Cap-Cip-Cup Pilih DSA

Begitu punya anak, banyak hal baru yang mau nggak mau harus dipelajari. Salah satunya adalah masalah kesehatan. Untungnya, saya, dan juga para ibu masa kini lainnya, punya fasilitas internet di kantor maupun di Blackberry. Sehingga saya bisa dengan mudah browsing ke situs-situs kesehatan paling top, juga ke berbagai milis yang memiliki penasihat profesional dari kalangan medis. Selain itu, Alhamdulillah saya memang hobi browsing. Jadi banyak informasi yang saya dapat dan simpan rapi untuk bahan bacaan kelak.

Tapi tentu saja bahan bacaan semacam itu belum cukup. Itu kan cuma teori. Apalagi kadang, kebanyakan informasi malah bikin pusing sendiri. So, anak tentu butuh dokter juga kan? Lagi pula, saya sadar diri bahwa saya nggak punya background pendidikan dan pengalaman medis apapun. Nah, di sinilah peran dokter spesialis anak (DSA) dibutuhkan, sebagai partner orangtua untuk masalah kesehatan anak.

Namun, untuk memilih DSA yang oke pun susah-susah gampang. Karena ya itu tadi. DSA harusnya menjadi partner orangtua. Jadi harus bisa diajak kerjasama serta punya kecocokan dan visi misi yang mirip-mirip lah. Dan lagi-lagi, untunglah, saya terkoneksi ke internet, sehingga bisa langsung googling reputasi si dokter plus obat-obat yang dia resepkan. Apakah oke, aman atau bahkan jangan-jangan sudah ditarik dari peredaran di luar negeri (pernah ada kasus begini soalnya nih).

Lantas kriteria DSA ideal menurut saya bagaimana? Kalau saya sih, yang penting si DSA komunikatif dalam artian mampu menjelaskan secara gamblang dan enak diajak berdiskusi. Selain itu, dia juga nggak hobi kasih obat kecuali perlu, gampang dihubungi dan kalo bisa nggak usah antri. Berikut ini adalah daftar DSA yang pernah saya kunjungi untuk Nadira:

1. dr. S

Pas Nadira lahir di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur, dia langsung ditangani oleh dr. S. Dari hasil googling, saya dapat info dr. S ini adalah seorang dokter anak senior yang punya spesialisasi di bidang alergi pernafasan CMIIW. Agak lega lah dengernya.

Di hari ketiga Nadira muncul di dunia, bilirubinnya naik dan si dokter menyarankan untuk disinar. Terus di hari berikutnya, dia keukeuh nggak memperbolehkan Nadira pulang karena menurutnya, kadar bilirubin Nadira belum normal. Saya tanya ke beberapa teman yang juga dokter, plus googling dan browsing. Semua bilang sebenarnya dengan bilirubin segitu, Nadira sudah nggak perlu disinar lagi. Tapi namanya Nadira anak dan cucu pertama, suami dan mertua minta supaya kami mengikuti perintah dr. S aja.

Kita ke dr. S 1-2 kali lagi untuk imunisasi. Dia meresepkan vitamin karena melihat Nadira nggak montok-montok amat. Padahal waktu itu Nadira masih ASI Eksklusif, yang sependek pengetahuan saya, nggak perlu dikasih vitamin apa-apa.

2. dr. T

DSA ini cantik, lembut, good looking banget lah. Kita ke DSA ini modal cap-cip-cup karena cuma mau imunisasi Nadira. Hubby yang memilih dia dengan pertimbangan, pasiennya nggak antri. Terus, DSA cewek harusnya sih lebih lembut because she’s a mom, right?

