You Might Need to Know: Kawasaki Syndrome

No, no. Ini bukan sepeda motor Kawasaki. Memang tak terlalu banyak orangtua muda yang mengenal penyakit satu ini. Padahal, penyakit ini sangat berbahaya dan gejala awalnya seperti demam biasa. Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi kepada pembaca Mommies Daily pengalaman berharga yang saya dan suami rasakan di akhir Oktober 2007 tentang penyakit mematikan ini.

Sebagai orangtua baru (Makaio lahir bulan Oktober 2006) yang tergolong “cuek”, saya dan suami tidak rajin membaca informasi penyakit-penyakit anak yang berkembang di dunia. Yang kami tahu, Maka adalah anak alergi yang cukup serius. Di umurnya yang satu tahun saat itu, Maka belum bisa makan seafood, kacang-kacangan, dan bahkan susunya pun harus susu khusus hypo-allergenic. Dan, karena alerginya itu, dia sering diserang batuk pilek yang selalu disertai muntah. Oh ya, dia lahir dengan berat badan rendah dan klep lambung yang belum sempurna (reflux), jadi setiap kali kesehatannya terganggu dia pasti muntah-muntah.

Di bulan Oktober itu, beberapa hari setelah Lebaran, Maka terkena batuk pilek disertai muntah-muntah, yang membuat suhu badannya mulai merangkak naik. Kami menduga dia masuk angin karena sehari sebelumnya kami sekeluarga berenang ke pantai Ancol. Kami membawanya ke dokter dan sudah diberi obat. Tapi, sampai hari ke-4, batuknya tidak berkurang dan dia tidak mau makan/minum susu. Panasnya semakin tinggi. Akhirnya kami bawa dia ke rumah sakit cukup terkenal yang tidak terlalu jauh dari rumah. Dia sudah langganan ke salah satu dokter yang khusus menangani batuk pilek serta asmanya. Diputuskan Makaio harus dirawat. Kami setuju, karena diinfus adalah satu-satunya jalan supaya dia tidak kekurangan cairan. Dokter meyakinkan kami bahwa Maka akan bisa keluar dalam 1-2 hari saja. Darahnya dicek, dan dia juga dirujuk ke dokter THT. Hasilnya, lekositnya tinggi, trombositnya juga meningkat. Tapi, dokter THT menyatakan tidak ada infeksi telinga.

Satu malam menginap, kondisi Maka ternyata makin memburuk. Obat batuknya tidak bereaksi, dan infus tak membantu menurunkan panasnya. Sialnya lagi, dokter yang merawatnya akan cuti panjang esok harinya. Jadi Maka dirujuk ke dokter lain di rumah sakit itu. Karena tidak kenal, saya dan suami lalu memindahkan Maka ke rumah sakit lain yang salah satu dokternya pernah merawat alerginya.

Saat diboyong ke rumah sakit kedua, kondisi Maka semakin aneh. Matanya merah dan banyak kotorannya. Lalu di punggungnya ada bercak merah seperti kecipratan tinta. Dokter di rumah sakit kedua dengan sigap memberi obat yang saya lupa apa namanya, yang dengan cepat menurunkan panasnya. Setelah di-usg, dokter mendiagnosa infeksi saluran kencing dan radang tenggorokan.

Lega karena panasnya turun, saya kira badai sudah lewat. Hari berikutnya, telapak kakinya mulai bengkak. Bibir dan lidahnya mulai merah. Saat itulah sang dokter kedua menyebut Kawasaki Syndrome untuk pertama kalinya. Dokter itu mengatakan, ini baru kemungkinan. Dan beliau akan memberi obat Immunoglobulin, hanya untuk jaga-jaga saja. Maka juga dirujuk ke dokter jantung anak. Lho, apa hubungannya dengan jantung???

