Uthe & Baby Blues

At least 60 to 80 percent of new mothers get the baby blues, a mild form of depression that begins a few days to a week after delivery and lasts no longer than about two weeks. Moms with the blues may be weepy, anxious, irritable, and unable to sleep. Most feel better after getting some rest and help with the baby, and maybe having a good cry after all the stress and excitement of childbirth.

If your “blues” don’t lift after about two weeks, it could be postpartum depression (PPD). Ten to 20 percent of new mothers develop a full-blown clinical depression, which can last from two weeks to as long as a year. (babycenter.com)

Saya tidak pernah menyangkan bahwa hal yang tidak terpikir sama sekali akan terjadi pada saya ketika saya melahirkan Zara. Jelang persalinan perasaan saya memang campur aduk, antara nggak sabar, takut, dan bahagia.

Sebenarnya ketidaknyamanan perasaan saya bermula ketika saya harus diinduksi. Saya hanya berdua dengan suami di rumah bersalin. Saat persalinan berlangsung kami tidak didampingi siapa-siapa. Waktu itu adalah saat yang sulit buat saya. Tapi puji Tuhan, persalinan berlangsung dengan cepat dan baik.

Saat masih di rumah bersalin, Zara sama saya di kamar hanya pada jam-jam tertentu. Efek positif yang saya rasakan adalah, Ternyata enak ya punya anak. Sudah ada yang mandiin dan tidak ada tangis di tengah malam, karena dia di ruang bayi.

Malam pertama Zara pulang di situlah ketidaknyamanan saya semakin menggila. Tiap jam Zara nangis minta menyusu. Sementara ASI saya belum keluar lancar. Tapi dia tetap nangis tanpa rasa lelah. Saya kepanasan padahal suhu AC sudah di angka 20, sebelumnya 25 derajat. Saya kesal, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Esok harinya tidak berubah. Nangis melulu.

“Mungkin dia haus…”

“ASInya nggak keluar, ya?”

“Itu susunya nggak ada, kali…”

“Kasih susu kaleng saja, ASInya belum keluar. Kasihan…”

Asli, lho, saya super pede dengan ASI saya. Ada nggak ada saya tetep nyusuin Zara. Tapi pede saya nyusut jadi minus karena Zara nggak berhenti nangis, komentar tentang ASI oleh orang-orang di sekeliling dan terlebih lagi, Zara demam. Menurut suster yang saya telepon, suhu badannya naik mungkin karena haus. Dia minta saya untuk datang ke sana. Akhirnya saya datang dan dia menenangkan saya. Hasilnya, ASI saya luber.

Malam kedua dan seterusnya juga seperti itu. Saya kelelahan dan merasa depresi. Saya tidak bisa mengendalikan makhluk kecil ini. Saya dan ibu mertua berganti-gantian gendong. Entah kenapa setelah digendong mertua dia mau tenang dan tidur. Beberapa menit kemudian bangun lagi, nangis lagi, begitu seterusnya. Sampai-sampai saya menganggap Zara makhluk penyiksa hidup saya. Saya sudah dibuat bagaikan zombie.

Tiap malam saya SMS mama saya, “Maaaa, aku nggak kuat.Gue capek…” SMS serupa juga saya kirim ke teman saya, Yenny a.k.a. Cicik. Lalu saya juga curhat sama adik saya. Saya kesepian. Saya kecapekan. Saya butuh hiburan. Saya butuh ditemani. Saya butuh dibantu. Saya pengen Zara diurus orang lain.

Kemudian salah satu klimaksnya adalah waktu Zara berusia sekitar hampir 2 minggu. Malam itu dia nggak mau tidur sama sekali. Kalau ditaro di boxnya, dia nangis. Saya tidurin di sebelah saya nangis. Kalau digendong dia tenang, akhirnya sambil nyusu. Saya selalu nyusuin dia dalam posisi duduk, waktu itu kepala saya sampe terkantuk-kantuk sangkin ngantuknya. Saya marah-marahin dia, “Ayo, dong, tidur. Emang Zara nggak capek, yaa? Bunda capek, nih… Pengen tidur, masa kamu aja, sih, yang mau enak?”

Dia teteeeeeep aja nggak mau tidur. Keselnya sudah sampai ubun-ubun. Karena saya nggak tahan lagi, emosi saya meledak. “Dasar nyusahin! Lo pikir lo doang yang harus dingertiin? Gue juga capek!!! Gue mau tidur! Zara harus tidur, ini sudah subuh!”, sambil saya keplak kakinya dan setelahnya saya agak lepas dia ke kasur dimana kemudian dia kaget dan nangisnya semakin menjadi.