Hasilnya, Nadira yang saat itu umur 7 bulanan disuruh minum susu formula tambahan untuk menambah berat badan (sampai ditulis merk sufornya apa supaya nggak salah beli). Terus dikasih resep vitamin segambreng. Yang ada keluar dari situ saya jadi marah-marah sendiri. Bukannya apa-apa. ASI saya masih cukup untuk Nadira. Meski harus jungkir balik merah di sela-sela pekerjaan yang hectic banget, saya masih bisa mencukupi kebutuhan ASI-nya. Jadi saya pikir, dia belum perlu ditambah dengan sufor.

3. dr. H

Dokter ini juga hasil pilih cap-cip-cup di RS yang sama dengan sebelumnya. Hubby memilih dia karena dr. H setiap hari praktik. Jadi, pertimbangan kita, kalo Nadira kenapa-kenapa, kita nggak perlu nunggu sampe jadwal praktik berikutnya. Selain itu, antrian dr. H ini gak panjang-panjang banget. Jadi nggak perlu antri berjam-jam gitu, hehehe.. *pemalas* Terus terang, sempet deg-degan juga sih karena takut dr. H nggak beda jauh sama DSA-DSA sebelumnya.

Kesan pertama, pas masuk ke ruang praktik, dr. H lagi BBM-an. Ternyata dia lagi membalas pertanyaan pasien yang diajukan via BBM. Okay, good point. Terus dia juga nggak suka kasih obat macem-macem dan nggak pernah kasih antibiotik tanpa tes darah terlebih dahulu. Selain itu, dia nggak hanya memberi saran dari kacamata seorang DSA. Dia juga memberi saran dari kacamata seorang ayah, karena usia anaknya nggak beda jauh sama Nadira. This is important, at least for me, because I think, a father knows what’s best for his children.

Oleh karena itu, dia nggak hanya memperhatikan keluhan penyakit atau pertanyaan yang kita lontarkan. Saat kita lagi imunisasi Nadira di usia 14 bulan, dia tiba-tiba tanya “Nadira udah bisa bicara belum? Daritadi saya perhatikan baru uh-ah dan sepotong-sepotong aja ya?” Setelah gue dan hubby cerita, dia pun memberikan saran-saran supaya kita melatih Nadira bicara lebih intensif lagi. It means, he listens, examines and pays attention to his patients, right?

Cukup bikin kagum aja sih karena saya dan hubby sama sekali nggak menanyakan hal itu. Selama ini kami pikir, nggak ada masalah dengan kemampuan verbal Nadira. Alhamdulillah, habis dari situ, perkembangan kemampuan verbal Nadira pun tumbuh dengan pesat sampai sekarang.

Another plus point is, he’s very contactable. Just send him a message via SMS or email, he’ll answer it ASAP. Pas Nadira muntah-muntah weekend kemarin, saya mengirimkan sms ke dr. H Subuh-Subuh tanpa berharap langsung dibalas. In just a few seconds, dia membalas sms saya dengan beberapa saran. Pas saya tetap dateng periksa di sore harinya (dipaksa oleh mertua dan hubby yang merasa nggak afdol kalo nggak periksa ke dokter langsung), dia malah bilang “Lho kan tadi pagi udah saya kasih jawaban lewat sms? Kenapa dateng juga? Sayang lho harus bayar biaya konsultasi.”

4. dr. X

Kita ke DSA ini gara-gara suatu hari Nadira demam, tapi dr. H nggak praktik. Jadilah hubby memaksa untuk tetap ke DSA, cap-cip-cup gitu. Dapet deh DSA ini.

Kesan pertama, dia lebih cocok jadi MC atau entertainer ketimbang DSA. Gayanya flamboyan banget. Terus, sepanjang periksa Nadira, dia bolak-balik mengomeli saya yang dia anggap sok tahu karena sebelumnya cuma pengen home treatment sambil observasi demamnya dulu. Maklum, demam Nadira baru berlangsung pagi hari sebelum sorenya kami bawa ke dokter. Anaknya masih jumpalitan nggak keruan plus masih mau makan banyak. Saya juga sudah tanya-tanya ke teman yang lagi kuliah kedokteran, dia bilang nggak apa-apa. Tapi si dr. X tetep nggak terima argumentasi saya dan menganggap saya sok tahu.