Penasaran dan setengah panik, bapaknya langsung browsing Kawasaki Syndrome. Info yang kami dapat ternyata sangat mengejutkan! Penyakit ini ditemukan oleh seorang dokter Jepang, Dr. Tomisaku Kawasaki, di tahun 1967. Karena itu disebut penyakit Kawasaki. Katanya, penyakit ini menyerang anak rata-rata usia 1-10 tahun, dan mayoritas ras Jepang dan Korea. Sebagian gejalanya persis dengan yang dialami Maka: panas tinggi yang tidak turun dengan pemberian paracetamol, infeksi saluran kencing, mata merah, bibir dan lidah merah (strawberry tongue), bercak merah di tubuh, telapak tangan/kaki bengkak, dan peningkatan trombosit.

Gejala lainnya: terjadi pengentalan darah, pembengkakan cardiovascular, pembengkakan pada liver, peningkatan detak jantung, kulit kuku-kuku kaki dan tangan terkelupas dan berujung pada kerusakan jantung permanen. Jika tidak ditangani dengan benar, bisa menyebabkan kematian. Penyebab penyakit ini sendiri tidak diketahui secara pasti, dan obatnya hanya satu, Immunoglobulin. Immunoglobulin, atau bisa disebut juga Gamma Globulin adalah semacam protein antibodi yang dapat dengan signifikan meningkatkan kekebalan tubuh.

Setelah infus Immonoglobulin satu botol, disertai beberapa obat lain, kondisi Maka akhirnya membaik dan boleh pulang. Mengingat akibat penyakit ini sangat serius, sepulang dari RS kedua, saya dan suami membawa Maka ke dokter spesialis jantung anak yang juga murid dari dr. Kawasaki sendiri, dr. Najib Advani.

Karena semua gejalanya sudah tidak kelihatan, dr. Najib sulit mendeteksi apakah Maka benar-benar terkena Kawasaki Syndrome atau bukan. Yang jelas, dosis Immunoglobulin yang sudah diterima Maka tidak cukup, bila ia memang kena Kawasaki. Kami pulang dan berpikir, apakah akan memasukkan Maka ke RS ketiga untuk pemberian Immunoglobulin lanjutan, atau diam saja. Pertimbangan kami, saat itu Maka sudah trauma dengan rumah sakit dan jarum suntik. Ia menjerit-jerit tidak karuan setiap kali melihat dokter atau perawat. Malamnya, gejala lain yang sangat bizzare di mata kami, muncul. Kulit di sekitar kuku-kuku tangannya mengelupas, dan kukunya seperti mau copot! Dalam hitungan menit, kesepuluh jari tangannya mengalami hal serupa.

Besoknya, kami kembali ke dr. Najib. Kami menginap di rumah sakit ketiga, di dalam ruang isolasi tanpa jendela. Hal ini karena penderita Kawasaki Syndrome kekebalan tubuhnya sangat drop dan bisa terjadi komplikasi kalau sampai ketularan penyakit lain. Dia kembali diberi infus Immunoglobulin sebanyak sepuluh botol selama 3 hari 2 malam, dan terus dipantau kondisi jantungnya.

Hari ketiga, dia dinyatakan aman dari Kawasaki Syndrome dan kondisi jantungnya normal. Suhu tubuhnya masih di atas 37 derajat, jadi dr. Najib belum mengizinkan pulang. Tapi, melihat kondisi psikis Maka yang sangat rewel di sana, dan saya pun sudah nyaris sinting karena bolak-balik masuk rumah sakit selama dua minggu, kami memaksa pulang ke rumah. Dua minggu kemudian, kami kembali ke dr. Najib untuk konsultasi dan beliau menyatakan Maka sudah baik-baik saja.

Puluhan juta kami habiskan (satu botol Immunoglobulin harganya berkisar 1,7-2,5jt, tergantung charge dari rumah sakit) untuk menyembuhkan Maka. Traumanya pun cukup lama baru hilang. Tapi, kami lega dia pulih 100% dari penyakit aneh dan mengerikan ini.

Semoga bermanfaat! :)

Learn more about Kawasaki Syndrome here !

This story is written by Erwen. Thank you so much for sharing this important story for us, Erwen. Glad that Maka is healthy now :)


38 Comments - Write a Comment

Post Comment