Gula Darah Rendah (Hipoglikemi) Pada Bayi

by: - Monday, September 27th, 2010 at 10:15 am

In: Health 26 responses

0 share

Pada persalinan ketiga saya kira saya sudah hafal ‘pelayanan’ RS. Karena akan menjalani operasi caesar terjadwal, saya sudah siapkan mental tentang kelancaran pemberian ASI walaupun kecil kemungkinan bisa IMD. Saya kerjakan PR tentang jaundice/kuning yang biasa terjadi pada bayi, dan kebetulan banget dokter anestesinya waktu itu sangat kooperatif sehingga mengabulkan permintaan saya untuk skip bius pasca operasi supaya saya tetap sadar dan bisa segera menyusui bayi.

Tapi ternyata ada satu hal yang rupanya luput dari bahan PR saya. Memang waktu itu saya betul-betul belum tahu tentang kadar gula darah rendah (hipoglikemia) pada bayi baru lahir. Dari persalinan sebelumnya sama sekali tidak pernah disebut-sebut (atau saya aja yang ngga ngeh?).

Devan lahir sehat, nilai apgar bagus, tangisnya keras. Lha kok tiba-tiba suster bilang Devan beresiko hipoglikemia karena lahir dengan bobot yang besar (4 kg pada 37,5 minggu). Darris si sulung juga lahir 4 kg, tapi waktu itu (2004) juga ngga ada soal begini. Apa sih hipoglikemia ini?

Hipoglikemia adalah kondisi dimana kadar gula menurun. Kadar gula darah dites melalui tes darah yang namanya GDS (gula darah sewaktu). Pada bayi baru lahir, bila mengalami hipoglikemia, akibatnya bisa fatal. Penurunan kadar gula darah yang serius dapat menyebabkan kejang, kerusakan otak, bahkan kematian. Tapi tentunya tidak semua bayi beresiko hipoglikemia.

Bayi yang beresiko adalah:

1. Bayi prematur, atau bayi lewat bulan.
Definisinya adalah bayi yang lahir sebelum usia 36 minggu atau lebih dari 42 minggu. Bayi prematur atau lewat bulan tidak memiliki banyak cadangan glikogen (gula kompleks yang bisa digunakan sewaktu-waktu kalau tubuh butuh glukosa), juga mekanisme produksi gula darah mereka terganggu atau belum berkembang dengan baik.

2. Bayi dari ibu penderita diabetes.
Sejak dalam kandungan, bayi sudah terbiasa mengeluarkan insulin kadar tinggi untuk mengatasi tingginya kadar gula dalam darah ibu. Ketika ia lahir, ia tidak lagi mendapat asupan gula dari ibunya, tetapi mekanisme sekresi hormon insulinnya belum bekerja baik, sehingga kadar gula darah bayi turun secara drastis.

3. Bayi yang ibunya diberikan infus cairan gula dalam jumlah besar selama persalinan.
Mirip seperti bayi dari ibu penderita diabetes, bayi sebelumnya sudah mengeluarkan insulin kadar tinggi untuk mengatasi tingginya kadar gula darah ibu yang diakibatkan oleh pemberian infus cairan gula.

4. Bayi yang terlalu kecil atau terlalu besar dibanding umur kehamilannya.
Bayi yang terlalu kecil juga dikhawatirkan mekanisme produksi gula darah mereka terganggu atau belum berkembang dengan baik. Sementara bayi yang terlalu besar dikhawatirkan mengalami hyperinsulinism (sekresi insulin berlebih), terutama yang memang lahir dari ibu penderita diabetes.

5. Bayi yang stres.
Misalnya mengalami kesulitan pernafasan, tekanan respiratori, atau persalinan yang sulit.

Intinya: bayi normal yang lahir tepat waktu kecil kemungkinan bahkan hampir tidak ada kemungkinan mengalami hipoglikemia.