Even worse, dia menyuruh saya untuk langsung menyapih Nadira dengan alasan “Kalo nggak nenen, makannya akan banyak dan anak Ibu jadi lebih gemuk.” Oh ya, dia juga menyebut anak saya, secara implisit, “jelek” dengan bilang “Ini rambutnya dihabisin aja kek Bu, terus dipakein pita. Kan jadi lebih cantik daripada sekarang.”

Okay, enough. He pushed the wrong button here. Makanya sepanjang Nadira diperiksa, saya pun duduk dengan bibir manyun dan muka jutek. Sumpah deh, sebel banget sama dr. X.

Overall, saat ini option DSA untuk Nadira cuma ada dua. Ke dr. H atau kadang-kadang ke Markas Sehat yang dikelola oleh Yayasan Orangtua Peduli. Terus untuk konsultasi via Twitter, saya juga suka mencuri ilmu dari dokter @endahcitraresmi, DSA di sebuah rumah sakit di Kemang, Jakarta Selatan. Sebenarnya saya pengen juga sih ke RS itu, tapi apa daya kejauhan euy. Lagi pula, rada capek juga sih pindah-pindah DSA terus. So, until now, I’m quite satisfied with the pediatricians I’ve chosen for my baby. How about you, Mommies? Ada tips khusus untuk memilih DSA dan apa yang membuat Mommies akhirnya memilih DSA yang kalian pakai sekarang?

*gambar diambil dari sini

*dikirim oleh Ira, ibu dari Nadira, 19 bulan.


50 Comments - Write a Comment

  1. pas anak pertama gw juga sempet ngerasain hunting dsa…awal setelah melahirkan ke dsa Jasmine prof.H di RSB A*** krn dia appointed dsa…tapi buseet gak enak banged…kagak bisa diskusi….trus mendekati gw selesai cuti melahirkan Jasmine demam..panik donk kita :p ke dr. Dj**** di RSP* belakangan nyesel kenapa di bawa ke dia….di hajar AB cuma krn demam gak turun2 :(( trus beralih ke dr.A** P******* di Apotik Hidup **** tapi yaa…beti lah sama dsa di RSP* itu…dikit2 AB dikit2 AB

    Trus gw mulai kenal milis sehat…bahkan gw termasuk salah satu yg beruntung dapet undangan ikut seminar pesat pertama kali…gratis..tiss…tiss :D baru deh mudeng sama ilmu kesehatan anak :) mulai sejak itu gw makin kritis dan berusaha tenang kl ngadepin anak sakit (ini hiperbola..krn masih kok ketar-ketir kl anak sakit)…tapi teteuup masih hunting dsa yg cucok…pernah ketemu dr. w*** di RS*I tapi kok keknya susah banged sih ketemu beliau…

    Pas Jasmine 3 tahun dan dapet info dari milis sehat jg….bertemulah gw dgn dsa gw yg sekarang ini dr. W**** di kawasan pd. Pin*** Alhamdulillah gw cucok sama beliau…disamping itu beliau prakteknya selalu sore jadi pas pulang kantor..hehehe..walau bukan dokter yg ‘menyenangkan’ , super saklek di segala hal…termasuk saat kedatangan :p terlambat dikit aja pasti udah ngomel tuh dia hehehehe…hampir gak pernah ngasih obat yg gak perlu…kl pun ada obat cukup 5rb sajah :D

    Dr.W**** bukannya gak pernah ngasih obat dan vit…dia pernah kasih Jacintha AB krn OME berulang plus vit. ferlin krn tau Jac defisiasi zat besi :( Alhamdulillah anak2 gw cucok sama beliau :)

  2. Hanzky

    Ya ampun ini gue jadi tebak tebakan nama dokter dan rumah sakit..hihihi. Rempong ya milih dokter..glad you’ve found the one dan mudah2an Nadira sehat terus jadi nggak perlu ke dokter yaahh…:).

