Cukup Satu Saja

Sebagian besar dari kita pasti sudah tahu kan mau punya anak berapa? Rata-rata teman yang saya tanya mengaku ingin punya anak dua. Ada juga yang tiga bahkan empat! Tapi di antara teman-teman saya ada juga yang pilihannya sedikit berbeda dari kebanyakan orang, karena mereka hanya mau mempunya satu anak saja.

Untuk tau lebih banyak mengenai alasan dibalik keputusan tersebut dan bagaimana mereka menyikapi pandangan orang lain dan tentunya pertanyaan dari si anak tunggal sendiri, saya sudah ngobrol-ngobrol dengan 2 orang teman saya dan 1 kakak saya sendiri :D : Novi (mama dari Sidra, 7 tahun), Linda (mama dari Nanda, 14 tahun ) dan Leila (mama dari Yoko, 4 tahun). Ini hasilnya!

Ada alasan khusus mengapa memilih hanya punya satu anak?

Novi: Hidup tidak akan bertambah gampang, dan dunia tidak akan bertambah baik. Dengan hanya punya satu anak, saya berharap akan lebih bisa memusatkan semua usaha dan perhatian pada perkembangan dan pendidikannya.

Linda: Nggak ada alasan khusus, sih. Jaman masih muda dulu niatnya pingin punya 4 anak (gaya bener!) Setelah beneran punya satu dan ngurusin anaknya, jadi ga kepikiran mau punya anak lagi. Tapi bukan karena takut proses melahirkan atau kecapean ngurusin, lho. Ngga ada trauma apa-apa, sumpah. Emang nggak ada niat aja.

Leila: Sebenarnya alasannya ada beberapa. 1. Klise: ekonomi, kalau cuma hamil, melahirkan saja mungkin tidak seberapa, tetapi sekolah sekarang sudah sangat tinggi biayanya. Memang best case scenario-nya anak kita pintar, tidak perlu biaya banyak, tetapi kita sebagai orang tua harus siap dan merencanakan dengan baik biaya sekolah anak hingga sampai di batas yang mereka inginkan. 2. Saya darahnya rhesus positif, sedangkan suami rhesus negatif. Saya baca kalau pasangan dengan rhesus yang berbeda risikonya makin tinggi pada anak kedua dan berikutnya keguguran. Karena jika janin mengikuti golongan darah suami, rhesus negatif, begitu dialiri dengan darah saya akan terjadi keracunan sehingga akan meninggal di dalam kandungan, tetapi ini sebenarnya bukan faktor utama. Saya dan suami cukup yakin kalau Tuhan menghendaki, apapun bisa terjadi. 3. Kami berpikir jika kami diberikan rezeki lebih, mengapa tidak membaginya dengan yang kurang beruntung, seperti mengangkat anak asuh dari keluarga kurang mampu atau malah mengangkat anak secara resmi.

Apakah ini keputusan bersama dengan suami?

Novi: Walaupun suami saya bukan ayah kandung Sidra, tetapi keputusan ini merupakan keputusan kami bersama. Suami saya sangat memperhatikan pendidikan Sidra, dan ia setuju bahwa dengan hanya punya satu anak, kami akan lebih bisa memusatkan perhatian pada pendidikan Sidra.

Linda: Iya. Sebenernya nggak bener-bener diputusin: OK, nggak punya anak lagi yaaa. Seiring berjalan waktu, dua-duanya nggak pernah membahas soal pertambahan anak. Sampai suatu saat gue pernah beneran nanya, mau anak lagi? Dengan muka lempeng dia bilang: Udah, ah. Ya sama dooong. Bereslah jika demikian.

Leila: Ya. Sebenarnya akhir-akhir ini saya cukup ingin menambah anak. Suami sebenarnya mendukung saja, tetapi mengingat usia yang sudah cukup ‘banyak’ (37 tahun ini) kok agak sangsi apa saya bisa menjalani tuntutan fisik sebagai ibu hamil lagi seperti 5 tahun yang lalu.

Bagaimana tanggapan keluarga besar? (Orang tua, om, tante, kakak, adik? :D)

Novi: Hal biasa jika orangtua berharap bahwa Sidra akan mendapatkan adik, dan Ibu saya juga beberapa kali menanyakan hal itu. Yang bisa saya lakukan adalah berusaha menerangkan alasan saya dan suami hingga memutuskan hal tersebut. Kebetulan Ibu juga tidak memaksa, dan pada akhirnya menyerahkan semua keputusan kepada kami.

