Gula Darah Rendah (Hipoglikemi) Pada Bayi

Pada persalinan ketiga saya kira saya sudah hafal ‘pelayanan’ RS. Karena akan menjalani operasi caesar terjadwal, saya sudah siapkan mental tentang kelancaran pemberian ASI walaupun kecil kemungkinan bisa IMD. Saya kerjakan PR tentang jaundice/kuning yang biasa terjadi pada bayi, dan kebetulan banget dokter anestesinya waktu itu sangat kooperatif sehingga mengabulkan permintaan saya untuk skip bius pasca operasi supaya saya tetap sadar dan bisa segera menyusui bayi.

Tapi ternyata ada satu hal yang rupanya luput dari bahan PR saya. Memang waktu itu saya betul-betul belum tahu tentang kadar gula darah rendah (hipoglikemia) pada bayi baru lahir. Dari persalinan sebelumnya sama sekali tidak pernah disebut-sebut (atau saya aja yang ngga ngeh?).

Devan lahir sehat, nilai apgar bagus, tangisnya keras. Lha kok tiba-tiba suster bilang Devan beresiko hipoglikemia karena lahir dengan bobot yang besar (4 kg pada 37,5 minggu). Darris si sulung juga lahir 4 kg, tapi waktu itu (2004) juga ngga ada soal begini. Apa sih hipoglikemia ini?

Hipoglikemia adalah kondisi dimana kadar gula menurun. Kadar gula darah dites melalui tes darah yang namanya GDS (gula darah sewaktu). Pada bayi baru lahir, bila mengalami hipoglikemia, akibatnya bisa fatal. Penurunan kadar gula darah yang serius dapat menyebabkan kejang, kerusakan otak, bahkan kematian. Tapi tentunya tidak semua bayi beresiko hipoglikemia.

Bayi yang beresiko adalah:

1. Bayi prematur, atau bayi lewat bulan.
Definisinya adalah bayi yang lahir sebelum usia 36 minggu atau lebih dari 42 minggu. Bayi prematur atau lewat bulan tidak memiliki banyak cadangan glikogen (gula kompleks yang bisa digunakan sewaktu-waktu kalau tubuh butuh glukosa), juga mekanisme produksi gula darah mereka terganggu atau belum berkembang dengan baik.

2. Bayi dari ibu penderita diabetes.
Sejak dalam kandungan, bayi sudah terbiasa mengeluarkan insulin kadar tinggi untuk mengatasi tingginya kadar gula dalam darah ibu. Ketika ia lahir, ia tidak lagi mendapat asupan gula dari ibunya, tetapi mekanisme sekresi hormon insulinnya belum bekerja baik, sehingga kadar gula darah bayi turun secara drastis.

3. Bayi yang ibunya diberikan infus cairan gula dalam jumlah besar selama persalinan.
Mirip seperti bayi dari ibu penderita diabetes, bayi sebelumnya sudah mengeluarkan insulin kadar tinggi untuk mengatasi tingginya kadar gula darah ibu yang diakibatkan oleh pemberian infus cairan gula.

4. Bayi yang terlalu kecil atau terlalu besar dibanding umur kehamilannya.
Bayi yang terlalu kecil juga dikhawatirkan mekanisme produksi gula darah mereka terganggu atau belum berkembang dengan baik. Sementara bayi yang terlalu besar dikhawatirkan mengalami hyperinsulinism (sekresi insulin berlebih), terutama yang memang lahir dari ibu penderita diabetes.

5. Bayi yang stres.
Misalnya mengalami kesulitan pernafasan, tekanan respiratori, atau persalinan yang sulit.

Intinya: bayi normal yang lahir tepat waktu kecil kemungkinan bahkan hampir tidak ada kemungkinan mengalami hipoglikemia.

LLLI (La Leche League International) bahkan menyatakan, hipoglikemia simptomatik pada bayi baru lahir cenderung disebabkan karena penundaan atau kurangnya pemberian ASI dan lebih banyak terjadi pada bayi yang dipisahkan dari ibunya setelah lahir (tidak rooming-in).

APAKAH BAYI HIPOGLIKEMIK HARUS DIBERI SUSU FORMULA ATAU CAIRAN GLUKOSA?

Jawabannya: TIDAK! Justru bayi hipoglikemik harus segera mendapat asupan kolostrum dari ASI, baik langsung menyusu ke ibu atau berbentuk ASIP atau donor ASI. Kenapa? Karena kolostrum adalah makanan terbaik bagi bayi untuk membantu mencegah hipoglikemia. Sebab, kolostrum tidak merangsang pembentukan insulin (yang akan menurunkan kadar gula darah).

Sebaliknya, susu formula dan cairan glukosa justru mengandung berbagai macam nutrisi yang merangsang produksi insulin. Insulin tidak hanya menurunkan kadar gula darah, tetapi juga kadar gizi lain yang dibutuhkan bayi kalau tidak punya cukup glukosa, yi. asam lemak bebas dan ketone.

Juga untuk bayi yang kadar gula darahnya turun akibat stres, yang terbaik bagi bayi itu adalah sesegera mungkin kontak kulit dengan ibunya dan menyusu. Ia akan merasa hangat, mendapat asupan kolostrum, dan lebih cepat mengatasi stres + hipoglikemianya.

Jadi, kalau suatu waktu bayi didiagnosis hipoglikemia, jangan ragu untuk menjawab, “Berarti harus rawat gabung dong Dok/Sus, supaya bayi saya bisa segera dan sesering mungkin menyusu, kan kolostrum yang terbaik untuk menjaga kadar gula darah bayi!

Sumber:

– Notes dari Facebook Ellen Kristi, member milis sehat, AIMI Semarang, dan milis Semarang_Parents
– http://www.askdrsears.com/html/2/t029700.asp
– http://www.llli.org/NB/NBJulAug97p107.html


26 Comments - Write a Comment

Post Comment