Sarah Sechan; Memilih Sekolah Untuk Anak
Tahun ajaran baru memang masih lima bulan lagi mulainya. Tapi bukan berarti kita bisa santai santai dalam mencari sekolah untuk anak. Buktinya, sudah ada beberapa sekolah yang mempunyai daftar waiting list! karena pendaftaran sudah dibuka dari bulan Oktober lalu.
Banyaknya tipe sekolah yang ada bisa jadi malah memusingkan untuk kita. Pilih yang mana ya…Sekolah Negri? Swasta? Bilingual? International? British Curriculum? Sekolah Unggulan atau IB Certified? Huh, apa pula itu SD Imbas dan SD Inti?
Pastinya sih, setiap orang tua punya pertimbangannya sendiri dalam memilih sekolah untuk anaknya. Trend yang terjadi belakangan ini adalah banyaknya sekolah baru yang menawarkan program dwibahasa. Dengan biaya yang tidak murah tentunya. Memang betul, lancar berbahasa Inggris itu perlu, tetapi seberapa perlunya kah sampai kita harus merogoh kocek lebih dalam lagi?
Ada Supply tentu karena ada demand. Memang banyak sekali para ibu yang ingin mendaftarkan anaknya ke sekolah yang menawarkan program dwibahasa. Tapi diluar dugaan, ternyata tidak sedikit juga yang kurang tertarik dengan alasannya masing-masing.
Salah satu public figure favorit kami, Sarah Sechan, justru memilih untuk mendaftarkan anaknya, Rajata, 6 tahun, ke sekolah yang hanya menerapkan bahasa Indonesia. Padahal Sarah dibesarkan di luar negri dan sudah sangat terbiasa untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Diantara kesibukannya, Sarah meluangkan waktu untuk berbagi cerita tentang pedomannya dalam memilih sekolah untuk Rajata.
Penasaran dengan pendapatnya? Mari kita baca hasil wawancara kecil kecilan berikut ini:
Bahasa nasional itu penting:
Saya dan suami memutuskan untuk mencari sekolah yang full Indonesia dan mengikuti kurikulum nasional karena kami merasa penting sekali untuk Rajata bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari kecil kami tidak pernah membiasakan Rajata berbahasa ‘bayi’, misalnya ‘mamam’ untuk kata makan. Kami ingin seterusnya begitu, Rajata bisa menguasai bahasa ibu dengan baik; bisa menulis, membaca, dan komunikasi dengan bagus. Maunya Rajata bisa ‘ngobrol’ dengan berbagai lapisan masyarakat, dan realitanya tidak semua lapisan mampu berbahasa asing. Saya rasa masih banyak waktu untuk Rajata belajar bahasa asing. Di sekolah nasional pun anak diajarkan bahasa Inggris, dan anak juga bisa belajar dari banyak media. Saya lihat banyak anak-anak sekarang sekolah di sekolah internasional, bicara sama orang tua dengan bahasa Inggris memanggil orang tua dengan “Mommy daddy”, tapi tidak bisa menulis atau membaca dengan bahasa Indonesia. Kita tinggal di mana?
Bahasa Inggris tetap diperlukan:
Saya setuju anak bisa menyerap bahasa dengan mudah saat kecil, saya juga setuju anak-anak diajarkan bahasa asing. Di rumah pun kami biasa sedikit-sedikit berbahasa Inggris ke Rajata, apalagi saya lama di luar Indonesia dan seringkali ‘berpikir’ dengan bahasa Inggris. Tapi saya ingin Rajata menguasai betul bahasa ibu, dan ini bisa dicapai dengan dia bersekolah di sekolah nasional. Saya bicara lebih banyak bahasa Indonesia, tapi kadang akan keluar bahasa Inggris (karena kebiasaan). Suami saya bicara sepenuhnya bahasa Indonesia, bahkan setiap Rajata panggil ayahnya, akan dijawab dengan “dalem..”. Tapi setiap malam sebelum tidur kami biasakan baca buku bahasa Indonesia atau Inggris untuk Rajata.
