Jagoan Kecilku Telah Pergi..

Surga hati itu telah pergi
Saat ku tulis untaian kata ini
Butuh waktu untuk memahami semua
Dalam rasa yang tertumpah
Ku memulai sebuah kisah….

Ya…. itulah puisi yang saya buat untuk mengenang kepergian putra tercinta Muhammad Firdaus yang meninggal 12 Januari 2009 lalu. Saat itu  memang menjadi episode terkelam dalam hidup saya harus kehilangan darah daging yang sudah 9 bulan dalam kandungan….

Putra kedua saya itu meninggal sesaat setelah dilahirkan. Hanya 7 jam saja ia bertahan hidup. Diagnosa dokter menyebutkan bayi saya mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) akibat banyaknya cairan di paru-paru karena banyak menelan cairan ketuban dan mikonium (kotoran bayi). Ya, bayi saya terpaksa harus lahir caesar karna letaknya yang oblig, sama dengan anak pertama saya yang juga ceasar.

Kronologisnya sendiri berawal saat saya merasakan mulas yang luar biasa pada tanggal 11 Januari 2009 pukul 01.00 pagi. Karna sudah terjadi kontraksi, maka saat itu saya langsung bergegas menuju rumah sakit tempat saya memeriksakan kandungan selama ini. Sampai di sana tim medis langsung meng-observasi dengan melakukan CTG (cardiotocography) untuk memeriksa denyut jantung bayi. Saat itu denyut jantung bayi saya masih baik dan stabil tak ada hal-hal yang mengkhawatirkan. Karena saya sudah dijadwalkan melahirkan secara caesar pada 12 januari 2009 pukul 8.00 pagi, maka dokter dan perawat hanya memberikan obat anti mulas agar kontraksi saya berkurang. Menurut mereka, saya dilarang mulas karena akan dioperasi caesar dan disuruh menunggu sampai tanggal gl 12 Januari sesuai jadwal operasi yang sudah mereka buat.

Setelah pemberian obat tersebut, kontraksi pun berkurang. saya dipersilakan untuk kembali ke ruang perawatan. Saya wajib memberitahukan kepada suster jika mengalami kontraksi lagi. Sepanjang minggu siang tanggal 11 Januari itu, kondisi saya aman alias tidak merasakan mulas-mulas lagi. tapi saat maghrib, tiba- tiba kontraksi itu datang lagi. Suami yang mendampingi saya di ruang perawatan segera melapor ke suster bahwa saya mengalami kontraksi lagi.  Saat itu, suster segera melakukan CTG lagi terhadap bayi saya. Saya pun kembali diberikan obat anti mulas. CTG pun terus dilakukan hingga malam karna RS sempat mati lampu  sebanyak dua kali. Saat itu dokter wanita yang menangani saya mulai mencurigai hasil CTG yang kurang baik, yakni denyut jantung bayi saya yang mulai melemah. Namun anehnya, walau begitu gerakan bayi saya sangat aktif menendang kesana kemari.

Karena hasil pantauan CTG yang dilakukan tak kunjung membaik, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan cito. Operasi caesar pun akhirnya dilakukan dini hari pukul 03.00 pagi.

Operasi berjalan lancar, lahirlah bayi laki-laki yang telah lama kami dambakan. Mengapa demikian? karena sebelumnya kami sudah dikarunia anak perempuan bernama Nayla Adhwa yang kini berusia 5,5 tahun. Anak ke-2 ini juga menjadi kado terindah untuk kakeknya yang sudah lama menginginkan cucu laki-laki. Yah, maklum saja, bapakku mempunyai 4 anak perempuan dan 3 cucu perempuan. Jadi tak heran keluarga besar kami sudah amat menanti-nanti hadirnya jagoan kecil ini.

Bayi laki-laki yang lahir dengan berat 3,5 kg dan panjang 52 cm itu sempat  terdengar tangisannya sesaat setelah keluar dari rahim ini. Bahagia….tentu saja..! Puji syukur alhamdulillah tak putus-putusnya saya ucapkan kepada Allah SWT atas rizki ini.

Namun meski mendengar tangisannya, saya belum sempat melihat wajahnya karena tim medis segera membawa bayi saya dengan terburu-buru. Saat itu saya belum mempunyai pikiran jelek sama sekali kenapa dokter tidak memperlihatkan bayi saya ke saya. Hingga pagi harinya, dokter dan suami saya memberitahukan bahwa bayi saya dalam keadaan kritis. Saat itu hati saya masih tenang dan terus berdoa. Saya yakin Tuhan akan menyelamatkan bayi saya. Alhasil sambil menahan sakit paska operasi caesar dan infus yang  masih terpasang, saya pun terus menerus berdoa sepanjang hari itu memohon keselamatan untuk bayi saya.

13 januari 2009, setelah dipindah ke ruang perawatan, saya menyampaikan keinginan kepada suami untuk melihat bayi saya. Suami sempat terlihat sedikit bingung…ia keluar masuk pintu ruang perawatan. Kakak perempuan saya pun ikut-ikutan keluar ruangan tanpa alasan yang jelas. Tak lama, suami meminta saya menuju ruangan dokter. Dengan dorongan kursi roda akhirnya saya, suami dan kakak menghadap dokter. Saat itulah dokter menjelaskan perihal kondisi bayi saya yang tidak bisa diselamatkan.

 


105 Comments - Write a Comment

Post Comment