Balada Ibu yang Mau Tauu Aja!

Saya suka sekali mengumpulkan informasi. Julukan saya dari teman-teman antara lain 108 atau Wikipedia. Dan bisa ditebak, ketika hamil dan baru masuk babak baru kehidupan alias menjadi ibu, mengumpulkan informasi dari beragam sumber semakin giat dilakukan. Saya orang yang mudah penasaran dan dengan memperkaya informasi, saya merasa lebih siap menghadapi apapun. Hal pertama yang saya lakukan ketika tahu diri ini sedang berbadan dua adalah mendaftar pada situs terkemuka untuk mendapatkan update kehamilan tiap minggunya. Selama sembilan bulan saya terus menggali informasi; soal vitamin ibu hamil, Braxton Hicks, ASI, bouncer, daftar keperluan bayi baru lahir. Setelah melahirkan kebiasaan ini berlanjut, dengan topik berbeda tentu; makanan pendamping, mainan edukatif, perbandingan susu, diaper, RUM, home treatmentyou name it, I browse it.

Masalah muncul ketika saya mulai merasa ‘sesak’ dengan segala informasi yang saya cari sendiri. Bukannya saya merasa siap menjadi seorang ibu, saya malah merasa percaya diri ini turun sampai titik penghabisan. Akhirnya saya membatasi diri. Saya browsing internet, membaca buku, dan bertanya pada rekan atau saudara yang lebih berpengalaman hanya untuk mendapat informasi dasar yang saya nilai cukup menjadi bekal nanti. Selebihnya saya percayakan pada insting sebagai seorang ibu dengan memerhatikan kebutuhan anak. Yep, kadang kita lupa kalau kita sudah dibekali hal yang paling penting dalam kehidupan seorang ibu: insting dan juga fakta bahwa anak kita adalah seorang individu, tidak bisa disamakan dengan anak lainnya. Kita sebagai orangtualah yang harus mengenali siapa individu kecil itu.  Contohnya saat Igo mulai diberikan makanan pendamping. Saya mencari referensi soal makanan apa yang sebaiknya diberikan sebagai makanan pertama, peralatannya juga daftar do’s and don’t’s. Apakah saya melakukannya plek ketiplek dengan buku teks/referensi teman dan keluarga? Awalnya saja, selebihnya saya melihat reaksi Igo.

Soal anak sakit juga sama. Saya penganut RUM dan home treatment sementara ibu saya adalah seorang dokter yang tiap kali Igo bersin rasanya saya harus buru-buru membawanya ke DSA untuk diperiksa. We often butt-headed about this karena saya cukup yakin dengan pengetahuan yang saya miliki. Namun hal itu tidak lantas membuat saya besar kepala, apapun …ibu saya punya jam terbang sebagai orangtua yang jauh lebih tinggi ditambah lagi dengan pengalamannya sebagai tenaga medis. Saya cari jalan tengahnya. Batuk-pilek misalnya, jika Igo masih beraktivitas seperti biasa (termasuk makan dan minumnya) dan tidurnya juga tidak terganggu, saya menjelaskan kepada ibu saya kalau saya akan menjalankan RUM dan home treatment terlebih dulu selama beberapa hari dan melihat perkembangan. Jika memang memburuk, saya akan berkonsultasi dengan DSA. Sejauh ini ibu saya bisa mengerti.

Dalam mengumpulkan informasi, kita harus pintar. Prinsip saya: baca, sortir, cerna, dan serap. Tidak semua yang disarankan buku, situs, rekan/keluarga harus dijalani. Kita juga harus bisa memilah mana yang cocok diterapkan pada individu kecil di rumah dengan memerhatikan kebiasaan atau seleranya. PD sajalah, toh kita tidak akan melakukan hal yang bisa mencelakakan anak kan? And yes, curiosity (often) kills the cat. Jadi perkaya informasi but be wise about it.

Dikirimkan oleh Sanetya, ibu dari Igo (1 tahun). Thank you, Sanetya and we agree 100% with you! :)


27 Comments - Write a Comment

Post Comment