Mengenal Pre Eklampsia

Pre-eclampsia (US: preeclampsia) is a medical condition where hypertension arises in pregnancy (pregnancy-induced hypertension) in association with significant amounts of protein in the urine. Pre-eclampsia refers to a set of symptoms rather than any causative factor, and there are many different causes for the condition. It appears likely that there are substances from the placenta that can cause endothelial dysfunction in the maternal blood vessels of susceptible women.[1] While blood pressure elevation is the most visible sign of the disease, it involves generalized damage to the maternal endothelium, kidneys, and liver, with the release of vasoconstrictive factors being secondary to the original damage.

Pre-eclampsia may develop from 20 weeks gestation (it is considered early onset before 32 weeks, which is associated with increased morbidity). Its progress differs among patients; most cases are diagnosed pre-term. Pre-eclampsia may also occur up to six weeks post-partum. Apart from Caesarean section or induction of labor (and therefore delivery of the placenta), there is no known cure. It is the most common of the dangerous pregnancy complications; it may affect both the mother and the unborn child – Wikipedia

OK, itu terjadi pada saya. Kehamilan pertama yang saya nantikan dan sambut dengan senang hati, tiba tiba menjadi time bomb yang membuat khawatir semua orang. Di bulan ke-5 kehamilan tensi mulai naik, yang sebelumnya rendah tiba-tiba jadi tinggi, berada di 130/90 dan keadaan itu terus memburuk hingga minggu ke 35. Di hari kelahiran tensi saya memburuk menjadi 180/140. Obat penurun darah tinggi sudah berkali-kali diberikan dan diganti dosis setiap bulannya. Diet garam yang katanya bisa menurunkan tensi dan mengurangi bengkak pun tidak berhasil menjadikan tensi normal. Turun sedikit saja pun tidak, malahan berat bayi jadi berkurang karena diet itu. Pembengkakkan ada dimana-mana, terutama di tungkai, kaki, tangan dan muka pun jadi sembab. Bahkan di bulan-bulan terakhir saya sampai tidak kuat berjalan karena kaki terasa sakit. Bukan hanya itu, jari-jemari bahkan dengkul pun merapat. Namun OBGYN saya terakhir (setelah browsing lalu ganti OBGYN yang ahli symptom itu) melarang  saya diet karena berat bayi harus dikejar agar cepat bisa dilahirkan.

Apa saja gejala preeklampsia yang patut di waspadai?

Selain bengkak pada kaki dan tangan, protein pada urine dan tekanan darah tinggi, gejala preeklampsia yang patut diwaspadai adalah :

  • Berat badan yang meningkat secara drastis akibat dari penimbunan cairan dalam tubuh.
  • Nyeri perut.
  • Sakit kepala yang berat.
  • Perubahan pada refleks.
  • Penurunan produksi kencing atau bahkan tidak kencing sama sekali.
  • Ada darah pada air kencing.
  • Pusing.
  • Mual dan muntah yang berlebihan.

Check-up terakhir adalah periksa kadar protein dalam urin dan hasilnya negatif, tapi dokter bilang itu adalah hasil kerja obat penurun tensi yang dosis tinggi hingga tidak terbaca lagi dan akhirnya dokter memutuskan mengakhiri kehamilan pada minggu ke-36. Tepat tanggal 17 September 2008, my baby girl, Sasi, lahir melalui proses c-section dengan keadaan ibu yang tensi nya sudah menginjak 180/140.  Setelah proses kelahiran pun harus dipantau 24 jam di ruang observasi, dipasang CTG, dikunjungi dokter jantung bahkan cek darah berkali kali. Believe me mommies, you don’t want any of that to happen to you. I couldn’t even see my baby after she was born. Saya hanya bisa pasrah melihat pasien melahikan masuk dan keluar dari ruang pemulihan sampai 7 atau 8 kali dan saya sama sekali tidak boleh keluar dari ruangan ini. Saya hanya ditemani mesin jantung yang bunyi terus tiap jantung berdetak dan bunyinya meninggi kalau tensi saya naik. So depressing!  Saya hanya bisa memohon dalam hati semoga Tuhan masih mau memberi saya kesempatan bertemu anak saya sebentar saja :( Hanya suami dan mama saya saja yang bisa bolak balik melihat keadaan saya dan saya minta kepada suami saya untuk mengambil foto Sasi  supaya saya bisa melihat di

Keputusan dokter saat itu saya harus diobservasi 24 jam dan diberikan obat untuk meningkatkan kadar kalsium dalam tubuh. Setelah hal tersebut dilakukan, dokter ahli jantung pun memutuskan saya terkena hipertensi ringan dan dalam keadaan stabil. Suami saya sempat bercerita bahwa OBGYN kemarin memberitahukan bahwa saya hampir kejang namun masih tertolong, Alhamdulillah ya Allah. Saya masih dikasih kesempatan untuk hidup dan merawat keluarga saya.