    Gue pertama tama sih ke Professor Gatot yang di RS Evasari, waktu itu rumah gue di Cempaka Putih dan sebelumnya juga dia praktek di deket rumah, tinggal jalan kaki, jadi kesitu lah gue. Lagipula ini juga dokternya ade gue dari kecil. Trus gue senengnya dia buka praktek juga di rumahnya di daerah Pondok Bambu. Tapi yang di Evasari itu deuuhh enggak banget deh, ngantrinya 2 jam sendiri. Terkadang kita masuk juga bersama pasien lain gitu, asli nggak sempet nanya banyak sama dokternya karena bawaannnya buru2 aja.

    Trus yang kedua itu dokter Yafri Razak. Dia praktek di Bunda sama di rumahnya..dan kebetulan rumahnya..jeng jeng jeng..sebrang rumah gue…hehehe. Jadi gue milih dokter lagi2 karena tinggal jalan kaki aja (pemalasan :P). Dokternya baik kok, apalagi sama tetangga..hehe. Kalo temen gue komplen si dokter ini nggak mau ngasih antibiotik. Lhoo ya malah bagus toh.

    Trus yang ketiga itu Markas Sehat, sempet sekali sama Dr Whindy dan gue puaassssss banget, nggak akan cari2 dokter lagi deh..di Markas Sehat aja…lagi2 juga lokasinya deket rumah (karena gue udah pindah rumah), nggak bisa jalan kaki sih, tapi 10 menit nyetir sampe kok :)

  3. Mba,,dr.H itu praktek dmana..??kayanya enak bgt dokternya.soalnya saya jg msh cari” DSA yg cocok.klo ga ngerepotin minta tolong di e-mail ya mba.hehe.. Soalnya saya br tinggal di jkt,jd blm tau bnyk ttg DSA di sini.trimakasih bnyk sbelumnya..

  4. hani, iya ini semacam tret gosip dulu deh, hihihi…
    mbak nirmala, dr H itu praktek di Hermina Jatinegara. coba deh hubungin RS tersebut untuk tau jadwal prakteknya. eh sutralah sebut aja namanya, dokter Herbowo mbak :)

  5. DesZeLL

    Gue dulu dari Raysa masih bayi pake Dr Hinky di RSPI, dia praktek di RS Gandaria juga. Memang sih dokter ini harusnya handal banget secara dia dokter anak yang mengkhususkan ke penyakit anak di daerah tropis. Terus katanya juga dia ini pasti anak yang alergi cocok banget.

    Tapi … secara dia prakteknya di RSPI ngantrinya panjang banget! Udah gitu gak bisa berkonsultasi lama2 soalnya dia pasiennya banyak. Dia juga mungkin udah gak inget anak gue yang mana kali yah saking anak gue tuh mungkin satu dari ratusan anak yang dia temui tiap minggunya. Terakhir2 pas Raysa umur 2 th dia sempet masuk RS 2x karena lycositnya tinggi. Tapi yg jd kendala dia visit cuman beberapa jam di RSPI dan gak setiap hari. Jadi gue kurang sreg juga kalo harus masuk disitu. Kalo anak gue ada apa2 di RS dianya gak ada.

    Akhirnya setelah pikir panjang gue memilih untuk cari dokter di Rumah Sakit Puri Indah. Dia ini masih satu grup dengan RSPI tapi systemnya udah online. Luckily, I found the DSA that I like there. Namanya Dr Jeanne, dokternya tuh sangat perhatian banget dan dia selalu inget dengan anak gue, jadi gue ngerasa dia gak sembarang ngasi solusi yang sama ke bermacam2 anak. Terus dia kalau bawain kita obat pulang nggak langsung sekalian dan dikasi catetan juga apa yang harus kita lakukan dirumah. I love this doctor!