Rony, suami saya, dengar saya marah-marah. Kemudian dia pun bilang ke saya kalo Zara itu masih kecil dan dia nggak ngerti apa-apa, jangan dimarahin. Awalnya saya merasa sangat bersalah. Tapi ego saya nggak mau disalahin, dalam hati saya bilang, “Enak aja dia mulu yang dingertiin. Gue capek-capek hamil dan lahirin nggak ada yang mau ngertiin termasuk anak sendiri.”

I was a bad bad bad bad bad very bad mother. It was out of my control. Hampir 3 minggu saya depresi, tiap malam menangis, stress nggak bisa ngendaliin Zara, dan merasa gagal. Nggak kebayang sebelumnya bahwa baby blues syndrome terjadi pada saya. Semoga Zara tidak ingat hal buruk yang pernah saya lakukan saat usianya baru hitungan minggu.

Dear Mommies, pada akhirnya saya memang merasa amat bersalah karena hal itu. Sedih banget. Tapi itu bener-bener di luar kendali saya. Hingga pada akhirnya saya membuat kesimpulan sendiri, bahwa ibu yang mengalami baby blues sebaiknya jangan dibiarkan sendirian. Siapapun di sekitarnya harus membuat dia tenang dan nyaman semaksimal mungkin. Umumnya orang lebih perhatian ke bayi, padahal si ibu juga butuh perhatian.

Kalau ada yang sedang menunggu hari persalinan, sebaiknya pastikan keluarga dekat tahu sehingga di hari H nanti akan didampingi sampai tuntas. Bila sampai hari ke-5 ASI masih belum lancar minta pasangan supaya jangan ada satu orang pun membuat kita down dengan komentar ASI-tidak-keluar.  Suka nggak suka, capek nggak capek, pasangan kita harus mau turun tangan ketika baby menangis tak henti-henti.

Bila ada mommy yang tinggal dengan mertua, coba negosiasi dengan pasangan agar mommy bisa sebulan (maksimal) tinggal dengan orangtua kandung, percaya, deh… Sama nyokap sendiri jauh lebih enak karena kita bisa minta tolong tanpa rasa sungkan.  Oia, pastikan bahwa di kamar ada televisi dan CD player. Ketika rasa depresi muncul, mommy butuh media lain untuk mengalihkan depresi tersebut.

Saya tidak bermaksud nakut-nakutinin, lho. Saya berbagi pengalaman saya. Semoga tidak ada yang mengalami hal yang pernah saya alami. Saat ini Zara sudah tumbuh besar, usianya 1 tahun 4 bulan. Kalau kata tante saya, “Zara is a happy girl”, menurutnya Zara sangat ceria. Menurut saya sangkin cerianya dia jadi sangat petakilan nan aktif.  :)

Ingin berbagi dengan sesama ibu yang pernah merasakan baby blues? Kunjungi forum thread ini.


36 Comments - Write a Comment

  1. Uthe, thanks for sharing!
    Setelah bayi lahir emang kadang kondisinya lebih menyeramkan saat sebelum melahirkan ya.. Tp bersyukur lo punya roni yg mau ngertiin kondisi elo the! Coba kaya suami gw, hehehe..
    Hugs and kisses for u and zara from me and langit :*

  2. sanetya

    Utheeee, hugs! Gue juga merasakan sindrom baby blues ini. Gue ngerti banget apa yg lo maksud. It’s like your exhaustion is eating you from the inside, you even got tired from being tired. Gue dulu tiap kali abis ‘melepas’ laki gue berangkat kerja pasti nangis, seharian juga beberapa kali nangis tanpa sebab..baru reda setelah laki gue pulang. Mungkin karena gue merasa ada orang utk berbagi ‘beban’ baru itu ya.
    *kapan kita berjumpa lagi di shelter Ragunan? x)*

    Gue mau nambahin sedikit. Yes, dibantu nyokap sendiri pasti lebih enak dibanding mertua. Tapi bisa jadi berbeda di kasus lain. Contohnya gue, nyokap gue itu masih bekerja jadi yaaaa sami mawonlah, ga bisa “mengandalkan” beliau juga untuk membantu gue waktu itu.

