Kejar-kejaran Dengan Jadwal Demi Asi Perah

Status saya masih CPNS ketika Haikal Zakky Nayaka a.k.a alza, anak saya, belum genap berumur 6 bulan. Dan adalah kewajiban saya untuk tetap memberikan asi eksklusif, meskipun panggilan prajabatan itu datang.

Berat memang. Di satu sisi, saya ingin selalu bersama alza dan tetap menyusuinya. Di sisi lain, prajabatan harus saya jalani agar status kepegawaian saya berubah jadi PNS.

Sesuai saran DSA, saya menabung asip sebelum prajabatan dimulai dan (alhamdulillah) terkumpul sebanyak 120 botol @100-120 ml asip. Selain itu juga tetap pumping asip selama prajabatan berlangsung, agar produksi tidak menurun.

Peralatan ‘perang’ pun disiapkan. Breastpump manual dan elektrik, botol dan plastik khusus penyimpanan asip, tisu, sabun cuci, heater untuk rebus air panas yang digunakan untuk sterilisasi botol dan corong, dan banyak lagi peralatan lainnya, memenuhi koper tersendiri. Oh iya, saya juga meminjam kulkas/freezer pada lembaga tempat saya prajabatan untuk menyimpan asip.

Yang menjadi persyaratan selama prajabatan berlangsung, peserta tidak diperbolehkan pulang dan membawa anggota keluarga, juga tidak boleh meninggalkan kegiatan (batas toleransi hanya 5% dari total seluruh jam kegiatan). Prajabatan berlangsung selama 2 minggu berturut-turut. Dimulai pada pukul 05:00 untuk senam pagi dan diakhiri apel malam pada pukul 21:00, setiap harinya. Kegiatan berlangsung sangat padat dan nyaris tanpa jeda. Istirahat pun diberikan sangat singkat, hanya empat kali dan dua diantaranya hanya cukup untuk minum teh dan makan cemilan, serta sholat. Selama masa istirahat, peserta boleh menemui atau ditemui anggota keluarga. Disinilah saya membuat strategi, agar kegiatan prajabatan dan sesi pumping asip tetap bisa dijalankan.

Bagi saya yang harus melakukan ritual pumping asip, jelas sulit untuk membagi waktu. Saya harus mencuri-curi waktu disela istirahat yang singkat itu. Tak jarang saya menjamak sholat dhuhur-ashar agar sesi memompa tidak terlewatkan.

Dini hari pukul 01:00 saya bangun untuk sesi pumping pertama, dilanjutkan dengan sesi kedua pukul 04:00. Dua sesi ini tidak bisa diganggu gugat, karena kalau terlewat bisa jadi kacau jadwal pumping berikutnya. Selesai sesi kedua, saya sudah tidak berani tidur lagi, saya langsung melanjutkan dengan ibadah sholat subuh, mandi, dan bersiap untuk senam pagi pukul 05:00.

Senam pagi biasanya usai pada 05:45, dan sarapan serta apel pagi baru mulai 06:30. Sementara teman prajabatan lainnya biasa memanfaatkan waktu ini untuk mandi dan istirahat sebentar, saya lain lagi. Saya menggunakan waktu singkat ini untuk sesi pumping, mandi kalau sempat (biasanya sih enggak, asal pas senam ngga gerak terlalu heboh aja jadi ngga begitu keringetan), dan bersiap untuk kegiatan seharian.

Sarapan dan apel pagi mulai pukul 06:30, lalu dilanjutkan dengan materi sehari penuh. Nah, curi waktu di sinilah yang agak sulit. Setelah sesi pumping sebelumnya, saya baru bisa pumping lagi pukul 10:30 saat coffee break pagi. Dari 05:45 sampai 10:30, lama banget kan tu?? PD saya sering bengkak dan asi netes-netes karena kepenuhan. Istirahat ini sengaja saya skip demi sesi pumping.

Coffee break berakhir 10:45. Waktu 15 menit saja, tentu saya manfaatkan untuk pumping. Dua breastpump (manual dan elektrik) beraksi bebarengan. Kadang kalau saya ngga sabar, saya cuma pakai 10 asisten alias jari-jari saya. Hasil lebih banyak, dan lebih cepat kempesnya. Tapi ya itu, lebih capek juga -_- Pukul 10:45, peserta sudah harus masuk ruangan untuk melanjutkan materi. Begitu pula dengan saya.

Istirahat berikutnya pukul 12:30, berakhir pukul 14:00. Kelihatannya sih agak panjang, tapi istirahat ini harus dipotong dengan makan siang hingga pukul 13:15. Jadi benernya ya cuman 45 menit. Dan tentu saja saya pakai untuk pumping, dan ibadah sholat (biasanya saya menjamak dhuhur-ashar).