LLLI (La Leche League International) bahkan menyatakan, hipoglikemia simptomatik pada bayi baru lahir cenderung disebabkan karena penundaan atau kurangnya pemberian ASI dan lebih banyak terjadi pada bayi yang dipisahkan dari ibunya setelah lahir (tidak rooming-in).

APAKAH BAYI HIPOGLIKEMIK HARUS DIBERI SUSU FORMULA ATAU CAIRAN GLUKOSA?

Jawabannya: TIDAK! Justru bayi hipoglikemik harus segera mendapat asupan kolostrum dari ASI, baik langsung menyusu ke ibu atau berbentuk ASIP atau donor ASI. Kenapa? Karena kolostrum adalah makanan terbaik bagi bayi untuk membantu mencegah hipoglikemia. Sebab, kolostrum tidak merangsang pembentukan insulin (yang akan menurunkan kadar gula darah).

Sebaliknya, susu formula dan cairan glukosa justru mengandung berbagai macam nutrisi yang merangsang produksi insulin. Insulin tidak hanya menurunkan kadar gula darah, tetapi juga kadar gizi lain yang dibutuhkan bayi kalau tidak punya cukup glukosa, yi. asam lemak bebas dan ketone.

Juga untuk bayi yang kadar gula darahnya turun akibat stres, yang terbaik bagi bayi itu adalah sesegera mungkin kontak kulit dengan ibunya dan menyusu. Ia akan merasa hangat, mendapat asupan kolostrum, dan lebih cepat mengatasi stres + hipoglikemianya.

Jadi, kalau suatu waktu bayi didiagnosis hipoglikemia, jangan ragu untuk menjawab, “Berarti harus rawat gabung dong Dok/Sus, supaya bayi saya bisa segera dan sesering mungkin menyusu, kan kolostrum yang terbaik untuk menjaga kadar gula darah bayi!

Sumber:

- Notes dari Facebook Ellen Kristi, member milis sehat, AIMI Semarang, dan milis Semarang_Parents
- http://www.askdrsears.com/html/2/t029700.asp
- http://www.llli.org/NB/NBJulAug97p107.html

Share this story:

Recommended for you:

26 thoughts on “Gula Darah Rendah (Hipoglikemi) Pada Bayi

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: mira a
  3. tfs, kirana…
    saudara saya juga mengalami hal yg sama, berat bayinya kurang dr 2,5kg di kehamilan 40 minggu, lahir caesar, opname 1 bulan, kabarnya juga karena gula darah ga stabil…
    nah, kalo bayi saya opname karena darahnya kekentalan, apa penyebabnya gula darah juga?

  4. ini yg terjadi sama adekku yg paling kecil
    dicurigai hipoglikemi (waktu itu cuman dibilang curiga ada gula) karena bayi besar (4,4 kg) trus hampir lewat bulan (40 mgg)
    jadinya di tes mulu sama rumkit nya, alhasil di tangan kakinya penuh tusukan jarum…
    kesian liatnya..

  5. nah ini dia nih yang ‘menjebak’ suami gue untuk setuju kalo anak gue yang pertama harus dikasih susu formula.

    Lepas sectio, gue masih di ruang pemulihan belum dikembaliin ke kamar. Gue ga bius total, masih sadar tapi ya ga bisa ngapa-ngapin. Tidur aja. Pas dibalikkin ke kamar, gue ngantuk banget dan akhirnya tidur lelap selama beberapa jam.

    Ternyata selama gue ga ada itu, suami gue disamperin suster dan bilang kalo anak gue saat itu terhitung besar (3,79kg) dan ada resiko gula darah rendah. gue waktu itu ngelahirinnya pas 40 minggu. Suami gue yang awam, hanya menyerahkan yang terbaik dan susternya sempet ngomong gini : “Jadi bapak mengizinkan kan ya pak, anaknya dikasih susu formula?” Suami gue manggut-manggut aja.

    Later on, waktu gue konsul laktasi di Asih, waktu gue ceritain sang dokter di Asih menyesalkan bahwa seharusnya itu tidak usah terjadi. karena anak gue toh normal2 aja beratnya dan ga kelamaan di dalam kandungan.

