Ada Apa Dengan IUD?

Thread tentang IUD di Mommies Daily lagi rame banget! Mulai dari yang nanya-nanya pasangnya sakit atau nggak sampai ketakutan untuk kontrolnya lagi *termasuk saya*

Membaca thread ini, mengingatkan saya pada cerita seorang sahabat, Ginatrie S. Noor, yang punya pengalaman cukup ‘fantastis’ mengenai IUD.  Berbeda dengan saya yang setelah masa nifas berakhir, alias 40 hari langsung pasang IUD dan Alhamdulillah nggak ada keluhan berarti hingga saat ini. Gina awalnya memilih kontrasepsi alami yaitu dengan menyusui. Sampai putri kecilnya, Biru Langit Fatiha berusia 14 bulan, akhirnya Gina memutuskan untuk memasang IUD.

“Saya enggak cocok pakai kondom (bikin gatal-gatal) dan pada saat itu takut minum pil KB  karena konon Pil KB jelek untuk perempuan yang punya sejarah tumor payudara seperti saya. Akhirnya saya tiap mau berhubungan seks dengan suami ya pakai Ovutest untuk tahu sedang subur atau enggak. Tapiii… mahal dan ribet ya ibu-ibu tiap mau “main” (ini istilah ibu saya, pake ini aja lah hemat 4 kata :D) pakai Ovutest dan sejenisnya”

“Nah, akhirnya ibu, kakak dan kakak ipar saya tercinta mengusulkan saya pakai spiral a.k.a IUD. Ibu saya sempat memperingatkan kalau dia dulu kurang cocok pakai spiral dan menyebabkan banyak keputihan. Tapi saya pikir, ya sudahlah coba dulu. Karena kakak saya dan kakak ipar saya cocok sekali.”

Berbekal pengalaman keluarga dan hasil googling sana sini yang menyatakan “AH, ENGGAK TERASA SAKIT APA-APA KOK”, Gina ke sebuah rumah sakit untuk memasang IUD. Ia bahkan memilih IUD yang terkecil walaupun agak lebih mahal, tapi buat Gina yang  benci pemeriksaan dalam, lumayanlah!

*gambar diambil dari sini

Setelah IUD dipasang, ternyata Gina mengalami ketidaknyamanan. Dan, seminggu kemudian ia balik lagi untuk mencopot IUD tersebut! Yak, seminggu saja..

“Saya mengalami sakit saat mau duduk dan mau berdiri di daerah bawah pusar. Awalnya masih bisa saya tahan. Tapi lama kelamaan enggak tahan juga. Akhirnya ke dokter dan di USG.”

“Saat di USG, baru ketahuan kalau IUDnya turun. Turun dari tempat awal dipasang dan harus dilepas daripada nanti menyebabkan infeksi. Entah kenapa bisa turun posisinya, padahal kehidupan saya sehari-hari enggak bikin saya harus banyak bergerak. Rahim saya memang “terbalik” sih, lupa istilah medisnya, mungkin itu juga penyebabnya. Entah.”

“Proses pelepasannya IUD-nya? Saya sih enggak bohong atau melebih-lebihkan ya… SAKIT BANGET. Saya nangis-nangis sepanjang proses pelepasan hingga saya sampai dalam mobil menuju rumah. Prosesnya lebih menyakitkan daripada melahirkan. Apalagi pada saat pelepasan saya sudah tidak mens sehingga mulut rahimnya tak terbuka. Ada banyak banget alat yang dipakai si dokter. Dari semacam penahan vagina, semacam tang panjang, dan lain-lain.”

“Pokoknya sesakit itu sampai dokternya enggak tega dan membebaskan saya dari biaya dia. Jadi cuma bayar biaya admin RS dan peralatan saja.”

Agak mengerikan ya? Tapi jangan khawatir karena yang bermasalah dengan IUD ini jauh lebih sedikit jumlahnya daripada yang merasa nyaman. Silahkan dibaca di forum Mommies Daily untuk pengalaman mommies yang lainnya. Oh iya ada berita bahagia….setelah lepas IUD sebulan kemudian Gina dapat berkah yaitu hamil anak kedua! Selamat ya, Ginaaa…:)


50 Comments - Write a Comment

  1. duluuu saya termasuk pemakai IUD. kira2 5bln stlh melahirkan, saya pasang spiral novaT. tp cuma bertahan krg dr 6bulan ajah. . guess what ? saya kebobolan x_x
    waktu dipasang sih sakit bgt ga yah. cuma ngilu2 aj sendiri.. secara di pakein penahan vagina+ ganjelan bokong (biar lebih keangkat), jadi ya lumayan pegel lah. klo lagi berhubungan sm suami jg, alhamdulillah saya ga berasa apa2. cuma si suami yg blg kok kayak ada yg nusuk2 geli yak hehehehehh :D tp krn suami ga komplen kesakitan, jadi ya saya lanjut pke IUD. kira2 bulan ke-5 (klo tidak slh inget), saya telat mens. coba testpack, POSITIF !! panik donks.. coba konsul ke bidan (saya emng pasang di bidan) cek posisi IUD, bagus kok ga miring2. dan disuruh tes lg. hasilnya pun sama, positif x_x
    nah kebesokkannya, saya kluar flek2 tuh. oh saya pikir ini mens kluar jg akhirnya. seharian ga ada masalah tuh. keluar darah biasa aj. nah hari ke-2 stlh cek ke bidan, malamnya darah yg kluar ga abis2. terus2an smpe saya hrs bolak balik gnt pembalut, celdal+cln pendek. darah yg kluar buaanyaaakk bgt + bergumpal2. lsg ke bidan mlm itu jg. ternyata eh ternyata, saya keguguran. perasaan campur aduk antara sedih kehilangan calon baby, seneng krn si kecil (saat itu msh umur 1thn kurang) masih bisa lanjut ASI.
    saat IUD dilepas sih jg ga brasa2 amat sakitnya. cuma perut aja yg brasa lsg jd “kosong” :D skg saya rutin minum pil kb. sampai saat ini masih aman belom kebobolan (walaupun msh suka kelupaan minum :p) klo ditawarin pasang IUD lg, hmm kayaknya ga dulu deh. masih belom sanggup klo kebobolan (lagi dan jadi) *lap keringet*

  2. Duh, ngiluuuuu amat ini baca pengalaman Gina!

    Tapi gue sendiri sih pilih spiral, ya. Bahkan langsung pakai setelah masa nifas berakhir. Memang sih, setelah itu akhirnya jadi menstruasi lagi, tapi setelah tanya ke dokter itu normal. Sekarang kalau datang bulan juga, mens-nya luar biasaaaaa banyak! Alhamdulillah, sih, nggak selalu bikin perut sakit dan melilit, ya.

    Waktu pakai spiral ini juga nggak terlalu sakit, sih. Soalnya sejak awal niat mau pakai spriral, otak udah disetting untuk bilang kalau nggak bakal sakit. Terbukti, sih, pas pakai cuma ngilu sedikit. Malah tau2 dokternya bilang “Sudah selesai, ya, Bu…”
    hihihi…. Mungkin nggak terasa lantaran dokternya ngajak ngobrol terus. Selama pakai spiral, gue juga rutin kontrol setahun sekali, sih. Parno sama cerita yang bilang kalau spiral bisa “hilang”.

    Justru pas lepas spiral kemarin yang lebih ngilu. Mungkin karena memang dilepasnya waktu nggak mens, ya….

Post Comment