Investasi & Mengajarkan Konsep Uang Pada Anak

Tadi pagi, Mommies Daily menghadiri acara Cikal Bincang Bincang dengan pembicara Ligwina Hananto (Perencana Keuangan) dan Najelaa Shihab (Principal Sekolah Cikal). Topiknya..apalagi kalo bukan dana pendidikan (yang udah pernah dibahas tuntas sama Mbak Wina di sini) dan Mbak Elaa berbagi tentang bagaimana mengajarkan uang pada anak. Sekarang, saya mau berbagi beberapa points penting yang pasti berguna buat para Mommies.

  • Inget dong sama krisis tahun 1997 ? Yang pada saat itu sekolah di luar, pasti terasa banget deh dampaknya. Setiap harinya adaaa aja temen yang ditarik pulang ke Indonesia karena orang tuanya udah nggak sanggup lagi membiayai akibat rupiah yang semakin nggak ada artinya terhadap dollar.
    Padahal, anak-anak yang ditarik pulang ini sebelumnya bergaya hidup enak, punya mobil dan apartemen bagus. Nah tapi ada juga yang bertahan di sana dan itu bukan karena mereka lebih banyak uang dari yang pulang lho,  simply karena orang tua mereka sudah menyiapkan dana pendidikan mereka sampai selesai, dan disimpan dalam bentuk dollar. Jadi, mau dollar melejit sampai berapapun nggak masalah.
    Lesson: Keuangan kita memang harus direncanakan dengan baik, so we can sleep in the storm.
  • Ayahnya Mbak Wina, nggak pernah beliin baju atau mainan yang mahal mahal. Tapi…untuk soal pendidikan, ayahnya borju sekali. Mbak Wina didaftarkan ke tempat les bahasa Inggris yang paling mahal di Bandung, dan di sekolahkan ke Australia.Lessson: Prioritized!. Kalau memang setelah diinvestasikan untuk kebutuhan lalu masih ada sisanya ya silahkan dibelanjakan. Tapi kalo untuk uang pangkal sekolah anak taun depan belum ada, ya lupakan dulu lah sepatu Crocs terbaru untuk si anak. Hidup bukan hanya untuk dinikmati pada saat sekarang aja, tapi kita harus mikir bagaimana supaya kita dan anak kita bisa tetap menikmatinya juga di masa depan.
  • Tujuan lo apa?. Kalau mau berinvestasi, yang harus ditentukan pertama adalah tujuan dari investasi itu, dan sebelumnya yang harus dilakukan adalah
    1. Present value. Determine where you stand financially. Harus tau punya aset berapa, punya cash berapa, punya hutang berapa.
    2. Masih punya hutang kartu kredit? Selesaikan dulu uangnya, baru boleh mulai mikirin soal investasi.
    3. Future value. Silahkan hitung di kalkulator QM financial berapa biaya sekolah yang dibutuhkan untuk beberapa tahun ke depan.
    4. Investasi
  • It doesn’t matter where your husband work or how much his salary is. The important thing is, how much you can save? Punya cash berapa? Ad reksadana? Deposito? Tabungan? Emas? Obligasi?
  • Ada uang 100 juta di tabungan? Tentukan mau diapakan uang itu dan terdiri dari komponen apa aja. Berapa yang akan disisihkan untuk dana darurat? Tabungan untuk sekolah anak? Dana liburan? Berapa yang bisa diambil untuk down payment rumah?. Jangan sampai kita diperbudak dengan uang. Kita yang harus bisa menentukan mau dibawa kemana uangnya.
  • Kalo tujuan investasinya sudah tercapai (80 juta untuk SD anak, misalnya), tarik uangnya dari reksadana dan simpan di deposito. Jangan tergiur untuk menginvestasikan uang itu lagi.
    Lesson: Jangan serakah :)
  • Tahun 2003 – 2007 return dari reksadana saham itu 30%. Dan waktu 2008 = -5% (Iya minus). Tapi waktu di tahun 2009 = 100%.
    Lesson: Reksadana saham memang untuk jangka panjang > 10 tahun.
  • Untuk biaya kuliah S1 di Australia 17 tahun lagi butuh 4,280 milyar rupiah. Bisa dicapai dengan nabung sebanyak 21 juta per bulan atau investasi reksadana saham sebesar 1.3 juta per bulan
  • Masih punya utang kartu kredit? That means you’re living the life you don’t deserve.
  • Mbak Wina invests 30% of the family income every month. How much do you save? :D

Berikut beberapa tips dari Najelaa Shihab tentang uang dan anak. .

  • Mengajarkan anak tentang uang dari sedini mungkin itu penting. Kita sering menggampangkannya karena mikir “Ah, itu kan nanti juga mereka akan belajar dengan sendirinya”. Padahal disetiap keseharian kita, banyak sekali kesempatan untuk ngobrol tentang uang dengan anak.
  • Sering nggak sih anak-anak megang-megang dompet kita trus kita bilang “Ehh sini-sini, jangan pegang-pegang dompet mamah”. Atau kalo ditanya..”Mamah uangnya berapa sih?”..trus kita jawab dengan..”Hussss anak kecil mau tau aja”. Sounds familiar? :D. Seakan akan uang itu adalah sesuatu yang mengerikan. Padahal uang kan dekat sekali dengan kehidupan sehari hari karena memang alat transaksi, dan anakpun  selalu melihat kita mengeluarkan uang terus menerus.
  • Terangkan ke anak berapa banyak uang yang kita punya, berapa gaji kita dan untuk dipakai apa aja uangnya. Tapi jangan lupa untuk mengingatkan mereka bahwa diskusi tentang uang tidak untuk dibagi
  • Anak mesti tau berapa banyak uang yang kita keluarkan untuk mereka. Dari mulai sekolahnya, uang les, mainan dan lain sebagainya. Kasih dia budget, boleh beli mainan yang harganya berapa dan ajak untuk membandingkannya di toko sebelah. Supaya anak tau konsep mahal, murah and the art of bargaining.
  • Anak selalu merasa mau beli lagi lagi lagi, selalu membandingkan dengan yang dipunyai temannya, pengen punya koleksi lengkap. We need to emphasize on having enough to live comfortably.
  • Kalau kita mau membeli sesuatu, bisa tanya pendapat anak, ‘Menurut kamu mahal nggak ya?’. Ajari juga tentang konsep sale.
  • Jelaskan juga bahwa selain untuk membeli, uang  juga dipakai untuk investasi, menabung dan berbagi.
  • Uang jajan itu bagus untuk anak belajar mengatur uang. Bukan untuk dihabiskan jajan makanan nggak jelas di sekolah, tapi untuk membantu anak kita mencapai tujuan financialnya. Mau beli Barbie? Hot Wheels? Mau main Animal Kaiser atau nonton Disney on Ice?. Kita harus keep track kemana larinya uang mereka.
  • Salah satu kesalahan besar ibu-ibu adalah, menitipkan anaknya ke Ibu kantin untuk membiarkan anak-anaknya ambil apa saja, nanti ibunya yang bayar sekalian setiap bulan. Siapa yaa yang begitu di sini?

Sekian poin-poin penting dari acara Cikal Bincang Bincang tadi. Mudah-mudahan bermanfaat ya, Mommies :)


70 Comments - Write a Comment

Post Comment