    So, buat adeknya Awan, gue keknya harus lebih hati2 kalo sampe harus caesar lagi. Sekarang gue udah wanti-wanti suami, kalo sampe gue caesar dan dia ga ada yang bisa ditanyain, kita udah punya pegangan. Telpon DSA kita yang pro asi. Cuma masalahnya kalo gue lahiran tengah malem, apa ya enak hati nelpon si DSA malem2 begitu?:D

  6. dew, nah tuh dia. sebel banget kalo udah dikerjain begitu :(
    btw itu yg gue sebutin diatas. elo ga bius total emang selama sesar, udahannya baru dibius total.
    pas anak kedua (sesar pertama) tuh persis ke elo. pas proses sadar, eh dibalikin ke kamar mulai setengah sadar trus gak lama black out.

    paling simpel ya diedukasi aja suaminya jeng. suamiku juga ho oh sufor pas abis gue sesar yg pertama itu soalnya susternya bilang ibunya masi lama bisa nyusuinnya, masi di recov room -_-”

  7. gue keknya juga mau pake taktik baru kir… gue mo bilang sebelum lahiran sama susternya, gue beli tu susu formula 2 kaleng, tapi jangan dibuka. bantu gue buat kasi asi eksklusif ke anak gue. jadi kan sama-sama enak. dia dapet komisi, gue ga diboongin.

  8. Mo sharing juga…. bayi gw kembar, lahir 35 minggu. 8 jam setelah lahir masuk ke NICU karena hipoglikemi. yang bikin gw sebel, besok paginya susternya beri sufor ga bilang2 sama kita. Waktu ditanya dengan entengnya bilang ibunya kan belum keluar asinya. “kampret”, pikir gw. trus gw cari donor asi sana-sini, akhirnya dapat untuk persediaan 3 hari. moga2 cukup sampai asi nya keluar.

    sekarang klo gw ke NICU, trus lihat kaleng sufor nya pengen gw buang ke tempat sampah.

  9. Wah namanya hampir sama kayak anakku..Deven..
    mau cerita sedikit soal gula darah..baru tau kalo penyebabnya adalah seperti tersebut di atas
    Deven lahir waktu itu agak lama..dari pembukaan 1 sampe 10 makan waktu 2 malam..setelah lahir dia didiagnosa gula darahnya kurang..waktu itu ga ngerti kenapa..tapi setelah baca ini, aku ambil kesimpulan sepertinya karna dia stress waktu mau lahir..terlalu lama prosesnya..tapi untungnya aku masih bisa dikasih berkat melahirkan secara normal..
    setelah lahir akhirnya selama 1 malam pertama deven ga rooming in sama aku..dia ditaroh di ruang khusus..disana dikasih infus untuk nambah gula darah..tapi thanks God lagi..ga dikasih sufor sama sekali karna waktu itu dokternya cuma bilang..susuin terus sesering mungkin karna kolostrum ibu membantu menaikkan gula darah..suster juga rajin sekali memboyong saya ke ruang intensif pake kursi roda setengah jam sekali untuk nyusuin deven..

    Setelah satu malam dia pisah sama aku, besoknya dia boleh ke kamar untuk rooming in karna gula darahnya sudah cukup..

    mungkin pelajaran yang bisa diambil dari sini, akunya juga ga boleh stress waktu menanti sampai bukaan lengkap..biar anakku yang di perut juga ga stress saat keluar..

    Sekarang aku lagi hamil anak ke dua (7 bulan)..terima kasih untuk infonya….semoga yang kedua ini ga ada lagi kasus kurangnya gula darah..

  10. Pingback: Mommies Daily
  11. Pingback: Nina Ranti
  12. Pingback: Indah Wardani
  13. Pingback: diana lubis
  14. Pingback: dr ayu partiwi
  15. Pingback: indiati indah
  16. Pingback: elza sukma
  17. Pingback: Iyam
  18. Pingback: Dimas Adrianto

Leave a Reply