Linda: Jaman anak gue masih kecil, pasti sering lah dapet pertanyaan sejenis, “Kapan nambah?” atau “Nggak mau nambah?”. Terutama dari orang tua kedua pihak. Gue hanya menjawab dengan jujur, “Nggak”. Lama-lama nggak ada lagi kok yang nanyain.

Leila: Orang tua tentu sering mempertanyakan awalnya. Oom dan tante (yang jarang bertemu) juga pasti nyeletuk “Udah cukup besar ni anaknya, kapan mau dikasih adik?” Tapi saya jelaskan saja kalau kemungkinan besar kami hanya ingin punya anak satu. Semakin ke mari sepertinya mereka juga akhirnya terima-terima saja. Saya kira keputusan kami juga di masa sekarang ini cukup realistis melihat kondisi.

Anak kamu sering minta adik nggak waktu kecil?

Novi: Sewaktu berumur kira-kira 5 tahun, Sidra pernah meminta adik bayi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Alasan Sidra waktu itu adalah ingin punya teman bermain, mungkin ia melihat teman-temannya bermain dengan adik. Tetapi sejak ia mengerti bahwa adik bayi akan tumbuh besar dan menjadi anak lain yang butuh tempat dan perhatian sama besar dengannya, Sidra tidak ingin lagi punya adik. Sekarang Sidra hanya ingin punya anjing untuk teman bermain.

Linda: Nggak pernah. Setiap ditanya begitu oleh siapapun anak gue selalu jawab nggak mau. Pernah juga dia jawab, “Maunya punya kakak”. Kayanya ini jawaban standar anak pertama umur 4-5 tahun kalo ditanya begitu. Soalnya gue pernah denger beberapa orang cerita begini soal anaknya. Dalam hal anak gue, mungkin salah satu sebabnya karena dia nggak pernah dikenalin ama konsep bahwasanya suatu saat kamu akan punya adik.

Leila: Ya, kurang lebih satu tahun yang lalu.

Kapan dan gimana cara ngejelasin ke dia kalau dia nggak akan punya adik?

Novi: Saya mulai menjelaskan hal ini kepada Sidra waktu ia mulai minta adik. Penjelasannya tidak jauh berbeda dengan poin pertama di atas, tentunya dengan bahasa yang lebih sederhana, misalnya: ‘Mama dan Papa ngga pengen anak lain, pengennya perhatiin Sidra aja.’

Linda: Gue amat sangat beruntung karna ngga harus memberi penjelasan apa-apa. Untuk urusan ini, ibu, bapak dan anak bisa kompak.

Leila: Ketika dia minta, “Bu, Yoko pengen adik” saya jelaskan saja ke dia, kalau sebenarnya kami pengennya punya anak satu saja. Saya juga jelaskan proses hamil dan melahirkan. Bahkan dia sudah menangkap sendiri proses tersebut ketika melihat salah satu adik ipar saya melahirkan dan sempat berpikir kalau semua proses kelahiran itu melalui operasi dan menginap di rumah sakit lama. Tadinya dia sulit menerima, tetapi sekarang jika saya tanya: “Yoko masih pengen punya adik?” dia jawab: “Enggak ah bu, Yoko ngga mau ibu dioperasi dan nginep lama di rumah sakit” kalau saya bilang tidak semua orang melahirkan harus dioperasi dan menginap lama di rumah sakit dia sekarang sudah bisa bilang: “Kalau Yoko mau punya adik, kita ambil adik bayi yang  dari pengemis aja bu, lagian Yoko juga udah punya kakak Jojo dan dedek Aluf (sepupu-sepupunya).

Pernah ngerasa ‘sepi’ krn cuma ada 1 anak? Bagaimana nanti kalau dia sudah besar?

Novi: Sekarang Sidra baru berumur 7 tahun, jadi saya belum tahu bagaimana nanti jika dia sudah besar. Tapi menurut saya, berapapun jumlah anak yang kita miliki, pada akhirnya mereka akan punya kesibukan sendiri dan berkeluarga sendiri. Tugas saya adalah untuk mempersiapkan dia untuk hidupnya sendiri nanti, dan bukan tugas anak untuk menemani saya agar tidak kesepian.

Tetapi untuk menjawab pertanyaan di atas, sampai saat ini saya belum merasa kesepian. Kegiatan Sidra di luar rumah memang makin banyak, tetapi demikian juga waktu yang butuhkan untuk kegiatan saya sendiri. Saya rasa kami berubah dan berkembang bersama-sama, dan hal itu merupakan bagian menyenangkan dari kehidupan berkeluarga.