Tentang biaya sekolah:
Dalam memilih sekolah kami juga tidak mau yang mahal ‘nggak keruan‘. Kami ingin memberi Rajata pendidikan bagus tapi juga masuk akal untuk ‘kantong’ keluarga. Kami lebih memilih untuk menabung sekarang, nanti kalau tiba saatnya Rajata diperlukan untuk berbahasa asing, kami ingin dia sekalian merasakan sekolah di luar Indonesia. Bukan cuma untuk sekedar belajar bahasa, tapi juga untuk membuka wawasan. Saya ingin anak saya punya wawasan luas, belajar tentang tempat lain, jadi lebih mandiri, dan to be well-travelled. Jadi bukan cuma bisa bahasa, tapi pikiran juga global/tidak sempit. Untuk saat ini Rajata sering tanya tentang arti suatu kata dalam bahasa Inggris, dia juga dapat pelajaran itu di sekolah. Sebisa mungkin kami mengajarkan berbahasa Inggris yang baik dan benar. Bagi saya itu sudah cukup untuk sekarang.

Sekolah pilihan:
Sekolah yang akhirnya menjadi pilihan kami adalah sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya, tapi alasannya bukan karena sekolah itu sudah established/sudah lama berdiri. Sekolah pilihan kami justru baru, tapi kami suka dengan cara guru mengajar, yang menggunakan sistem active learning. Sekeliling sekolah juga masih banyak ‘hijau’nya – rumput, pohon, tanaman, dll.
Alhamdullillah sudah dapat sekolah SD untuk Rajata. Saya juga sudah ajak dia ke sana dan dia bilang suka sama sekolahnya, karena banyak pohon, halaman dengan rumput dia bisa lari-lari, dan ada bajing :)
Pertimbangan lainnya dalam memilih sekolah:
Selain soal penggunaan bahasa, yang jadi pertimbangan adalah biaya, lingkungan, jarak (karena selama Rajata masih mau, saya memutuskan untuk antar jemput Rajata tanpa supir), dan kualitas/cara mengajar guru.
Yang paling penting kan anak kita akan menikmati waktunya di sekolah itu. Yang jadi pertimbangan juga saya nggak mau Rajata nanti merasa nggak enjoy di sekolah. Saya ingat waktu sekolah dulu saya menikmati sekali, sistem belajar di luar memang beda banget, mungkin itu salah satu alasan banyak orang tua memilih sekolah internasional untuk anaknya ya…
—————-
Terima kasih Sarah untuk waktu dan sharingnya. Setuju sekali bahwa anak juga harus dilibatkan dalam memilih sekolah dan kita sebagai orang tua harus mendengarkan pendapatnya. Karena mereka yang akan menjalaninya setiap hari, selama enam tahun (untuk SD). Lamanya waktu yang harus ditempuh pada jenjang sekolah dasar menjadikannya landasan yang sangat penting untuk kesuksesan akademik anak ditahap berikutnya.
9 Comments to “Sarah Sechan; Memilih Sekolah Untuk Anak”
Leave a respond...
Expert Corner
Expert Corner: Pengulangan Pre-eklamsia?
Expert Corner: Kelelahan Bekerja Menyebabkan Keguguran?
Expert Corner: Mengatasi Gigi yang Mulai Kuning
Expert Corner: Welcome dr. Ian!
Do you have any questions/concerns regarding your kids' health? Send them to us so one of our in houses expert can help you solve the problems :)
- Obgyndr. Indrawati Dardiri, SpOG
- Dentistdrg. Ivonne Teguh Sentosa
- Opthalmologistdr. Rozalina Loebis Z., SpM
- Family Doctordr. Farian Sakinah
Recent Articles
Banana Bread with Cinnamon
Jul 30, 2010
Keep your Eyes and Ears on your Nanny
Jul 29, 2010
Baby Feits Organic Cotton T-Shirt
Jul 28, 2010
Expert Corner: Perlukah Vaksin IPD?
Jul 27, 2010
Inside Langit’s “Kondangan” Bag
Jul 25, 2010
Recent Comments
- lita: ada di thread resep for toddler fi :D gampil beneran, pengen share ke blog,...
• Banana Bread with Cinnamon - Affi: Beli dong ren, oven listrik yang kecil2 aja, gue punya jg sebenernya kecil kok...
• Banana Bread with Cinnamon - Affi: It is very easy! Let me know how it goes :)
• Banana Bread with Cinnamon - Affi: Wah gimana tuh lit? Gue malah nggak tau :)
• Banana Bread with Cinnamon - Astrid: menurutku ini bener2 investasi yang jangka panjang ya… tidak...
