Bebaskan Imajinasi dengan Corat Coret

Sejak pertama bekerja, saya selalu nyemplung di dunia kreatif. Mulai dari tulis menulis sampai ke televisi. Jaman sekolah dulu pun, saya cenderung dikenal sebagai anak yang kreatif, walaupun hanya sebatas bikin kartu ucapan sendiri, buku tulis dan agenda sendiri sih!

Tapi sayangnya, diantara semua itu, sumpah saya nggak bisa menggambar! Bahkan pernah suatu saat saya menjalani tes psikologi dimana salah satu tesnya adalah menggambar, saya nyerah minta ampun! Cuma bisa gambar orang dengan kepala bulat serta badan, kaki dan tangan berupa garis lurus saja :D

Dalam usianya saat ini, Langit yang berusia 2 tahun sangat senang bereksplorasi dengan alat tulis. Mungkin karena hal ini saya sering mengalami kebosanan atau mati gaya ngajak main Langit. Demikian sebaliknya. Saya yakin semua ibu pasti ingin anaknya merasa betah dan nggak bosan ngajak main anaknya, tapi apa daya seringnya pasti pada ngomong, “Gue nggak kreatif nih jadi mati gaya ajak main anak”. Buntut-buntutnya, kita (termasuk saya tentunya), seringnya ngajak main anak ke mall, atau menyerahkan acara mainnya bersama pengasuh.

Minggu lalu saya datang ke sebuah talkshow “Lepaskan Kreatifitasmu, bersama dikDoank”. Siapa yang nggak kenal dikDoank? Sosok entertainer ini memang lekat dengan dunia anak, apalagi sejak ia membuka sekolah Kandang Jurank Doank di bilangan selatan Jakarta.

Pertemuan dengan dikDoank, seperti memberi ‘pencerahan’ bagi saya. Salah satu kalimat yang lekat dalam ingatan saya, kira-kira begini, “Nggak perlu menjadi ibu yang kreatif, tapi jadilah sahabat bagi anak”.

Pernyataannya saya artikan, seorang ibu nggak harus mampu menciptakan sesuatu yang baru bagi anak. Tapi jadilah sahabatnya, masuklah ke dunianya. Karena toh bagi anak-anak, segala hal adalah baru untuknya.

DikDoank sangat mengedepankan unsur melukis pada anak. Usia anak saya 2 tahun, pas banget dengan hal ini. Sejak Langit 15-16 bulanan, dia sangat senang bermain dengan alat tulis. Pulpen, pensil, crayon, spidol, segala yang bisa buat tulis ia mau coba! (bahkan pensil alis saya! Untung hanya Viva :P ) . tak heran, di usianya yang sekarang ini Langit sudah mahir memegang alat tulis walaupun kalau ia menggunakannya yang keluar hanyalah coretan-coretan yang mungkin bagi orang lain tak berarti.

Dengan hobinya ini, tak ayal ia mencoretkan karyanya dimana-mana. Awalnya, memang ia disiplin hanya “uwis-uwis” (katanya untuk istilah menulis) di kertas saja. Namun seiring perjalanan waktu, ia bereksplorasi dengan menulis di lantai, agenda kerja saya, meja, bajunya sendiri, hingga sprei! (yes, untungnya tembok belum jadi korban). Menceritakan hal ini, dikDoank bertanya, “Apakah kamu marah dengan kegiatannya ini?” saya jawab, “Tidak, salahkah saya? Apakah anak saya hanya boleh dan harus menggambar di kertas saja?”. Jujur, memang saya tak pernah marah. Karena teringat jaman kecil dulu, ibu dan bapak saya menyediakan 1 sisi tembok untuk dicoret-coret (mungkin bapak saya berharap anaknya pandai menggambar seperti beliau, tapi rupanya nggak nurun euy bakat itu!).

dikDoank menjawab, “Segala sesuatu hal yang dilakukan anak, jika orangtuanya ikhlas melihatnya, maka itu merupakan kenyamanan tersendiri buat si anak”. Tentunya semua orangtua ingin anaknya nyaman kan? Walaupun kalau mommies disini keberatan tembok rumah dicoret-coret, ya diomongin aja kali ya, secara baik-baik…

Menurut dikDoank, nyaris semua penemuan dimuka bumi ini diawali dengan lukisan. Mulai dari arsitek hingga penemu pesawat pertama kali pun membuat karyanya lewat lukisan. Jadi, biarkan anak menulis, melukis, bahkan hanya coret-coret sekalipun dengan media apapun. Yang menarik lagi, dikDoank sempat mencontohkan coretan tak beraturan khas balita yang kemudian ia modifikasi coretan itu hingga terdapat banyak ikan didalamnya! Saya harus belajar banyak dengannya nih…

Oiya, diacara ini dikDoank sempat menantang kami yang datang untuk menggambar diatas biskuit Oops menggunakan pasta cokelat, karena kebetulan acara ini disponsori oleh Oops. Biskuit? Iya, ternyata bisa jadi media yang menarik loh! Bayangkan jika anak mommies disini lagi GTM, hidangkan sepiring nasi dan telor dadar (yang diisi aneka sayuran dan lain-lain), lalu izinkan anak melukis diatas telor itu dengan menggunakan pasta tomat atau menghiasnya dengan sayuran. Atau sesekali ajak anak menghias kue dengan pasta warna warni.. pasti seru! Saya sih, belum mencoba, mungkin suatu saat nanti akan saya lakukan! Bagaimana, mommies mau mencoba juga?


23 Comments - Write a Comment

Post Comment