  6. Mamaina: Judulnya, emak boleh tersiksa krn digalakkin sm dokter, yg penting anak sehat walafiat yaa :-D

    Ita: Ada deh, saya aja lupa namanya. Kmrn pas ngubek2 buku kesehatannya Nadira, ketemu tuh name card si dr. X. Ih bete bgt liatnya doang :-(

    Cicik & Leonita: Yeess, it is that dr. H I wrote about. Kayaknya gara2 gue suka promosiin dia di twitter, banyak yang ikutan periksa ke dia deh. Alhasil kmrn pas gue ke sana, pasiennya jadi banyakan. Yah gpp lah, berbagi info bagus kan dapet pahala :-P

    Hani: Hihihi.. Iya, ini kyk thread gosip jadul yg penuh dgn singkatan dan inisial yaa :-D Btw, you’re so lucky, Han. Enak bener punya DSA oke2 yang praktiknya cuma sepelemparan kolor begitu :-D

    Nirmala: Bener kata Lita, ini dr. Herbowo di RS Hermina Jatinegara. Dia praktik Senin-Sabtu, mulai jam 6pm s/d 9pm.

    Vidy: Good luck ya Mom! Cari DSA ini kayak nyari suami + pembantu, cocok2an banget! :-D

    Amal: Hadeeuuh.. Gue plg males tuh kalo ke DSA yg antrinya sampe berjam-jam. Yang ada, cuma mau imunisasi, pulang2 bocah ketularan berbagai macem penyakit dah :-(

  7. Ok, ini gw untuk di Bandung yah. Pas anak pertama lahir, DSAnya dr.AU. Sempet setelah pulang dari RS itu beberapa kali mengunjungi beliau lagi untuk imunisasi. Tapi lama-lama kok rasanya boros yah ? Secara beliau praktek di RS yang bukan ditanggung ama askes suami. Pindahlah ke RS yang masuk askes suami. Sebelum dateng udah minta dulu nama2 DSA yang praktek disitu siapa aja. Terus dikasih liat ke bokap nyokap (kebeneran bonyok latar belakang di bidang kesehatan juga, jadi tau lah, mana dokter yang demennya kasih AB, yang hati2 kasih AB, yang kalau periksa teliti, dsb).
    Akhirnya pilihan jatuh ke dr.KMSC. Ini dokter pasiennya gak kurang banyak deh, untungnya kalau imunisasi/periksa di RS kita bisa daftar duluan via telfon. Kalau konsultasi di RS modalnya cuman fotokopian askes suami dan bebaslah semua biaya. Suatu hari dia tau kalau bokap gw dokter juga, dan sejak saat itu kalau periksa ke praktek pribadi jadi gratis juga (padahal gw gak enak, kan kadang di-nebu pake material beliau yah). Kebeneran anak pertama gw cocok bener ama beliau. Dokter ini pun, walau pasiennya bejibun bener, gw liat periksanya gak jadi sembarangan, dan dia juga lumayan inget sama pasien2nya (kadang kan nama panggilan anak beda yah sama nama lengkap di buku pasien, beliau bisa tuh panggil pake nama panggilan). Gw salut banget sama beliau, dengan jadwal yang sibuk, pasien yang banyak, beliau masih care sama pasien (pernah ada orang nulis surat terima kasih di PR karena dokter ini begitu care sama anaknya).
    Tapi ternyata anak kedua gw kurang cocok sama beliau. Akhirnya untuk anak kedua, gw sering bawa ke Prof. ABD, alhamdulillah lumayan cocok. Dokter ini terkenal hati2 banget sama AB, yah secara beliau pernah (atau masih?) jadi kepala bagian anak. Dulu anak pertama pernah gw bawa juga ke beliau, cuman gak nahan, prakteknya jauh bener dari rumah. Sekarang kebetulan beliau kalau pagi praktek di RS yang lumayan deket sama rumah, jadi kalau mau konsultasi, selalu ngejer pagi2. Tapi kalau imunisasi sih tetep sama dokternya sama dokter anak gw yang pertama secara masuk askes suami gitu lowh…

