Dari ‘Congklak’ Hingga ‘Do Mi Ka Do’

Tidak ada yang bisa menggantikan permainan tradisional lompat tali dari karet gelang, Ular Naga, Tak Benteng, Gobak Sodor–yang kata Mama aku (gaya disesuaikan dengan umur saat saya masih melakukan permainan-permainan ini :D) berasal dari kata “go back through door”) — dan main masak-masakan mi dengan daun mangkok sebagai mangkoknya dan serat berwarna kekuningan dari tumbuh-tumbuhan yang saya lupa namanya, sebagai mi-nya.

Permainan seperti ini sudah jarang dimainkan. Sekarang anak-anak lebih banyak bermain mainan seperti game, baik di komputer maupun dengan perangkat genggam, padahal permainan tradisional banyak yang bersifat mendidik, mengajak anak untuk bergerak karena melibatkan fisik, dan yang terutama adalah melatih kemampuan sosial anak.

Saya tumbuh di awal tahun 1970-an, di mana semua murid masih bermain petak umpet atau main bekel bersama saat istirahat sekolah, dan anak-anak tetangga berkumpul untuk bermain pada sore hari setelah tidur siang. Jadi, ketika melihat buku ini di toko buku Gramedia, saya tersenyum mengingat masa kecil.

Di dalamnya terdapat lebih dari 100 macam permainan tradisional anak-anak Indonesia yang dibagi berdasarkan kategori-kategori permainan di luar rumah, permainan di dalam rumah, permainan rakyat 17 Agustusan, dan permainan pengundian. Setiap permainan dilengkapi dengan informasi jumlah pemain, lokasi permainan, dan tentu saja cara bermain.

Tidak mungkin buku ini tidak saya beli. Maunya, sih, Ben juga bisa bermain Congklak (koleksi papan congklak saya ada sekitar 20 buah; suami sudah diajari, berikutnya giliran anak), Ular Naga, bahkan Sedang Apa dan Do Mi Ka Do. Yang agak PR sih kalau mau mengajarkan Balap Bakiak. Mau nyari dimana material bakiak di Amerika? :D

Sumber foto: cepsmanshur.co.cc dan pribadi


24 Comments - Write a Comment

Post Comment