Linda: Nggak. Anak gue udah besar, nyaris 14 tahun. Gue selalu kalah sibuk ama dia. Jika diumpakan artis, ini anak selalu fully-booked. Kalo bukan sekolah, dia main ama temen-temennya entah di rumah atau di luar rumah. Andaipun ga ada temen-temennya di rumah, dia asik main sendiri. Sekarang lagi tergila-gila main game online.

Sejauh ini gw belom pernah kesepian, Alhamdulillah.

Leila: Au contraire. Saya sangat menikmati jadi orang tua dari Yoko, anak perempuan saya. Sekarang memang saya merasa sepi kalau dia menginap di rumah ibu atau mertua saya. Tetapi saya membayangkan juga betapa nikmatnya ketika dia sudah cukup besar untuk bertukar pikiran dengan kami, seperti teman, bukan orang tua dan anak. Dan betapa nikmatnya melihat dia dewasa dan bisa membuat keputusan-keputusan sendiri tanpa harus bergantung kepada kami, kami hanya sebagai ‘pemberi saran’. When that happens, we’ll get back to play our other roles. Karena banyak peran saya dan suami yang kami jalani saat ini. Mungkin menjadi orang tua sekarang merupakan bagian terbesar, tetapi yang lain juga telah menunggu untuk mengambil porsi besar dari hidup kami. Sekarang keluarga kecil kami rasanya sudah cukup ramai. Mungkin kadang-kadang saya kasian melihat Yoko yang kurang interaksi dengan teman sebaya. Tetapi saya kira pada saat dia masuk sekolah setiap hari, hal ini bisa diatasi.


55 Comments - Write a Comment

  1. aku pengennya juga satu aja. satu aja mikir banget gini nyekolahinnya… ampun-ampun kan biaya sekolah hari gini.
    Tapi suami pengennya 2. Ngebayangin harus hamil lagi ama ngurusin bayi-nya itu lho yang nggak sanggup… Mending ada yang nemenin, sendirian booo….
    ohya, saya juga bukan orang yang percaya mitos (ini mitos apa istilah) banyak anak banyak rejeki. It’s 2010… hmmmh…

    Tapi dilemanya adalah, kalopas liat anak bayi rasanya pengen punya anak lagi… tapi.. balik lagi ke tulisan diatas.. hohoho…. bingung dehhh.

  2. Jeung Leila, gue seriiiing banget melihat dirimu dalam perjalanan ke kantor dengan bus TJ. always loveeeee your style… :p ooops, ini OOT yaaa…

    Sekarang Zara udah 1 tahun 7 bulan, belom kepikiran di gue untuk nambah anak. Awalnya karena trauma persalinan. Hamilnya siy seneng, pas persalinannya kok langsung ngilu dan ciut yaa.. hihihihihi.. Bener, dulu sebelum ngerasain hamil, pengennya punya banyak anak.. sekarang? nggak dulu, deh..

    Ortu gue selalu bilang tiap anak bawa rejeki, emang sih.. tapi gue kurang setuju dengan hal itu, karena ketika hamil tetep harus ada pertimbangan ina inu yang ga mudah, karena gue dan rony kepengen anak kami semuanya serba terpenuhi, seperti ortu lain pada umumnya.

    nggak bohong sih, faktor ekonomi adalah hal paling mengkhawatirkan kalo lagi mikir punya anak lagi. yang kedua adalah waktu, waktu kami untuk Zara aja terbatas, gimana kalo 2. dan jujur saya belum berani lepas karir kalo punya banyak anak, walaupun ibu lain bisa :) hey, 2 itu banyak! =))

  3. Hmmm…masalah ini masih menjadi diskusi seru antara aku sama suami. Suami pinginnya sih cuma satu, dengan alasan yang tidak jauh beda dengan beberapa orang tua di atas. Cuma, karena aku sendiri anak tunggal dan merasakan agak repotnya menjadi anak tunggal, aku ngga mau anakku nanti ngalamin hal yang sama. Hehehehe…

  4. Wuah artikel yg pas :)
    Saya juga maunya anak 1 aja, so far suami juga setuju. Tapi belum pasti banget sih, masih sering discuss soal mau tambah anak apa enggak.
    Jaman sekarang selain masalah biaya sekolah yg gede banget, punya anak juga bukan cuman asal ngurus tapi juga musti dididik, perhatian yg cukup.
    Tapi sama kayak Depe, klo liat bayi, bawaan gemes pengen punya anak lagi.. Hehehe..
    Mana gue dikejer-kejer umur lagi kalo mau nambah anak lagi, jd malesss.. (Ditanyain keluarga sih jangan ditanya.. Secara anak gue cucu satu2nya dr 2 pihak)
    Thanks for sharing, menambah bahan diskusi ama suami :)