  3. Huuhuuhuu..I feel u The,sedih bacanya pas bagiang “ngeplak kakinya zara”..gw nutupin mukanya kenzie pake bantal,hiks am a bad mommy :(
    Emang butuh pendamping ya kalo baru melahirkan,terutama yg kita nyaman dan bs berbagi

  4. Hwaa.. Sedih bacanya, jadi inget dulu waktu baby blues itu menyerang.
    Sumpah gak enak buanget rasanya.. Apalagi kalo ngelihat suami tidur sementara kita pusing pas bayi nangis. Betenya ampe ubun-ubun..Kayanya kok kita sendirian yang kecapekan, sementara hubby tidur.. huhuhuhw, kasihan ya baby kita.. aku pernah naronya di box jadi agak kasar gitu *huhuhuw, sediiih*

    Makanya kalo ada temen yang baru lahiran, sebisa mungkin aku pengennya selalu jadi teman yang siap sedia dicurhatin apapun, biar bisa melepas baby bluesnya itu..

    Semoga kalo aku dikasih rejeki melahirkan lagi gak perlu pake baby blues..

  5. @lita: hihihi, thanks sudah bisa berbagi disini, maw… ;)

    @sanetya & ully: huhuhu, moga-moga anak berikutnya kita nggak kena baby blues lagi yaaa..

    @nandra: really? owww… sorry to hear that… :( benarrrrrrrrrrr, pendamping itu perlu.. untungnya setelah itu hadirlah Mbak Pri the nanny yang seakan-akan replacing my mom… jadi tenang banget karena dia sangat keibuan… :)

  6. Uthe,

    Gw juga pernah ngerasain capeeeeekkkkk banget… Gw lebih parah lagi, gak ada orangtua, gak ada mertua… Cuma ngurusin berdua aja sama suami. Tapi pas maternity leave 3 bulan, siangnya ya gw fight sendirian… Waktu itu gw pasrah aja…. Badan gw cape gak keruan, yang cuek aja… Naufal juga gitu, nangiiisssssss muluuu… Sampe Ibu2 tetangga nyamperin dan komentar, “Masih laper kaliiii… Kasih susu formula aja. Apalagi anak laki2an minumnya kuat looh!” Hihhh… Pengen gw kremes mulutnya! Apa haknya ngomentarin ASI gw…? Tapi yah gw cuekin aja… Gw sampe takut dia nangis mulu apa karena dia nggak suka gw??? Orang2 juga komentar mulu, “Kok nangis terus??? Kenapa??” Dalem hati gw pengen teriakin di muka orang2 itu, “MENEGETEHE????!!!!!!! KALO NIH BAYI BISA NGOMONG UDAH GW TANYA. DARI KEMAREN2 KENAPA DIA NANGIS, NYET!!!!”

    Tapi sekarang ngeliat Naufal tumbuh sehat dan lucu, masa2 itu cuma jadi kenangan manis. Setiap gw ngeliat Naufal, apalagi pas dia lagi tidur, gw akan melakukan apapun untuk dia. Masa2 “menyusahkan” itu gak ada artinya dengan masa2 yang akan datang ketika dia tumbuh besar, sekolah, remaja, dewasa… Tantangan kita lebih banyak The! Semoga semua berjalan baik dan diberkahi Tuhan. Amin…

  7. I had the same thing when my baby was just born.. he was colicky and would cry all day long, non stop, only stopping when he was held. I had to hold him while using the bathroom, while washing the dishes, while heating my food. I couldn’t take some much-needed shower or bath until my husband got home from work because he would start screaming some serious ear-piercing scream. Have no parents or help around, gotta do ‘em all myself. The sleep deprivation was the worst part of it, and I found myself feeling so angry to my baby for being so difficult. I wished he could talk and tell me what was wrong.

    Now he is 7 months old and a happier baby. The first time he smiled was when it all started to make a little more sense to me. I learn to be happier, learn to accept things the way they are. Some babies are born more demanding than others, but they are still blessing nonetheless. It’s easier to deal with when I put on that mindset. And now that he’s slept through the night things just got much better.

    I’m sure someday I’ll look back to his infant days and smile. He’s the best gift I’ve ever been given in my life.. and I wouldn’t trade any minute of my motherhood life with anything. Thank you for sharing your experience. It was nice reading and knowing that other mothers too, were in the same boat as me.

  8. kqkqkkqq… yes, i remember uthe’s blues. it happens just abut a month after i’ve been through the blues. ahahahhaah. Yes, waktu baby blues, tiap kali ditelpon teman teman terdekat, i.e. Vanya, Icha, Metta, di telpon maunya nangiiiiiis tersedu sedu. kyayayyaa.. precious moments heh? kiqkqiqkqkqk.

