My Babysitter Got Hepatitis B!

Babysitter saya, sebutlah si S, Alhamdulilah anaknya baik banget. So far saya tidak pernah marah atau jengkel atau kecewa. Kalaupun dia melakukan kesalahan, tidak sampai parah. Anaknya rajin dan kerja nggak perhitungan, nggak pernah ngeluh dan nggak pernah sakit. Dia sayang banget sama Ava dan juga care sama kondisi rumah saya

Kalau pas PRT saya pulang weekend, dia nggak segan-segan nyuci atau masak juga. Padahal udah dibilang nggak usah.

Jadwal Ava sama babysitter ini cuma di pagi hari, jemuran dan siang-siang kalau saya makan atau sore main di halaman. Sisanya masih sama saya; mandi-makan, saya yang masak dan nyuapin. Babysitter saya lebih banyak waktu luang karena toh si Ava nggak rewel dan juga saya nggak mau semuanya diserahkan ke babysitter.

Pas ada waktu luang, saya suruh dia tes kesehatan ke Lab P* yang dekat rumah.

Saya minta dia untuk tes:

  1. Hepatitis B
  2. Hepatitis C
  3. TBC (darah dan x-ray)
  4. HIV
  5. Kehamilan

Hasil di faks malamnya. Pihak lab menelpon saya dan menjelaskab bahwa babysitter saya ini POSITIF HEPATITIS B. Kemudian orang Lab tersebut sempat bertanya “Bayinya nggak tidur sama susternya kan bu?”.

Jantung saya seperti berhenti saat itu juga (Thank god Ava nggak tidur sama babysitter). Saya panik, mau nangis, bingung, marah dan kecewa. Alhamdulilah Ava sudah lengkap imunisasi Hepatitis B, tapi ini tetap penyakit menular walaupun pada saat itu saya belum tahu bagaimana cara penularannya.

Saya saat itu bingung, bahkan malam setelah kami terima hasilnya saya sempat menangis.

Sebenernya gampang ya, saya tinggal telpon yayasan, bilang babysitter saya sakit Hepatitis B dan minta ganti baru. Toh baru 1 bulan kok.

Tapi apa yang saya pikirkan?

Saya nangis karena mikir “Ya Allah, anak ini jadi babysitter kan karena gajinya lebih besar sedikit dari PRT. Buat bantu ibu dan adiknya di kampung. Kok dikasih sakit yang bikin dia pasti nggak bisa lagi jadi babysitter…”

Selain itu ada juga pikiran bagaimana kalau dia jadi tidak bisa kerja di mana-mana, tidak punya uang untuk berobat, dan lain sebagainya. Intinya saya menangis karena merasa kasihan kepadanya.

Setelah itu saya telpon dokter anak, untuk sementara Ava Insya Allah aman, karena sudah terproteksi. Nantinya sih, saya baru deg-degan karena ada tes yang harus dijalanin Ava karena sudah deket-deket sama orang yang terinfeksi Hep.B.

Si S disuruh tes SGPT-SGOT (fungsi hati). Jika nilainya di atas normal, artinya selain dia positif Hep.B, dia juga sedang masa infeksi dan sangat menular. Ternyata hasil SGPT-SGOT’nya diatas normal (normalnya 25, dia yang satu 37 yg satu lagi 30). Dokter memberinya obat dengan nama C, yang ternyata hanya semacam vitamin untuk menjaga kestabilan fungsi hati.

Saya juga sempat berpikir, kapan ya dia tertular? Apakah dari rumah saya? Kalau iya tentu saya wajib tanggung jawab untuk mengobati dia sampai sembuh.

Akhirnya satu rumah, kecuali bapak saya, suami, adik saya dan Ava, dites darah semua. Totalnya ada 8 orang. Hasilnya? Semua negatif hepatitis B, jadi S tidak ketularan dari rumah saya.

Kemudian apakah S saya berhentikan?

Oh tidak, karena ternyata masih ada harapan bahwa dia bisa sembuh.