  5. Gue dulu sempet jadi anak tunggal selama 9 tahun…dan emang terbukti sih kalo anak 1 orang tuanya lebih punya waktu untuk ngedidik si anak..gue waktu SD ranking 1 terus 5 taun berturut turut..tapi begitu ada adek..perhatian orang tua udah nggak sepenuh sebelumnya lagi..dan gue langsung ranking 13..LOL. Untuk anak kedua ketiga juga ekpektasi akademisnya lebih diturunin standardnya..ya karena orang tua udah lebih cuek…

    Jadi intinya..memang punya anak banyak sangatlah berat..gue aja yang dua udah ngerasa kalo gue masih nggak punya waktu cukup buat mereka, padahal kerjaan gue cukup fleksibel.

    Salut buat Novi, Linda and Leila yang udah mantep dengan pilihannya… semoga keluarga kecil kalian selalu happy happy selalu yaa…:)

  6. Awww senangnya bisa partisipasi di mommies daily. Novi & Linda: foto keluarganya juga lucuk!

    Linda: sama anaknya kayak kakak adik :D

    Uthe: wah sesama pengendara TJ ya? lain kali dadah dong kalo liat :D

    Hanzky: thank you for the prayers :-*

  7. Ini keinginan gw banget! Knapa? Hampir sama sm bbrp disini, pengen menuhin kebutuhan hidup langit scara cukup. Apalg biaya sekolah mahal bok! Selain itu kayanya belum ngebayangin kalo yg modelnya kaya Langit ada 2, masaolo *tepok jidat*
    Tapi sayangnya, ini msi perdebatan antara gw dan suami. Suami yg dr kelg besar (5 bersaudara) pengen punya anak MINIMAL (!!!) 2. Tp dia tau, gw ga mau. Sampe suatu hari dia pernah mengungkapkan keinginannya tinggal di pedalaman di masa tua nanti, gw jawab “bawa gw kemane aje deh, terserah asal jangan minta anak lagi, hehehe”
    Tapi salut utk semuanya, baik yang udah ‘deal’ dgn pasangan utk pny anak 1 aja atw pun yg memilih utk pny anak banyak *lirik kirana terus kabur*

  8. ada sidra…. hehehe… ooo pantesan novi blm hamil2 ya fi… ;p….. g pun demikian pengennya satu anak aja….merasa berdosa sekali karena satu aja ga punya waktu buat dia banyak apalagi dua?? tapi suami masih pengen anak laki2 biar jadi pemain bola katanya…hehehe…

    salu for 3 of ‘em….. :)

  9. Growing up in a big family with 5 siblings and dozens of cousins, I treasure the idea of “siblings are your best friend in the world”. But in terms of time and financial, I’ll go with one child.
    However, In terms of Social Interaction with Family and Siblings, err… I’ll think about it later. When? Gee, am not sure. Am 32 years old. On IUD for 5 years. Get back to me in 5 years and ask me about 2nd Child?. :p *still undecided*

  10. anak gw dua. dua-duanya cowo. dari dulu gw udah bilang ama hubby gw maunya dua aja. he wants 4! LOL ! tapi untungnya sekarang kita udah deal, 2 aja (with embel2 : paling nanti kalau udah pada gede kamu pengen punya bayi lagi.hihihi.). orang2 lain nanyain ? pasti. dan alasannya itu-itu aja, kan belum punya cewek ? beuh. tapi langsung pada gak berkutik kalau gw udah jawab gini : mau sekolah lagi, ngambil S3. kapan sekolahnya kalau ngegedein anak terus ? *dengan ekspresi sedikit jutek*. hahaha.