Tensi saya kembali normal 120/80  dan tidak akan pernah lebih rendah dari itu lagi menurut dokter. Sekitar dua bulan setelah melahirkan saya harus menjalani terapi hidup sehat, olahraga, makan sehat dan meminum obat yang mengakibatkan saya harus merelakan anak saya minum susu formula karena susu Ibunya mengandung zat kimia dosis tinggi dari obat-obatan tersebut. Mudah-mudahan nanti kalau punya anak lagi saya bisa kasih ASI eksklusif.  Berat badan saya yang naik hampir 20 kg turun dalam waktu dua minggu sebanyak 14 kg dan ternyata pembengkakan yang terjadi hanya cairan saja. Sisanya lemak kali ya hehehe..

Bersyukur. Itu hal yang saya lakukan setiap hari, melihat anak saya sekarang tumbuh sehat. She’s 17months already. Walaupun cuma sebentar sekali merasakan ASI ibunya, ia sekarang sudah bisa bilang Mama dan sudah bisa bilang woyuuu yang artinya love you :D

Dokter saya sudah memberi peringatan untuk menjaga kesehatan, jaga asupan makanan, dan yang paling penting olahraga supaya peredaran darah lancar, karena pre eklampsia biasa terulang di kehamilan selanjutnya.

Well I am just trying hard now, doing the best I can for the sake of my lil family :)

Sources and further reading, please visit:

http://www.preeclampsia.org

http://www.babycenter.com/0_preeclampsia_257.bc

http://www.blogdokter.net/2009/02/17/preeklampsia-dan-eklampsia-pada-kehamilan/

Dikirimkan oleh Uci, mama dari Sasi yang sekarang sehat dan ceria. Thank you for sharing, Uci :)


42 Comments - Write a Comment

  1. Halo..
    Saya juga mengalami pre eklampsia..pada usia kehamilan 29 minggu..
    Tanggal 14 febuari 2008 saya USG 4 dimensi terakhir, posisi anak sudah baik..tapi terdapat notching pada grafik aliran darah ke rahim.
    Dokter USG saya mengatakan, jika tensi saya stabil dan tidak ada kenaikan it’s ok..tapi jika tiba2 naik harus di waspadai pre eklampsia.
    Tanggal 16 febuari, saya konsul ke dokter, ketika timbang tensi, tensi saya naik 130/90, suster2 sampai ganti alat tensi dan sampai bergantian mengukur tensi saya..
    Mungkin mereka setengah tidak percaya, karena riwayat tekanan darah saya selalu dinilai 100/80..
    Akhirnya saya didahulukan dari pasien2 lain..tidak boleh pulang kerumah, tes urine dan darah..
    Tanggal 17, jam 1 siang anak saya lahir, dengan berat 1.3kg, dan panjang 38cm..
    2 bulan dia di inkubator..
    Sekarang anak saya sudah 2 tahun…
    And I still breastfeed him..

  2. ada yg lebih muda lagi dilahirkannya ya selain saya…hehehe….dulu saya 36 minggu mau dilahirkan aja dah stress berat syukur alhamdulillah berat badannya cukup 2.650kg… syukur ya mom helena…ibu dan anak selamat… :)

  3. Waktu hamil pertama, saya juga mengalami kenaikan berat badan yang sangat drastis (sampai usia kehamilan 38 minggu total kenaikan berat badan saya 29kg!) serta pembengkakan luar biasa..terutama di kaki.
    Semua orang sudah mencurigai saya pre-eklampsia, tapi ternyata tensi saya termasuk normal, bahkan cenderung rendah.
    Sampai waktu usia kehamilan kurang lebih 8 bulan saya harus diopname karena bengkaknya menggila sampai ga bisa jalan.
    Semua orang sudah mencurigai saya pre-eklampsia, tapi ternyata tensi saya termasuk normal, bahkan cenderung rendah.
    Ternyata setelah diobservasi, saya kekurangan albumin (salah satu protein dalam darah). Tidak diketahui sebabnya apa dan tidak jelas juga cara penanganannya seperti apa. Tapi alhamdulillah saya bisa terus sehat sampai baby Rai lahir.

    So, bumils….rajin2 cek kesehatan, apalagi kalau dirasa ada sesuatu yang ‘lain’ atau ‘janggal’ dalam tubuh.

  4. Thanks ya mbak uci,

    kalo di ingat2 memang berat rasanya melihat anak di VICU 1 minggu dengan bantuan ventilator karena paru2nya kurang mengembang, dia hanya dapat 2 kali pematangan paru (1 kali sudah 1 X 24jam, yang kedua diulang sebelum habis 1X24 jamnya) karena grafik CTG nya turun terus, dan kehamilan harus di terminasi.
    Selesai dai VICU dia harus tetap stay di PERINA,keluar RS 2.2KG..
    Memang Tuhan Maha Baik yah..orang bilang dulu Josiah sebesar botol kecap..
    sekarang sudah 2 tahun, 10.5kg,84cm…

    kissess from me and josiah..