Selama 2 minggu, S minum obat dan saya menyarankan dia untuk tidak terlalu capek dan tidak dekat-dekat dengan Ava dulu. Dia juga rajin minum jamu-jamuan yang ia rebus sendiri.

Setelah dua minggu, ia dites lagi dan ternyata hasil SGPT dan SGOT-nya sudah bagus, bahkan dibawah angka normal, jadi dia sehat! Tapi dia harus tes HBsag, yang merupakan nilai yang menunjukkan apakah virus masih ada di tubuhnya atau tidak.

Ternyata hasil tesnya masih positif. Saya mencoba mencari tahu ke seorang dokter internist, untuk tahu lebih banyak, apa dampak dari penyakit ini, bagaimana penularannya dan bagaimana penangannya.

Pada saat saya konsultasi, dokter sempat berkomentar bahwa ia salut dengan keputusan saya meminta babysitter saya menjalani tes kesehatan dan ia bilang seharusnya semua orang yang menggunakan jasa babysitter menjalankan hal yang sama. Biar anak sehat dan semua tenang, katanya.

Kemudian dokter juga menjelaskan bahwa Hepatitis B itu bisa menular lewat darah, seperti gunting kuku, sikat gigi, hubungan seks dan jarum suntik. Ia menjelaskan bahwa S saat ini sedang dalam kondisi terinfeksi dan sebaiknya tidak mengasuh bayi dulu.

Yang bikin saya deg-degan, dokter juga bilang bahwa walaupun Ava sudah imunisasi Hepatitis B, bukan berarti ia kebal. Ia bilang satu-satunya imunisasi yang bisa dicek di tubuh manusia, apakah sudah ada kekebalannya atau tidak adalah imunisasi Hepatitis B. Jadi saya disuruh cek ke lab untuk tes anti Hbs. Jika positif artinya Ava sudah terlindungi.

Dokter juga menyarankan S untuk dites sekali lagi untuk mengetahui Anti Hbe-nya, untuk melihat apakah virus hanya sedang “indekost” di badannya atau sedang “merusak”. Kalau hanya indekost, harus dijaga nilai fungsi hatinya. Kalau naik dua kali lipat dari normal, baru dikasih obat.

Jadi ternyata si S belum parah. Saya ingin dia dites anti Hbe tapi dia sudah keburu ‘drop’ dan nangis-nangis terus minta pulang :(

Akhirnya ia saya pulangkan ke kampungnya. Saya juga urus uang jaminan dia ke yayasan dan saya ingatkan untuk tidak lagi merawat bayi atau anak-anak. Kasihan kalau sampai ada anak yang tertular jika dia nekat.

Saya bawakan dia obat-obatan yang dia butuhkan dan juga uang untuk dia tes nilai fungsi hati di kampungnya. Saya meminta dia untuk menghubungi saya jika dia belum ada pekerjaan dan butuh uang.

Saya menuliskan postingan ini untuk semua ibu-ibu yang concern. Mudah-mudahan kita tidak lupa bahwa siapapun yang kita percayakan untuk merawat anak kita, kita perlu menjadikannya sesehat mungkin. Jangan karena kita sibuk cari uang atau sekolah, malah si anak tertular penyakit aneh-aneh dari perawatnya.

Jangan cuma tes TBV, semua tes yang saya tulis di atas sebaiknya dilakukan sebelum semuanya terlambat.

Saya yakin dari semua ini pasti ada hikmahnya buat keluarga kami. Mungkin saya diingatkan untuk cepat-cepat menyelesaikan tesis dan jadi full time mom untuk Ava.

Doakan saya dapat babysitter pengganti yang seperti S tetapi sehat jasmani dan rohani yaa.

Dikirimkan oleh Arienda, mama dari Ava (1 tahun). Kita doakan supaya Ava selalu sehat dan semoga S juga bisa sembuh..


29 Comments - Write a Comment

Post Comment