• Investasi: Reksadana Untuk Pemula








Hanzky…nice topic. Terlebih untuk ibu-ibu yang sudah mulai window shopping nyari esde buat anaknya. ;)
Ngebayangin tahun lalu gw hunting kiri kanan nyari sekolah…dari esde negeri sampe swasta yg mahal gw datengin cuma untuk ngeliat proses belajar mengajar di sekolah nya…toilet pun gw liat :p *dasar parno*
Setuju, anak tetap harus di libatkan memilih sekolah. Karena dia yg akan merasakan proses belajar sampai 6 tahun kedepan
yup yup yup..pendidikan untuk anak memang penting, berhubung anakku masih berusia 8 bulan..tapi aku mencoba untuk mulai nabung dari sekarang..
nice topics!
gw jg rada kurang sreg sekolah pake multibahasa, penting sih, tp buat anak gw yang ngmong aja masih tahap belajar takutnya malah bingung *err..alasan emaknya juga sih ntar bingung kalo tiba2 anak gw ngajak ngmg mandarin :p *
*menghela napas, tahun ini si sulung waktunya masuk SD*
Saya termasuk yang sependapat dengan sekolah yg hanya menerapkan Bahasa Indonesia :) Ada yg tahu sekolah yg dimaksud Sarah Sechan di mana? *penasaran*
Iya, terutama penasaran karena ada bajingnya. Pasti anakku suka banget. Kayanya kalo ditengah kota nggak mungkin deh, mungkin di daerah yang agak kepinggir ya?
Iya..aku juga ingin tahu sekolah yang dimaksud Sarah dimana ya? *penasaran*
Check this link mommies, http://www.buahhati.net/?p=123
Buah Hati Parenting & Children’s Book punya buku ini, semoga bisa jadi panduan. Available at local bookstores.
Di buku ini dijelaskan pada intinya: school must shares same values with us.
Happy reading!
Saya dapat info dari twitter dan akhirnya google juga, sekolah yang dimaksud Sarah ini adalah SD Kupu-kupu, sekolah ini milik keluarga Daoed Joesoef, mantan Mendikbud (sekarang Mendiknas) di era Soeharto dulu. Yang menjadi Kepala Sekolah SD ini adalah anak perempuan tunggalnya seorang Doktor (PhD) yang dulunya dosen di IPB dan sekarang fokus di pengelolaan dan pengembangan SD ini.
Lokasinya di Jl Bangka Dalam VII (daerah Kemang), kalo gak salah tanahnya luas sekali beberapa ribu meter, keluarga Daoed Joesoef juga tinggal di sini (tentunya di bangunan yang berbeda dan berjarak dengan sekolahnya). Dulu keluarga Daoed Joesoef lama bermukim di luar negeri (di Prancis dan Amerika), sehingga sedikit banyak mereka banyak mengadopsi sistem ajar mengajar dan konsep pendidikan di luar negeri ke dalam kurikulum SD mereka. Pada dasarnya konsepnya active learning, yang sebenarnya bukan hal yang baru, banyak sekolah2 lain yang juga mengadopsi konsep ini. Tapi setelah saya riset di google saya dapat beberapa artikel tentang sekolah ini dan beberapa artikel wawancara dengan Kepseknya, juga banding2kan harganya dengan sekolah2 yang mengadopsi konsep sejenis, saya rasa SD ini biayanya cukup reasonable dan saya – entah mengapa – merasa (punya feeling) kalau ibu Yanti (anak Bpk Daoed Joesoef) ini punya komitmen yang kuat akan pendidikan yang bermutu di Indonesia dan tidak hanya mempertimbangkan sisi bisnis/komersilnya.
Banyak sekolah bagus di Jakarta, tapi menurut saya biaya yang dipungut sangat tidak masuk akal, secara prinsip agak bertentangan dengan hati nurani saya, karena pada dasarnya menurut saya pribadi, pendidikan itu harus gratis buat negeri (masih ada yang pungut bayaran sembarangan) dan buat swasta harus tetap terjangkau dan masuk akal karena sebenarnya mencerdaskan kehidupan bangsa kan tugas negara juga toh. kalau hanya “ngegedein” sisi komersil/bisnisnya, rasanya kok salah sekali dan tidak cocok bersanding dengan tujuan mulia pendidikan.
Anak saya masih pre-school, tapi saya tertarik sekali dengan SD Kupu-Kupu ini, satu hal yang saya sesali, website mereka kok ya kurang memadai, padahal hari gini, orang2 riset info kan lewat internet, mbok ya websitenya di update untuk memudahkan masyarakat.