  11. gw adalah anak tunggal dari orang tua yang mmg sudah merencanakan demikian. alasan mereka adalah karena mereka dibesarkan di keluarga besar, dan melihat susahnya membesarkan anak banyak. itu pun sesuai dengan kondisi orang tua gw keduanya dosen PNS…
    banyak orang yang bilang anak tunggal itu akan manja, dan itu gak benar sama sekali lho… mungkin tergantung dari didikan orang tua masing2x. memang akhirnya ortu gw bisa fokus kepada pendidikan gw, alasan yang sama dgn ketiga pasangan di atas. mengenai sepi jadi anak tunggal? tidak dong, kan kita malah punya banyak teman malah kita punya me-time yg tidak terganggu kalo mau menyendiri :). cuma kasihannya skrg krn gw tinggal jauh dr ortu, sekarang mereka malah meminta anak gw biar gak sepi di rumah hahahaha…
    kalau sekarang gw sama suami sie tergantung dari yg di atas saja, berapa pun kami terima, pengen sie punya anak lagi cuma gak ngotot juga. kita sudah bahagia dengan bertiga ini :)

  12. hmm…kalo pendapat gw..2 lebih baik kali yah..hehehe gw ma hubby juga dari keluarga yang cukup besar..jadi kita berpikir 2 lebih bagus..emang ekonomi juga jadi bahan pertimbangan..sama kaya yang lain..kita berdua ingin memenuhi segala kebutuhan anak..tapi kita yakin Tuhan kasih kita kepercayaan pada saat kita mampu..hehehe apalagi gw punya teman yang kebetulan anak tunggal dan ironisnya dia ditinggal kedua org tuanya pada saat masih belia..gw selalu melihat dia kesepian…jadi itu juga jadi bahan pertimbangan untuk tidak punya 1 anak saja…

  13. dulu gw memang bercita-cita punya 4 anak, 2 cewek, 2 cowok, biar rame….hehehe…,anak gw skrg 2, cewek semua, sebenarnya sih, masih pingin nambah anak, cowok kalo bisa, tapi kalo anak gw lagi sakit, dua-duanya jadi manja, jadi rebutan pingin digendong sama gw, wah…jadi mikir-mikir lagi deh mau nambah, tapi memang sih, mau berapa pun jumlah anaknya, ada saatnya mereka akan sibuk dengan kehidupan mereka masing2 dan yang penting, para orang tua harus commit, keinginan punya berapa anak pun harus diimbangi dengan kesiapan mengasuh tiap anak dengan sebaik-baiknya…

  14. Pas pertama melahirkan dan urus bayi sendiri….pheeww…jujur rasanya cukup 1 saja :D Langsung on IUD pada saat si bayi usia 4 bulan..wkwkkwk. Tapi lama lama kok berasa sepi ya….Jadi pas Shafiya usia 4 tahun aku lepas IUD dan program utk hamil. Eh….gak berhasil2. Sampai pada satu titik si dr Obgyn memutuskan untuk inseminasi…suami gw langsung kabur :))

    OK…sejak saat itu kita memutuskan utk stop any fertility treatment..dan berpikir positif bahwa 1 anak pun OK. IUD gak dipake lagi karena ketauan gw ada masalah hormonal dan fertilitas.

    Eh…gak disangka 4 tahun berikutnya….gw hamil lagi..(yup..dalam kondisi anak pertama udah 7 tahun lebih….:D rasanya kayak hamil pertama lagi:D). Diem2 tuh jabang bayi dah 8 minggu aja diperut dan aku gak kerasa :)

    Yah..kalau udah gini apalagi kalau bukan campur tangan Allah kan? Ya sudah….kita jalani dengan happy…

    Sekarang baby Rayyan udah 6 bulan.

    Suami suka bilang pengen nambah lagi tapi gw gak mau. Cukup 2 ini supaya kebutuhan material maupun non material anak2 gw lebih mudah utk dipenuhi.

  15. saat ini saya masih mempunyai 1 puteri, mm kami belum berencana menambah anak lg meski orang tua saya menginginkan utk saya hamil lg krn usia anak kami 3 th, tapi mengingat kehidupan yg belum mapan saya masih mikir dl, walau suami kadang ingin punya anak lg.

  16. :D saat ini saya masih hamil anak pertama, dulu sih rencananya pengen punya anak lebih dari 2. Biar ramee..tapi mikir2 juga sih soal biaya sekolah yang gila2an..

    eia btw itu saya dulu pernah maen2 k blog-nya Novi, trus lupa alamatnya. Bisa minta lagi kah alamat blognya? Suka sama baju2 yang dia buat. Hehheeh.. thanks ya

  17. Gw blm comment ni kayaknya secara lahiran aja belom :D

    Kmrn lucunya suami gw udah nanya kpn siap buat anak ke2 :D (lah ini aja satu blm keluar udah minta lagi :p)

    But kl dibalikin ke gw, I’d like to hv 1 anak sajah… Blm kebayang pny 2.. Diliat dl d…

Post Comment