  5. Waktu hamil anak ke-1 th 96 saya juga kena pre-eklampsia saat kandungan mulai menginjak 7 bulan, sampe diopname segala plus minum obat penurun tensi dan valium supaya bisa tidur nyenyak. Setelah dinyatakan pre-eklampsia saya diet rendah lemak dan garam tetapi tidak banyak membantu menurunkan tensi. Saya melahirkan lewat caesar, 5 jam usai caesar saya eklampsia dan sempat pingsan 4 jam. Tensi baru normal 40 hari usai melahirkan. Anak saya laki-laki, lahir dg berat badan 1,7 kg. ASI saya tidak keluar, sepertinya karena efek obat2an penurun tensi. Untuk mengejar pertumbuhan dia saya beri susu botol setiap jam (termasuk di malam hari). Alhamdullilah skrg dia sehat, jarang sakit dan besar badannya (13 tahun, tinggi 158 cm, berat 57 kg). Hamil anak ke-2 tensi tidak naik tetapi bayi saya meninggal waktu dilahirkan karena kelainan jantung. Waktu hamil anak ke-3, saya memutuskan untuk diet rendah lemak dan garam setelah dinyatakan positif hamil. Selama 9 bulan saya diet seperti itu. Alhamdullilah kehamilan terakhir ini berjalan lancar dan anak saya lahir dengan BB normal.

  6. Pre Eklampsia
    baru bulan desember kemarin teman kantor gw istrinya kena pre eklampsia..sayangnya karena kurangnya pengetahuan mengenai penyakit ini menyebabkan telatnya penanganan untuk istri dan anaknya
    katanya istrinya cuman mengalami bengkak..tapi nga sadar kalau itu bahaya..sewaktu sadar sudah terlambat, dibawa ke rumah sakit..dokter bilang kondisi istri dan anaknya kritis..dan anaknya sudah terbenam dengan cairan..akhirnya dokter hanya bisa menyelamatkan istrinya
    karena kondisi anaknya sudah tidak tertolong..

  7. thank u mommies…

    helena : biasanya anak prematur extraordinary loh….ak punya sodara begitu…dulu segede botol kecap skrg gede banget suburrr….hehehe….ga nyangka kecilnya cuma 1.7kg….kisses for josiah….

    mommika : syukur bukan pre eklampsia ya..

    edema (bengkak) itu wajar di wanita hamil….cuma kalo dibarengin sama naik nya tensi itu bahaya…dah pasti pre eklamp….pre eklamp kalo ga ditangani dgn cepat bisa berkepanjangan…mommy nya bisa stroke, bisa lupus atau d worst is death (amit amit ya Allah….) dan baby nya bisa lepas dr placenta dan meninggal di perut…. makanya aku share cerita ini….biar kita (mom n mom to be) bisa melek mata dan aware….kehamilan yang naiknya lebih dr 15 kilo harus dah waspada deh pokoknya…

    mba’ rini : wahhh bisa ya ga kena pre eklamp lagi….aku sih sampe skrg tensi mang ga pernah rendah lagi…cenderung tinggi….mungkin karena kurang olahraga ya….. ;p makanya masih dipantau terus per 6bln sama OBGYN ku…

    aotum : yahhh kasian ya temanmu…pokoknya begitu tensi naik harus langsung waspada aja…temenku dulu jg ada yg begitu….dokter selalu mendahulukan ibunya dulu….dah kode etik pasti ya… :)

    lita : thank u lita…mama nya langit ya? salam kenal ya….kisses to for her….

    kirana : ya semoga berguna ya….

  8. @sabai; menurut Obgyn gw, pre-eklampsia ini belum diketahui penyebab pastinya. Krn gw selama hamil udah diet garsm tp tetep aja DIA “milih” gw untuk tau rasanya pre-eklampsia.. (Tp hal ini justru bikin gw tambah bersyukur akan semua hal yg ada, termasuk myaiRa malaykatmungil pelangi kirimanNya)

  9. Kehamilan aku kemaren juga divonis pre-clampsia. Ketahuannya di week 32. Waktu itu sempet diminta menunggu sampai week ke 37 sama obgyn aku. Tapi di week 36, bhisma sudah gak tahan pengen ketemu bubunya. Akhirnya bhisma lahir dengan proses sc.
    Sama kaya ucii, setelah melahirkan ternyata badan bengkak isinya air semua.

    Thanks GOD, aku masih lebih beruntung, masih bisa memberikan ASI ekslusif untuk Bhisma sampai hari ini. Dan tensi sudah normal lagi. Sekarang Bhisma 3 bulan 3 minggu. Doain yah bisa lulus ASIX. Amin.

    @ ucii dan @ helena, thanks udah sharing yah.

Post Comment