Materi berlanjut pukul 14:00. Dan ada coffee break sore yang hanya 15 menit pada pukul 15:30. Istirahat ini juga saya skip, tentulah demi sesi pumping. Sama dengan saat istirahat coffee break pertama, saya seolah ‘akrobatik’ dengan 2 payudara yang bekerja bersamaan plus kadang hanya dengan 10 jari saja.

15:45 peserta sudah harus masuk kelas dan melanjutkan materi. Sebenarnya jam ini sudah tidak efektif karena peserta biasanya sudah lelah dan mengantuk. Apa daya, tidak ada satupun kegiatan yang boleh ditinggalkan.

Peserta boleh beristirahat lagi 17:30 sampai 18:15 untuk sholat maghrib. Saat inilah bagaikan surga buat saya. Orang tua saya datang untuk mengambil asip yang saya hasilkan sehari itu. Juga tidak lupa membawa si kecil, agar saya dapat melepas rindu dengannya. Tidak ada sesi pumping kali ini, biasanya saya langsung menyusuinya. Bahagia rasanya melihatnya meneguk asi dan mengempeskan ‘pabrik susu’ saya. Sayang, setengah jam saja hak saya untuk bisa menemui orang tua dan anak saya, 15 menit lainnya saya gunakan untuk sholat maghrib dan bersiap untuk kegiatan selanjutnya.

18:15 teng makan malam dan dilanjutkan kegiatan materi sampai 20:30, disudahi apel malam pada pukul 21:00. Kegiatan sehari memang sudah berakhir, tapi biasanya kita masih disibukkan dengan PR diskusi dan kertas kerja, belum lagi ada jadwal ronda malam. Sebelum saya melanjutkan untuk mengerjakan PR-PR itu, biasanya saya pumping dulu. Sangat menguras tenaga dan stamina, bukan??

Suatu saat, pernah ada teman sesama busui yang ketahuan pumping di luar jam istirahat. Tidak tanggung-tanggung, panitia langsung mengeluarkan larangan untuk pumping selama jam kegiatan, dan mengancam tidak akan meluluskan yang bersangkutan kalau hal itu terjadi lagi. Saya jelas kaget, kok bisa-bisanya ngasih nutrisi terbaik buat anak kita dilarang. Saya langsung berkonsultasi dengan salah satu konselor laktasi di daerah saya, dan beliau menghimbau saya untuk mengeluarkan SKB 3 menteri tentang hak ibu menyusui di tempat kerja. Saya ikuti sarannya, saya melobi panitia dengan menunjukkan cetakan SKB 3 menteri itu. Panitia pun luluh, dan memberikan saya (dan teman sesama busui) untuk kefleksibelan jam masuk setelah istirahat, jam istirahat ditambah 15 menit. Yah lumayanlah, walaupun sebenernya yang saya mau adalah dibolehkannya pumping saat kegiatan atau di luar jam istirahat.

Dua minggu berlalu, dan prajabatan pun usai sudah. Alhamdulillah saya sudah diperbolehkan pulang dan bisa kembali memeluk dan bercumbu mesra dengan anak saya. Hingga kini, alza 9 bulan, masih memperoleh haknya yaitu asi dan saya menambahkannya dengan mpasi homemade.

-Yaiy! Congrats ya Ndi, semoga menginspirasi ibu bekerja lainnya :)

*dikirim oleh Indira Dewi, ibu dari Haikal Zakky Nayaka, 9 bulan.


38 Comments - Write a Comment

  1. wah sama banget mba, aku prajab pas bulan puasa, mungkin terbawa suasana puasa, jadi prajab gak seketat biasanya,..
    sedihnya tempat prajab saya gak ada kulkas… T_T, akhirnya beli kulkas kecil n alhamdulillah kepake nyimpen asip sama busui2 lainnya… :D

  2. Waduuuh mooom, salut bgt baca pengalamannya diatas…nyetok asip smpe 120 botol itu, waduh, aku smpe kebayang…bisa ga ya aku nyetok asip sebanyak itu, kebetulan aku dijadwalin ikut prajab awal mei nanti, pas babyku 2,5 bulan…
    Skrg jg kebayang apa yg musti disiapin slama prajab itu spy ahak baby’ku bwt dpt asi ttp bs aku penuhin…krn ga kebayang sikon slma prajab ky gmn, disana ada kulkas apa ga, trs babyku+ortu bakal ngkos dimana (dkt2 lokasi prajab)…mohon pencerahannya mom..lewat email ku aja (fifi_d82@yahoo.com)..makasi sblmnya, n salam kenal ya mom :)

Post Comment