  9. sharingnya uthe sama persis seperti apa yang aku alamin waktu danish lahir. tinggal di rumah mama juga bukannya enak, dibantuin mama cuma di minggu2 pertama aja, selanjutnya mama ngebiarin aku ngerjain apa2 sendiri. waktu itu aku down banget, mama sama sekali cuek sama cucunya sendiri, waktu danish nangis pun mama enggan untuk bantuin ngegendong, tapi pernah suatu saat mama bilang ke aku, dia bukannya ga sayang sama aku dan danish, ngebiarin aku maksudnya mau mandiriin aku karena danish itu anakku, takutnya nanti dia lebih sayang sama omanya dibanding sama mamanya sendiri :( sekarang aku jadi lebih mandiri memang, mandiin danish aku udah bisa sendiri. kalau danish bangun tengah malam minta nete/ganti pampers/ganti baju karena basah kena keringat/minta digendong, aku lebih sering minta hubby bantuin aku untuk ngegendongnya. jujur, aku sendiri agak malas ngegendong danish, selain karena pegel, aku ngga mau manjain dia, takut nantinya bau tangan, tapi sayang, kalo denger danish nangis, hubby, mama mertua en mamaku sendiri, langsung deh ngegendong2 danish. saat selesai nete malam pun danish nangis, aku dah sering bilang ke hubby kalo danish rewel cm karena mau bobo, ngantuk. sama hubby malah dikasih sufor lagi en digendong2 … jihhaaa, yang ada danish malah semakin menjadi nangisnya huahahaha …

    support dari orang terdekat itu penting banget. jangan sampe ada komen mengenai asi ngga keluar itu juga penting banget. di minggu2 pertama pun, asiku ngga keluar, mama mertua pun merendahkan dengan bilang asi lom keluarlah, asi sedikitlah, aku sebenernya udah ngga tahan sama kata2 itu, tapi aku cuekin aja. aku juga sempet demam beberapa kali karena kurang tidur, alhasil hubby yang gantiin aku handle danish saat malam *even akhirnya danish harus minum pake sufor* seenggaknya hubby bisa bantuin aku gantiin pampers danish en ngegendong waktu dia nangis.

    perasaan jenuh, bosan cuz selama 40 hari harus stay di rumah en ngga boleh kemana2 juga menghantuiku. bener banget seperti kata uthe, aku butuh hiburan, bt di rumah terus :(, pernah suatu kali aku nyelinap keluar rumah tanpa sepengetahuan mama. aku, hubby en danish ke c4, sekedar jalan2 menghilangkan rasa bt. yang ada aku malah semakin puyenk, karena danish rewel, yang ada akhirnya kita pulang lagi dehh hihi ,,, tapi seenggaknya rasa bt, jenuh en bosan itu sudah terbayarkan.

    aku juga pernah nangis saat ngeliat hubby, mama en mama mertua cm fokus ke danish, danish en danish sementara aku dibiarin aja huhu … tapi saat ngeliat danish tertidur lelap en tak berdaya, aku jadi semakin sayang sama my lil bear.

    semoga di kehamilanku yang akan datang, tidak akan menghadapi masalah ini lagi :)

  10. Uthe,

    I feel you, g mengalami hal yang sama…kalo g berakhir setelah hampir sebulan. Sekarang emang kalo ngeliat dia suka nyesel yang nggak kebayar, but rasa bersalah emang nggak kelar2 ya kalo dipikirin terus. Yang penting sekarang kita sudah lebih baik dari sebelumnya and after all, we are just human beings….

  11. Hi Sis.. Thx yahh sharing.. saya pun pernah ngalamin hal yg sama, ditambah sy tinggal di rmh mertua dan punya kk ipar yg ga punya anak! komplit dehh.. setiap hari dengar komentar2 kompaknya mereka, harusnya beginilah harusnya begitulahh.. air susu ga keluar jg saya disalahin.. maklum ibu mertua waktu anak2nya msh kecil/bayi full ada yg mbantuinn… smakin stress.. dan kk ipar yg dengan entengnya bilang ohh itu baby bluessss.. aihhh mungkin dia ada benarnya tapi aku jg ga tahan sama komen pedesnya itu lhooo bikinn gemes ajaaa hrhrhrhrhrhhrhrhrr.. tp untung hubby ngertiin aku… ketika persalinan cuti 3 hari nemenin sampai keluar dr rs.. aihh terharu biruu.. sayang perjuangannya itu harus dibayar dgn seyum ketus ibu mertua dan sinisme dr kk ipar… ahhh… nasibb memang… Tapi syukurlahh Danesh skrg udah 2 taun udah besarr… ga sedikit jg perjuangan sehari2 ketika Danesh masih bayi merah ga berdaya sampe skrg :)

Post Comment