  8. dr H siapa sih dr anak gw jg dr H, tp sepertinya beda rumah sakit. pengalaman buruk gw sama dsa itu sama dr JP di bogor (waktu msh tinggal disana), pas lg suntik bcg masa sampe di ulang dgn alasan yg pertama ga tembus jarum suntiknya, kan suntik bcg berbekas, jd lah anak gw punya 2 tanda suntik bcg. gw ngerasa nih dokter ga canggih. habis dr situ gw cari dokter di rs yg sama, lupa nama nya tp oke. pas balik pindah jakarta, gw kerumah sakit di daerah kelapa gading krn deket rumah, dgn cap cip cup jg pilih dr H, dgn alasan antrian nya ga panjang. Cocok sampe sekarang, dokternya cuma praktek di rmh sakit tsb aja krn sisa nya dia dosen. Penjelasannya ringkas jelas, jarang kasih antibiotik jg, cukup friendly sama anak2, kalo mau nyuntik pake acara ukur2 dan dia pasti cari2 posisi yg tepat dulu :) sejauh ini blm ada niatan pindah dokter.

  9. Muti: TFS jeng. Buat yg tinggal di Bandung, silakan hubungi DSA yg disebut Muti yaa..

    Vanya: Aah.. Makasih Tante Vanya :-)

    Nirmala: You’re welcome :-)

    Rissa: Alhamdulillah, udh berhasil nemu dr. H yang seoke dr. H-nya Nadira :-)

  10. Hahaha gue jg sempet puyeng gitu baca Dokter H yg praktek di rumah sakit H :D Thank you Lita udah diperjelas, jadi gue gak perlu nge-google segala hahaha

    Btw gue jg ikut sebel raaa denger Dr X dengan komen2nya yg kurang ajar itu. Asli kl gue jadi elo sih bakalan gue marahin tu dokter, kan gak bakal ketemu lg ini huhuhu

    Kl gue belum ada sih satu dokter andalan gitu, tapi kl ada apa2 gue selalu kalo gak ke Markas Sehat ya ke Kemang Medical Care. Udah terbukti dokter siapapun di sana, gue selalu cocok karena kita selalu dikasih penjelasan yang lengkap, dikasih kesempatan untuk bertanya sebanyak2nya dan selalu ngasih “bekal” ilmu untuk berbagai penyakit umum anak supaya nggak gampang panik. Dan kayaknya tiap keluar dari Markas Sehat atau KMC gue hampir gak pernah nenteng resep, sampe ibu mertua gue menyangsikan. Mungkin dia pikir, ini dokter serius gak sih kok gak pernah ngasih obat hihihi

  11. gw pernah punya pengalaman sebelum cocok sama dokter Zia yg ini… dulu pas awal lahir gw sempat konsul dg dokter R yg pro ASI namun sayangnya jadwalnya di RSB Y cuma sehari dan kadang beliau ada acara luar kota, so pas dikasih penggantinya waktu beliau gak ada, krn pertimbangan hanya imunisasi maka cap cip cup ke dokter pengganti Dr M… waktu itu mmg gw masih ASIX dan gw sempet sakit seminggu sebelumnya jd ASI turun, nah krn Zia naiknya “hanya” 900gr gw langsung disuruh sufor… gw yg bingung krn minggu depan sdh harus masuk kantor, masih anak pertama, pas ASIP keliatan sedikit bikin stress… sejak itu gw bersumpah (jreng jreng) kalo milih dokter gw gak bakal cap cip cup dech dan harus pro ASI dan biarpun kejam tp bisa mendorong gw utk tidak langsung give up. gara2x kemakan omongannya dia gw jadi gak bisa ngasih full ASI :(

