART mama saya yang merawat saya waktu bayi dulu, sehingga beliau masih eksis bekerja sampai sekarang). Tetapi apapun pilihan kita, harus ikhlas dan fokus dalam melaksanakannya.. betul tak?

    Okay, see you..:)

  19. Wowwww… another great post about stay-at-home moms…. bener banget Mbak Shanti, jangan takut ama keputusan untuk being stay-at-home moms, rejeki ga akan lari kemana, dan meski kita statusnya udah ga ngantor lagi, pasti ada lah dibukakan jalan kalau memang kita berusaha… ^^ Malah kadang bisa lebih dibanding pas kita ngantor lho… beneran ^^ Tapi ya balik lagi memang tergantung panggilan hidup setiap orang… Semangat ya Moms semuanya! Thanks for sharing…

  20. Mbak Santi, thanks atas artikelnya. Terus terang saat ini saya dlm kondisi bimbang (pilihan sulit) antara karir dan anak. TapiAlhamdulillah dengan baca artikel ini aku semakin mantap untuk meninggalkan dunia karier yang udah 15 tahun aku jalani. Aku yakin, Allah SWT pasti memberikan rejeki lain apabila kita ikhlas menjalankan pilihan yang terbaik tsb.

  21. Setuju, very inspiring. Sebelum melahirkan saya sudah ancang-ancang untuk persiapan masuk kantor setelah 3 bulan cuti. Ternyata Tuhan punya rencana, saya melahirkan prematur dan baby alergi parah.

    Terakhir, baby terkena serangan asma di usia 2 bulan dan harus di rawat. Awalnya sempat gamang antara lanjut kerja atau tidak, namun setelah kejadian itu keputusan saya bulat : saya harus resign.

    Dan benar, rejeki tidak kemana. One day kalau baby sudah besar mungkin saya bisa kerja kembali.

    Terima kasih ya mba telah menguatkan. *hugs

  22. Membacanya jadi senyum penuh haru. Aku baru 3 minggu ini memutuskan resign dari kantor, pertimbangannya jg sama karena anak dan terus terang pekerjaan dengan waktu yang terkadang bisa dihabiskan 12-14 jam dikantor itu awalnya membuat saya senang dan juga teriris. Sekarang stlh resign aku lebih santai dan insyaallah lebih punya waktu banyak untuk suami dan anak, dan aku juga percaya rejeki Tuhan yang mengatur.
    wass -cella

  23. *mewek

    Kemarin juga abis baca artikel nya mba Woro dan The Urban Mama tentang Being a Mom ini…

    Mau sebagai SAHM, atau Working Mom, semuanya hebat, Masing-masing pilihan has its own consequences, tinggal kita sesuaikan masing-masing dengan keadaan kita sendiri.

    Gw sendiri juga lagi menimbang-nimbang untuk jadi stay at home Mom nantinya…
    Gw mau percaya rejeki udah ada yg atur…

    Thanks for the great post…

  24. Really inspiring!!
    Sama halnya dg sy mbak. Sebelum anak sy lahir sy terikat kontrak utk mnyelesaikan pkerjaan sy 2 bulan setelah anak sy lahir mau tak mau 3 minggu setelah sy melahirkan sy langsung bkerja mengejar jatah shift sy. Anak sy sy titipkan ke mertua di luar kota. Sedih pastinya jauh dari bayi yang baru bbrapa minggu lahir dan mnemani sy stiap hari setiap malam sy dekap erat. Apalagi karena jauh dan tidak pernah disusui langsung asi sy smkin sdikit dan akhirnya menipis. Gagal impian sy utk bsa asi eksklusif ke anak sy :'(
    Akhirnya setelah tiga minggu sy melunasi jatah kerja sy, suami sy pindah kerja ke jakarta dan mengajak hidup bertiga sja
    Awalnya dilema bingung bagaimana hidup di perantauan dmana tidak ada yg bisa mmbantu mengurus anak sy jika sy bekerja nanti. Apalagi ayah sy trs membujuk dan menjuruskan sy utk sekolah lagi saking seringnya berkata’ buat apa papi sekolahin tinggi2 klo akhirnya cm jdi ibu rumahtangga’
    Sangat kontradiktif dengan suami sy yg selalu encourage sy full mengurus anak sj ‘sudahlah toh nanti klo anak kita sdh besar km bsa bekerja atau sekolah lagi, kasihan anak kita masih kecil dipasrahkan ke bbysitter yg kita tak bisa awasi’
    Finally sy berpikir dua kali. Sy sdh tidak asi ekslusif. Skrg sy hrs mnyerahkan anak sy ke orang asing demi uang?? I’m such a baaad mother!! Akhirnya sy mmutuskan utk jd stay at home mom. Ayah sy yg sering mendorong sy lama2 akhirnya capai dan menyerah.
    Alhamdulillah smua anak sdh dberi rejeki oleh Allah. Meskipun ank sy ank sufor dan sy tidak bkerja dan kami bertiga sering hura2 blnja tpi pendapatan dg pngeluaran selalu sja surplus .
    So trnyata ga nelangsa2 amat jadi sahm. Yang jelas being a stay at home mom definitely made my life happier..

  25. lagi galau eh kesasar di forum ini.
    ya saya lagi galau karena bingung mau resign kerja atau mau pakai jasa art,
    secara sya terlalu parno dengan art (kerena keseringan liat review dan nonton berita soal kriminal art).ckck
    dan setalh mampir di blog ini makin PD utuk resign.
    walaupun nantinya pasti ada yang berubah cuma sepertinya memang lebih puas urus anak sendiri.
    Thanks mba buat sharingnya

Post Comment