Ketika Harus Memilih

Menjadi working mommy memang jadi dilema tersendiri buat sebagian kaum ibu, termasuk saya. Kebebasan finansial sekaligus supporting AD/ART keluarga menjadi tolak ukur para working mommy tentunya. Belum lagi iming-iming jaminan fasilitas kantor, seperti asuransi untuk keluarga, yang membuat kita mikir dua kali untuk hengkang dari pekerjaan.

Saya bekerja untuk perusahaan Jepang, yang berprinsip “rela mati” buat pekerjaan. Lebay?! Sedikit, tapi ya itulah orang Jepang. Buat mereka, jika kita sudah memilih untuk bekerja, keluarga dan printilan lain harus menjadi nomor kesekian dalam hidup kita.

Permata hati saya, Annasha Queenara Firmansyah atau Nara, yang sedang lucu-lucunya di usianya yang menjelang 2,5tahun ini, harus tega saya tinggalkan, sejak ia berusia 3 bulan, setelah masa cuti melahirkan saya habis. Sedih? Pasti, apalagi dengan situasi kerjaan yang amit-amit jabang bayi sibuknya, sempat terpikir, bagaimana membagi waktunya dengan dia nanti. Mau resign? Duh lebih nggak mungkin lagi. Masih banyak cita-cita dan impian keluarga kecil saya yang belum tercapai.

Jadi gimana solusinya? Saya harus ikhlas yang terutama. Saya sudah memilih. Memilih untuk tetap bekerja dan meninggalkan si kecil dirumah. Sedih sekali pastinya. Tak bisa selalu menemani hari-harinya, tak bisa melihat langsung langkah pertamanya, tak bisa selalu di sampingnya disaat dia ingin bermanja-manja.

Saya sempat mau nangis, mendengar Mama saya telephone, mengabarkan Nara sudah bisa melangkah di usianya yang waktu itu menginjak 9 bulan. Tapi saya sadar, ini konsekuensi saya sebagai ibu bekerja. Karena sekali lagi saya sudah memilih dan saya harap Nara bisa memaafkan “kesalahan kecil” mamanya ini di kemudian hari.

Sampai kapan saya sanggup menjalani hari-hari menjadi working mommy? Kalo boleh dan bisa saya resign sekarang dan menjadi FTM, saya mau. Tetapi pilihan saya belum mengizinkan hal tersebut terjadi dalam waktu dekat, entah beberapa lama lagi saya akan tetap bekerja full time. Tapi yang pasti, saya selalu ingin memberikan yang terbaik buat Nara. Selalu berusaha mendampinginya disaat saya bisa. Menjadi working mommy, bukan berarti tak bisa menjadi the best mommy buat Nara. Saya yakin, malaikat kecil saya ini mengerti jalan yang sudah mamanya pilih. Saya harap juga dia mengerti, tak selamanya saya akan menjadi ibu bekerja.

Semoga saat itu segera tiba dan saya dengan langkah dan senyum lebar akan berjalan ke pilihan hidup saya, menjadi full time mommy buat Nara.

Dikirimkan oleh Anthy, mama dari Nara. Kita doakan supaya Anthy selalu bahagia dengan pilihannya ya…


24 Comments - Write a Comment

  1. yoai..sedih banget harus ninggalin baby ku yang baru 2 bulan, huhuhu..hikz..
    ga tega rasanya. ngerasa bakalan kehilangan moment-moment penting di setiap hari di awal-awal kehidupannya. tapi gimana pun hidup adalah pilihan, harus dijalani pahit manisnya.
    buat para WM, semangat!!!!!!!..

Post Comment