  12. ini nih sumber kepuyengan semua emak2…
    Gw sharing untuk daerah Jaksel paling ya krn rayon sini.
    Perjalanan 2 anak gw juga sama pindah2 dokter di seputar 3 RS: RSPI, RS Puri Cinere & RS Brawijaya. Plus krn sahabat gw juga lagi ngambil spesialisasi anak di FKUI jadilah gw selalu cross-reference sama dia.
    RS Puri: anak gw 22nya lahir di sini & sepelemparan kolor dari rumah jadilah ini RS top of mind. Yang pernah gw recommend:
    1. dr. Aman Pulungan – ahli endrokrinologi anak. Super telaten, super sabar, RUM – ga gampangan sama AB tapi ngantrinya lumayan super. Bisa sampe malem pasiennya. Dia juga praktek di RSPI & Klinik Anakku
    2. dr. Fajar Subroto – DSA biasa. sabar, telaten, RUM dan praktek sore (penting scr gw kerja)
    3. dr. Kiki (lupa nama panjangnya) – spesialis penyakit menular tropis. Found him by accident ketika anak gw yang lagi campak tiba2 mimisan (emaknya penakut sama darah jadi langsung ngibrit ke RS) dan cucok banget sama spesialisasi beliaw penyakit anak gw ini. telaten, RUM dan menurut temen gw yg lagi ambil spesialis, dia cerdas pandai. Oh, dan dia duluan yang nawarin ngasih nomor handphonenya sebelum gw tanya *penting

    RSPI – ga terlalu berkesan buat gw. Biasa ke sana paling ke Dokter Aman juga atau doket mana aja yg nggak ngantri. Nobody stood out from the crowd.

    RS Brawijaya:
    dr. Fita Moeslichan – DSA biasa. Masih muda. Sangat titi teliti kalo periksa, nggak pernah buru2. RUM. Gayanya pertama emang jutek, mungkin lagi PMS tapi masih tolerable dan belum layak kena timpuk. My son loves her karena…. dia cantik & berambut panjang terurai *_*

    Yang ga recommended:
    dr. CC di Puri Cinere – selain karena dandanannya hebron (ga objektif bgt, maap), kalo ngasih obat seabrek2. dengan ringannya ngasih AB & kalo meriksa kayaknya buru2 banget
    Other than dokter CC ini sejauh ini gw merasa DSA di Puri Cinere cocok2 aja. Mostly have RUM dan komunikatif.

  13. Affi, gw juga sering kok di beri tatapan tak menyenangkan oleh ortu gw (gw masih tinggal bareng mereka) krn ke dokter tapi gak di kasih obat…kata mereka “udah capek2 ke dokter, gak dapet apa2? :p

    Lama2 gw terbiasa, dan jawabanya adalah…”dapet kok, Tempra” :D

  14. Hehehe, sayang yang dibahas cmn DSA di jakarta aja..
    Kalo boleh mau review DSA di bogor dan terbatas di RSIA Hermina aja.. soalnya deket dari rumah sih..

    Kalo Tifa DSA-nya Nouvellia DSA.. rekomendasi dari dr kandungan-ku.. pertama dia bilang kalo dr Nouvellia ini ibaratnya ga membunuh nyamuk dengan bom atom :D setelah dicoba, mencoba beberapa dr lainnya.. pilihan memang ke dr Nouvellia ini.. dan kemaren waktu tifa kontrol dan minta stock obat pilek dan batuk, dia ingetin untuk tidak kontinu minum ini obat cuman saat yang benar2 sudah diperlukan.. dan biasanya memang kl tifa pilek dibiarin 3 hari atau bahkan lebih baru diminumin obat itu pun kalo malam aja biar bobonya ga keganggu :D

    maaf kepanjangan ya :D

Post Comment